
Barangkali memang ada baiknya politik sesekali diajak duduk di serambi rumah. Tidak untuk dipuja, apalagi dimusuhi, melainkan diajak berbincang seperti kita berbincang tentang sawah yang mulai mengering atau anak-anak yang satu per satu memilih merantau ke kota. Politik, pada akhirnya, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia menentukan harga beras, menentukan apakah seorang guru dihormati, apakah petani masih memiliki tanah, atau apakah seorang ibu masih bisa tersenyum ketika pulang dari pasar.
Saya sering berpikir, mungkin sebuah negara memang memerlukan ruang yang agak steril dari hiruk-pikuk perebutan kuasa agar dapat mulai membangun dirinya. Sebab ketika setiap jengkal kehidupan ditarik menjadi arena politik, yang tumbuh bukanlah ketenangan, melainkan kecurigaan yang tidak pernah selesai. Tetapi sejarah mengajarkan bahwa pergantian kekuasaan tidak selalu berarti pergantian arah kehidupan.
Tahun 1965 menjadi penanda sebuah babak. Tahun 1998 menjadi juga menjadi penanda babak berikutnya. Keduanya diperingati sebagai momentum perubahan besar. Namun, setelah debu-debu sejarah itu mengendap, pertanyaan yang sesungguhnya justru muncul belakangan: apakah perubahan itu sungguh mengubah dasar berpikir bangsa? Ataukah hanya mengganti para pemain di atas panggung, sementara naskahnya tetap ditulis oleh tangan yang sama?
Jawaban atas pertanyaan itu barangkali tidak sesederhana hitam dan putih. Tetapi sering kali perubahan yang terjadi lebih banyak menyentuh wajah luar daripada isi rumahnya. Seperti ketika pemerintah kolonial dahulu memperkenalkan Politik Etis. Sekilas tampak membawa kemajuan—pendidikan dibuka, birokrasi diperluas, kaum terpelajar dilahirkan. Namun pada akhirnya, semua itu tetap disusun agar bangunan kekuasaan kolonial berdiri semakin kokoh. Yang berubah adalah cara mengelola, bukan siapa yang diuntungkan. Begitulah sejarah bekerja. Ia tidak selalu berjalan lurus. Kadang berputar dengan pakaian yang berbeda.
Gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil juga demikian. Dalam setiap zaman mereka hadir membawa harapan. Semangatnya lahir dari kegelisahan terhadap ketidakadilan. Itu sesuatu yang mulia. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, gerakan-gerakan semacam itu hampir selalu mengikuti arus pemikiran global yang sedang dominan.
Pada awal abad kedua puluh, misalnya, kebangkitan kaum muda beriringan dengan lahirnya gagasan negara-bangsa. Nasionalisme menjadi bahasa bersama bagi bangsa-bangsa yang ingin merdeka. Sesudah dua perang dunia, lahirlah banyak negara baru dengan payung Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dunia seperti memasuki babak yang lebih manusiawi.
Tetapi sejarah ternyata memiliki lapisan-lapisan yang tidak selalu tampak di permukaan. Di balik kemerdekaan politik, perlahan tumbuh bentuk-bentuk pengaruh baru yang tidak lagi dijalankan melalui kapal perang atau tentara kolonial. Pengaruh itu bekerja melalui modal, lembaga keuangan, perdagangan internasional, serta korporasi-korporasi lintas negara. Penjajahan tidak lagi datang membawa meriam; ia datang membawa kontrak, pinjaman, investasi, dan istilah-istilah ekonomi yang terdengar ilmiah.
Tahun 1965 lahir di tengah suhu Perang Dingin ketika dunia dipaksa memilih dua kutub kekuasaan. Tahun 1998 berlangsung ketika gelombang liberalisasi ekonomi sedang mencapai puncaknya. Demokrasi liberal, perdagangan bebas, dan pertumbuhan ekonomi diperlakukan seolah-olah merupakan rumus yang berlaku untuk seluruh bangsa tanpa kecuali. Kini dunia kembali berubah.
Kutub-kutub lama mulai kehilangan tenaga. Dunia yang dahulu memiliki satu pusat pengaruh perlahan bergeser menuju konfigurasi yang lebih majemuk. Anehnya, pada saat yang sama, sebagian gerakan masyarakat sipil masih menggunakan perangkat berpikir yang dibangun untuk menjawab persoalan dunia tiga puluh atau lima puluh tahun yang lalu. Seolah-olah resep lama masih cukup untuk menyembuhkan penyakit yang sudah berubah bentuk.
Mungkin di situlah kegelisahan kita sekarang. Banyak slogan yang dulu dianggap nyaris suci mulai kehilangan dayanya. Perdagangan bebas ternyata melahirkan ketimpangan baru. Demokrasi liberal tidak selalu berhasil menghadirkan keadilan. Pertumbuhan ekonomi sering kali hanya memperbesar angka-angka, sementara kehidupan sebagian rakyat tetap berjalan di tempat. Dunia seperti sedang kehilangan cerita besar yang selama ini diyakininya.
Ketika sebuah peradaban kehilangan cerita yang dapat dipercaya bersama, yang muncul biasanya bukan keteraturan, melainkan kebingungan. Orang-orang bergerak ke mana-mana, tetapi tidak lagi benar-benar tahu hendak menuju ke mana. Barangkali inilah masa ketika kita sedang menyaksikan metamorfosis panjang peradaban Barat. Pilar-pilar yang selama dua abad menopang dunia modern—perbankan global, pasar bebas, dan nasionalisme yang diarahkan oleh kepentingan ekonomi internasional—sedang mengalami ujian yang tidak ringan. Yang berubah bukan sekadar pemerintahan suatu negara, melainkan tata cara dunia mengatur dirinya sendiri.
Dalam keadaan seperti ini, bangsa-bangsa tidak cukup hanya memiliki orang-orang yang pandai berteriak di jalan atau piawai menyusun petisi. Niat baik selalu penting, tetapi sejarah menunjukkan bahwa niat baik saja jarang cukup. Perubahan memerlukan kesadaran geopolitik, kemampuan membaca arah zaman, sekaligus keberanian menyusun kekuatan politik yang sanggup menjaga cita-cita setelah kemenangan diraih. Namun, di atas semua itu, mungkin ada pekerjaan yang jauh lebih sunyi.
Yakni menggali kembali sumber-sumber moral dan spiritual yang tumbuh dari pengalaman panjang bangsa sendiri. Bukan untuk menolak dunia luar, melainkan agar kita mempunyai pijakan ketika angin zaman berubah arah. Sebab nilai-nilai yang tumbuh dari kebudayaan sendiri sering kali justru memiliki daya hidup yang lebih panjang daripada ideologi-ideologi yang lahir dari pergantian musim politik dunia. Mungkin bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang lebih kita perlukan adalah orang-orang yang sanggup membaca sejarah bukan sebagai daftar kemenangan dan kekalahan, melainkan sebagai cermin untuk memahami ke mana sesungguhnya kita hendak berjalan.[]





Comments are closed.