Mon,10 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tiket Lungsuran

Tiket Lungsuran

tiket-lungsuran
Tiket Lungsuran
service
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

Oleh: Dahlan Iskan

“Kok tahu ya?”

“Tahu apa?” tanya teman dari Beijing yang gabung di New York sehari setelah kedatangan saya. Tiket Lungsuran “Itu lho. Ada pembaca Disway bernama Putu yang tahu bahwa saya akan nonton sepak bola Piala Dunia pakai tiket lungsuran,” jawab saya dengan tertawa lebar. Saya pun menunjukkan salah satu komentar di edisi Disway kemarin dulu.

bank BJB

Tiket Lungsuran

Teman dari Beijing itu memang rajin membaca tulisan saya di Disway, lewat aplikasi terjemahan ke bahasa Mandarin. Dia juga jadi ”marketing” Disway di Tiongkok mengajak jaringannya membaca Disway dengan cara yang sama. “Ingin tahu dalamnya Indonesia tidak bisa hanya lewat berita biasa,” katanyi selalu.

Komentar ”perusuh” Disway yang bernada mengejek itu sungguh benar adanya. Saya nonton Piala Dunia, besok, pakai tiketnya James F. Sundah.

Anda sudah tahu siapa James Sundah: pencipta lagu-lagu abadi, salah satunya Anda sudah sering menyanyikannya: Lilin-lilin Kecil. James meninggal dunia 40 hari lalu.

Saya hadir di kebaktian 40 harinya di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Emanuel di Queens, New York.


Dahlan Iskan berfoto bersama keluarga, pendeta, dan jemaat usai menghadiri kebaktian mengenang mendiang James F. Sundah di GKPI Emanuel, Queens, New York.–

James jemaat di gereja itu meski istrinya, Lia, tetap Katolik. Lia sering ikut suami kebaktian di situ dan suami sering ikut Lia misa di gereja Katolik.

“GKPI di sini merupakan gereja independen,” ujar pendeta Rolland Samson. Penjelasan itu sekaligus sebagai ralat saya saat memberi sambutan di altar yang saya kira GKPI Queens bagian dari GKPI yang sinode pusatnya di Pematang Siantar itu.

Begitu mendarat di bandara JFK saya minta izin ke Lia untuk tidak lagi tidur di rumahnyi. James sudah meninggal. Lia sendirian di rumah itu.

“Saya sudah siapkan kamarnya,” ujar Lia, pianis klasik lulusan sekolah musik di Boston yang kemudian jadi pengacara di New York. “Saya bisa tidur di rumah satunya,” kata Lia.

“Tidak,” jawab saya. “Saya sudah beli kamar hotel di Manhattan,” kata saya.

Seandainya James masih ada saya bisa berhemat Rp 50 juta. Hotel di New York begitu mahal ada Piala Dunia dan kurs rupiahnya itu lho, berasa banget.

Hotel yang hanya bintang empat ini Rp 8 juta/malam. Tambah sekali sarapan sederhana Rp 2 juta. Padahal sarapannya hanya tiga menu: tiga biji telur rebus, bubur oatmeal, dan roti Brooklyn Bagel satu biji.

Sebagai ganti tidak mau tidur di rumah Lia, saya minta dari bandara langsung ke makam. Sampai 40 harinya itu tiap hari Lia masih ke makam James. Masih menangis. Masih bicara sendiri dengan suami seolah James masih di sampingnyi.

Makamnya tidak jauh dari rumahnyi: 15 menit. Ini makam Katolik yang sudah ratusan tahun umurnya. Besar sekali. Nisan-nisannya banyak yang sudah kuno dan begitu di dalamnya terasa seperti lagi ikut tampil di adegan pemakaman film The Godfather.

Di situ James bisa satu ”RT” dengan keluarga orang-orang terkenal. Juga dengan tokoh masa silam yang terhubung dengan keluarga The Godfather. Nama-nama di makam ini mayoritas memang nama Italia.

Dari makam itulah kami ke gereja: kebaktian 40 hari James. Khotbah pak pendeta Rolland Samson mengenai kelahiran Ismail, anak Ibrahim dari istri Hagar (Hajar): bagaimana sang ibu bersusah payah cari air ke gunung untuk bayinya sampai Tuhan membukakan mata Hagar bahwa di situ ada sumber air yang tadinya tidak terlihat. Lia yang lagi susah bisa belajar dari kisah penderitaan Hagar yang terbuang saat itu.

Kebaktian pun diakhiri dengan sambutan saya dan Lia. Lalu makan malam yang salah satu menunya: daging rendang.

Lia masih harus menjamu banyak tamunyi di gereja itu. Jangan tinggalkan mereka untuk mengantar saya ke hotel. Lia pun minta putranyi, Ericjuno, yang antarkan saya ke hotel.

Untuk malam pertama itu saya pilih hotel di Long Beach. Keesokan harinya baru ke Manhattan. Ini sama juga mahalnya dengan yang di Manhattan. Hanya agar Eric tidak terlalu jauh pulang ke rumahnya di daerah itu. Dan lagi besok paginya teman dari Indiana terbang ke New York untuk bertemu saya. Bisa bertemu di rumah Lia yang di Long Beach.

Anda juga sudah tahu nama teman dari Indiana itu: Maya. Mayasari. Yang bikin pabrik tempe di Amerika dan kini berkembang dengan sangat baik: Maya Tempeh.

Maka ”perusuh” yang tulisannya bermutu seperti Agus Suryonegoro juga benar dalam segala prediksinya: saya ke New York untuk nonton Piala Dunia tapi tidak hanya itu.

Kombinasi perkiraan Bung Agus benar semua (Disway 24 Juni 2026: Wani 2727). Saya tidak bisa bersembunyi lagi: perusuh bisa menebak apa pun langkah saya. Ke mana pun.(Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.