Arina.id – Di suatu Jumat, ada seseorang yang pergi melaksanakan sholat Jumat di masjid. Ia sampai di masjid saat khatib sedang berkhutbah. Ia pun mencari shaf yang kosong dan melakukan sholat sunnah qabliyah Jumat terlebih dahulu sebelum duduk mendengarkan khutbah.
Namun, penulis mendapat teguran verbal dari sang khatib dalam khutbah yang disampaikan di masjid ormas tertentu ini dengan kalimat kurang lebih seperti berikut: “Kita sebagai warga organisasi yang baik sudah seharusnya mempelajari tata cara ibadah dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan buku panduan ibadah yang telah diterbitkan oleh organisasi. Di dalam buku panduan sudah dijelaskan bahwa jamaah Jumat wajib mendengarkan khutbah dengan seksama dan tidak melakukan aktivitas fisik bahkan sholat sunnah.”
Lalu sebenarnya, bagaimana hukum sholat sunnah saat khatib menyampaikan khutbahnya? Memang terdapat sebuah catatan terkait larangan untuk melakukan sholat ketika khatib sudah masuk dalam rangkaian khutbah. Larangan tersebut berlaku juga untuk sholat qadha yang baru diingat ketika khutbah sedang berlangsung.
Berikut catatannya:
وتكره تحريما ولو لمن لم تلزمه الجمعة بعد جلوس الخطيب على المنبر: وإن لم يسمع الخطبة صلاة فرض ولو فائتة تذكرها الآن وإن لزمته فورا أو نفل ولو في حال الدعاء للسلطان والأوجه أنها لا تنعقد كالصلاة بالوقت المكروه بل أولى.
Artinya: “Makruh tahrim bagi seseorang jamaah untuk melakukan sholat fardhu meskipun qadha yang baru diingat, atau sholat sunnah saat setelah khatib duduk di atas mimbar, meskipun bagi yang tidak wajib melakukan sholat Jumat, meskipun seseorang tersebut tidak mendengarkan khutbah, dan meskipun ketika mendoakan pemerintah. Pendapat yang paling aujah mengatakan bahwa sholat itu tidak sah sebagaimana kasus dalam auqatul makruhah, bahkan lebih utama.” (Ahmad bin Abdul Aziz al-Malibari, Fathul Mu’in bi Syarh Qurratil Ain, [Beirut: Dar Ibn Hazm], hlm. 208.).
Catatan al-Malibari tersebut menunjukkan bahwa waktu saat khutbah disampaikan adalah auqatul makruhah, yaitu waktu-waktu yang makruh tahrim untuk melakukan sholat sunnah yang tidak mempunyai faktor pendahulu untuk dilakukan atau sholat sunnah mutlak. Waktu tersebut seperti setelah fajar subuh hingga terbitnya matahari setinggi tombak, setelah sholat asar hingga terbenamnya matahari dan waktu istiwa.
Dalam auqatul makruhah, seseorang masih boleh melakukan sholat yang mempunyai faktor pendahulu. Semisal dia selesai berwudhu di waktu itu maka masih boleh melakukan sholat sunnah ba’dal wudhu. Begitu juga sholat ba’da shafar, yaitu sholat yang dilakukan setelah datang dari bepergian jauh.
Namun, dalam waktu khutbah semua sholat sunnah tidak boleh dilakukan, meskipun sholat sunnah yang mempunyai sebab atau faktor sebelumnya. Sebagaimana catatan berikut:
و يحرم على الحاضرين “الصلاة” إجماعًا ولا تنعقد وإن كان لها سبب أو كانت فائتة بغير عذر “إذا صعد الخطيب المنبر” وجلس وإن لم يشرع في الخطبة ولا سمعها المصلي لإعراضه عنها بالكلية إذ من شأن المصلي الإعراض عما سوى صلاته
Artinya: “Haram bari orang yang hadir (sholat Jumat) untuk melakukan sholat menurut ijma ulama, dan tidak sah sholatnya, meskipun sholat yang mempunyai sebab, atau sholat qadha tanpa udzur, ketika khatib sudah naik ke mimbar dan duduk, meskipun belum memulai khutbah, dan atau khutbahnya tidak terdengar oleh para jamaah, sebab tindakan itu merupakan bentuk berpaling secara total dari khutbah, sebab seseorang yang sholat dia sejatinya berpaling dari segala sesuatu selain sholatnya.” (Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami, Minhajul Qawim, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2000], hlm. 76.).
Kedua catatan ini membenarkan ucapan khatib. Namun jika melihat rentetan catatan terkait problematika ini, terdapat pengecualian terhadap sholat sunnah yang masih diperbolehkan. Shaolat ini dilakukan atas dasar sholat sunnah tahiyat masjid. Sebagaimana catatan berikut:
وَيُسْتَثْنَى التَّحِيَّةُ لِدَاخِلِ الْمَسْجِدِ وَالْخَطِيبُ عَلَى الْمِنْبَرِ فَيُسَنُّ لَهُ فِعْلُهَا وَتَخْفِيفُهَا وُجُوبًا هَذَا إنْ كَانَ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ وَإِلَّا صَلَّاهَا مُخَفَّفَةً وَحَصَلَتْ بِهَا التَّحِيَّةُ وَلَا يَزِيدُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ بِكُلِّ حَالٍ
Artinya: “Dikecualikan dari ketentuan tersebut, sholat sunnah tahiyat masjid bagi orang yang masuk masjid sedangkan khatib berdiri di atas mimbar, maka baginya disunnahkan untuk melakukannya, dan wajib mempercepatnya. Ini demikian jika dia sudah melakukan sholat sunnah qabliyah Jumat (sebelum masuk masjid). Jika belum, maka dia bisa melakukan sholat sunnah qabliyah Jumat dengan ringkas dan dia bisa mendapatkan pahala sholat tahiyat masjid. Dan dia tidak boleh menambah lebih dari dua rakaat dengan alasan apapun.” (Sulaiman bin Umar al-Jamar, Futuhatul Wahhab bi Taudhihi Syarh Manhaj Tullab, [Beirut: Darul Fikr], vol. 2, hlm. 31.).
Catatan al-Jamal tersebut banyak ditemukan di berbagai tulisan fikih Islam madzhab Syafi’i. Catatan itu memberikan jawaban bahwa secara keilmuan fikih Islam, diperbolehkan melakukan sholat sunnah sunnah saat khatib sedang berkhutbah, khususnya persepektif madzhab Syafi’i. Wallahu a’lam.





Comments are closed.