
Kalau sore mulai turun, suara televisi dari rumah-rumah kampung biasanya bercampur dengan bunyi sendok yang mengaduk teh. Di gardu, para bapak mulai membicarakan harga beras. Di dapur, ibu-ibu menghitung lagi uang belanja yang rasanya selalu kurang beberapa lembar. Anak-anak masih bermain bola di jalan sempit, seolah dunia memang belum pernah punya persoalan.
Negeri ini, sebenarnya, paling mudah dibaca dari meja makan. Di situlah kita tahu siapa yang menambah nasi dua kali, siapa yang diam-diam mengurangi jatahnya agar anaknya tetap kenyang. Di situlah juga kita mengerti bahwa statistik kemiskinan tidak pernah benar-benar bisa menggambarkan wajah seorang ibu yang pura-pura sudah makan. Dulu orang-orang tua sering mengibaratkan negeri sebagai perahu. Barangkali karena mereka tahu, hidup memang seperti mengarungi sungai yang panjang. Semua penumpang harus menjaga keseimbangan. Kalau satu orang berdiri sendiri sambil membawa beban terlalu banyak, perahu akan oleng. Kalau ada yang sengaja melubangi lambungnya demi mengambil ikan lebih banyak, tenggelamnya bukan hanya dia. Celakanya, sekarang banyak orang merasa dirinya bukan lagi penumpang. Mereka merasa pemilik perahu.
Maka layar dikibarkan hanya untuk dirinya sendiri. Dayung dipakai mengarahkan arus menuju kepentingannya sendiri. Bahkan ada yang menganggap laut ini diwariskan khusus kepada keluarganya. Yang lain cukup menjadi penonton, atau kalau perlu menjadi pendayung yang tak pernah diajak menentukan arah. Di sinilah rasa heran itu tumbuh. Bukan heran karena negeri ini punya masalah. Negeri mana yang tidak? Yang menggelitik justru bagaimana kita mulai terbiasa dengan ketimpangan. Orang kaya makin dipuji karena kekayaannya, bukan karena kemurahan hatinya. Orang berkuasa makin dihormati karena jabatannya, bukan karena kebijaksanaannya.
Dulu para priyayi masih diajari satu perkara yang sederhana: semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin halus ia menanggung beban orang lain. Wibawa bukan berasal dari suara keras atau pagar rumah yang tinggi, melainkan dari kesediaan menahan diri agar orang lain ikut merasakan hidup yang layak. Sekarang ukuran keberhasilan perlahan bergeser. Yang dipamerkan bukan lagi kebijaksanaan, melainkan kendaraan. Bukan lagi pengabdian, melainkan akses. Bahkan kadang-kadang jabatan hanya dipandang sebagai jalan pintas menuju kemewahan. Anak-anak tumbuh melihat bahwa yang penting bukan menjadi orang baik, tetapi menjadi orang yang dekat dengan pusat kekuasaan.
Di kampung, perubahan seperti itu terasa pelan-pelan. Warung kopi masih buka. Azan tetap berkumandang. Hajatan masih ramai. Namun obrolan orang-orang berubah. Mereka makin sering membicarakan siapa yang mendapat proyek, siapa yang mendapat jabatan, siapa yang punya “orang dalam”. Seolah-olah kejujuran bukan lagi modal hidup, melainkan cerita lama yang cocok dikenang tetapi terlalu mahal untuk dipraktikkan. Padahal sawah masih membutuhkan petani yang jujur kepada musim. Laut masih membutuhkan nelayan yang sabar kepada ombak. Anak-anak masih membutuhkan orang tua yang pulang membawa keteladanan, bukan sekadar uang.
Negeri ini sesungguhnya tidak retak karena kekurangan sumber daya. Ia retak ketika rasa memiliki berubah menjadi rasa menguasai. Ia retak ketika tanah yang mestinya menjadi anugerah bersama diperlakukan seperti warisan pribadi. Ia retak ketika meja makan sebagian orang semakin penuh, sementara semakin banyak meja lain kehilangan lauk, bahkan kehilangan harapan.
Mungkin itulah sebabnya lagu-lagu lama masih terdengar baru. Bukan karena nadanya, melainkan karena kegelisahannya belum selesai. Kita masih bertanya-tanya mengapa yang benar sering tersisih, mengapa yang salah justru bertahan. Kita masih heran mengapa satu orang bisa hidup dalam kemewahan yang sulit dihitung, sementara ribuan orang sibuk menghitung sisa uang sebelum akhir bulan.
Tetapi orang-orang tua di kampung juga mengajarkan satu hal. Perahu tidak diperbaiki dengan saling berteriak dari ujung ke ujung. Perahu diperbaiki ketika semua penumpangnya sadar bahwa kalau lambungnya retak, air tidak memilih siapa yang akan ditenggelamkan. Sebab pada akhirnya, kita semua berada di perahu yang sama.[]
Diinspirasi dari lagu “Perahu Retak” Emha Ainun Nadjib, Franky Sahilatua.
Perahu negeriku, perahu bangsaku
menyusuri gelombang
semangat rakyatku, kibar benderaku
menyeruak lautan
langit membentang cakrawala di depan
melambaikan tantangan
di atas tanahku, dari dalam airku
tumbuh kebahagiaan
di sawah kampungku, di jalan kotaku
terbit kesejahteraan
tapi kuheran di tengah perjalanan
muncullah ketimpangan
aku heran, aku heran
yang salah dipertahankan
aku heran, aku heran
yang benar disingkirkan
perahu negeriku, perahu bangsaku
jangan retak dindingmu
semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
jangan terantuk batu
tanah pertiwi anugerah ilahi
jangan ambil sendiri
tanah pertiwi anugerah ilahi
jangan makan sendiri
aku heran, aku heran
satu kenyang, seribu kelaparan
aku heran, aku heran
keserakahan diagungkan
perahu negeriku, perahu bangsaku
menyusuri gelombang
semangat rakyatku, kibar benderaku
menyeruak lautan
langit membentang cakrawala di depan
melambaikan tantangan
di atas tanahku, dari dalam airku
tumbuh kebahagiaan
di sawah kampungku, di jalan kotaku
terbit kesejahteraan
tapi kuheran di tengah perjalanan
muncullah ketimpangan
aku heran, aku heran
Yang salah dipertahankan
aku heran, aku heran
Yang benar disingkirkan
aku heran, aku heran
satu kenyang, seribu kelaparan
aku heran, aku heran
keserakahan diagungkan





Comments are closed.