Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein

Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein

ketika-candaan-melanggengkan-seksisme:-membaca-polemik-lagu-om-zein
Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein
service

Mubadalah.id – Kebebasan berekspresi melahirkan berbagai karya seni. Namun, setiap karya tetap membawa tanggung jawab sosial, terutama jika lahir dari seorang pejabat publik. Polemik Lagu Om Zein merendahkan perempuan. Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya menilai sebuah lagu dari niat penciptanya. Publik juga menilai pesan yang terkandung di dalamnya.

Lagu berbahasa Sunda itu memicu kritik luas. Banyak orang menilai liriknya merendahkan perempuan. Alih-alih menjadi refleksi pribadi, lagu itu justru menjadikan tubuh, pengalaman reproduksi, dan kehidupan perempuan sebagai bahan candaan. Akibatnya, publik memperluas pembahasan hingga menyentuh isu seksisme, budaya patriarki, dan tanggung jawab pejabat publik dalam menyampaikan pesan di ruang publik.

Lirik yang Merendahkan Perempuan

Perdebatan muncul setelah publik menyoroti sejumlah lirik yang mengandung stereotip gender. Salah satu bait berbunyi, Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali atau Andai saja menjadi perempuan, saat kelas tiga SMP sudah keguguran tujuh kali.

Lirik lain berbunyi, Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu (tidak perlu membeli bra yang ukurannya lebih besar dari payudara) dan Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan (tidak perlu berkeliling mencari apotek karena terlambat haid).

Lirik-lirik tersebut tidak hanya menghadirkan humor vulgar. Lagu Om Zein merendahkan perempuan itu menjadikan tubuh perempuan, menstruasi, kehamilan, dan keguguran sebagai bahan lelucon. Padahal, semua pengalaman itu merupakan bagian dari kesehatan reproduksi perempuan. Masyarakat seharusnya menghormati pengalaman tersebut, bukan menjadikannya bahan olok-olok.

Cara penyampaian seperti itu memperkuat pandangan yang menilai perempuan hanya dari tubuh dan fungsi biologisnya. Akibatnya, masyarakat lebih mudah menghakimi perempuan berdasarkan pengalaman reproduksinya daripada menghargai martabat, hak, dan kemanusiaannya.

Seksisme Hadir Melalui Candaan

Sebagian orang mungkin menganggap lirik tersebut hanya candaan. Namun, seksisme tidak selalu hadir dalam bentuk hinaan. Candaan juga dapat melanggengkan seksisme ketika menjadikan perempuan sebagai objek humor atau memperkuat stereotip gender.

Lagu ini menggambarkan perempuan sebagai pihak yang mengalami kehamilan, keguguran, keterlambatan haid, dan persoalan reproduksi lainnya. Sebaliknya, lagu itu hampir tidak pernah menunjukkan laki-laki sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab.

Narasi tersebut memperlihatkan cara pandang patriarkal yang masih hidup di tengah masyarakat. Ketika muncul persoalan seksual, masyarakat sering menyalahkan perempuan. Sebaliknya, laki-laki lebih sering terbebas dari penilaian sosial maupun tanggung jawab moral.

Karena itu, banyak kalangan menilai lagu tersebut bukan sekadar humor. Lagu ini ikut melanggengkan ketimpangan gender yang selama ini diperjuangkan untuk dihapus.

Niat Baik Tidak Menghapus Dampak

Om Zein menjelaskan bahwa ia menulis lagu tersebut pada 2020 sebagai refleksi atas kenakalannya saat muda. Ia mengaku bersyukur lahir sebagai laki-laki. Menurutnya, jika menjadi perempuan, ia mungkin mengalami berbagai persoalan seperti yang digambarkan dalam lagu itu. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat merendahkan perempuan.

Penjelasan itu memang menjadi hak setiap pencipta karya. Namun, niat pribadi tidak selalu menentukan makna sebuah karya.

Ketika seseorang mempublikasikan sebuah lagu, masyarakat bebas menafsirkan isinya. Publik juga berhak mengkritik pesan yang mereka anggap memperkuat diskriminasi atau ketidakadilan terhadap perempuan.

Karena itu, persoalan utama bukan terletak pada niat Om Zein. Persoalan utamanya terletak pada dampak sosial yang muncul ketika lirik lagu menghadirkan perempuan sebagai objek candaan sekaligus pihak yang selalu menanggung konsekuensi persoalan seksual.

Permintaan Maaf Belum Menyentuh Substansi

Om Zein kemudian meminta maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyinggung perempuan. Ia juga menjelaskan bahwa lagu tersebut menceritakan perjalanan hidupnya sendiri.

Namun, banyak pihak tetap menilai permintaan maaf itu belum menyentuh pokok persoalan. Publik tidak hanya mempertanyakan maksud pencipta lagu. Mereka juga mengkritik cara lagu tersebut membangun citra perempuan. Selama pencipta tidak mengakui adanya bias gender dalam liriknya, kritik akan terus muncul.

Permintaan maaf memang penting. Namun, pengakuan atas kekeliruan perspektif jauh lebih penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Kritik Atalia Praratya

Sebelum Om Zein memberikan klarifikasi, anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya, lebih dahulu mengkritik lagu tersebut melalui akun Instagram pribadinya. Ia mempertanyakan alasan seorang kepala daerah justru menghadirkan narasi yang memperkuat budaya patriarki di tengah upaya mendorong penghormatan terhadap perempuan.

Atalia juga mengaku tidak menemukan pesan yang menghormati perempuan dalam lagu tersebut. Kritik itu menunjukkan bahwa masyarakat berharap pejabat publik menghadirkan narasi yang mendukung kesetaraan gender.

Seorang pejabat publik tidak hanya bertanggung jawab atas kebijakannya. Ia juga bertanggung jawab atas setiap pesan yang disampaikan melalui pidato, media sosial, maupun karya seni. Pengaruh seorang pejabat jauh lebih besar daripada masyarakat pada umumnya.

Menghormati Perempuan Melalui Bahasa

Polemik ini mengingatkan kita bahwa humor tidak dapat menjadi alasan untuk merendahkan perempuan. Candaan yang mengobjektifikasi tubuh perempuan, menormalisasi stigma terhadap kesehatan reproduksi, atau membebankan seluruh konsekuensi seksual kepada perempuan hanya akan memperkuat budaya patriarki.

Kesetaraan gender tidak hanya lahir melalui kebijakan. Kesetaraan juga tumbuh melalui bahasa, karya seni, dan cara masyarakat membicarakan perempuan. Karena itu, setiap pejabat publik perlu menggunakan ruang ekspresi secara bertanggung jawab agar tidak melanggengkan diskriminasi.

Pada akhirnya, polemik ini tidak hanya berbicara tentang sebuah lagu. Polemik ini mengingatkan kita bahwa setiap kata yang muncul di ruang publik dapat membentuk cara masyarakat memandang perempuan. Oleh sebab itu, setiap orang perlu memilih bahasa yang menghormati martabat perempuan, bukan bahasa yang memperkuat stereotip dan ketidakadilan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.