
Yang roboh sebenarnya bukan hanya sebuah rumah.
Yang ikut runtuh adalah rasa memiliki satu sama lain. Yang retak adalah gotong royong. Yang lapuk adalah kesediaan untuk memikul beban sesama.
Rumah itu milik seorang tetangga kami. Ia hidup sederhana, telah renta, dan tak memiliki cukup kemampuan untuk memperbaiki rumahnya sendiri. Atapnya bocor. Dindingnya mulai rapuh. Tiang-tiangnya tak lagi kokoh menahan usia.
Semua orang tahu kondisinya.
Namun mengetahui ternyata berbeda dengan peduli.
Beberapa waktu sebelumnya, warga kampung baru saja bergotong royong mengumpulkan dana untuk pembangunan mushola. Sambutannya luar biasa. Uang terkumpul dengan cepat. Tenaga sukarela berdatangan. Orang-orang merasa terpanggil untuk mengambil bagian.
Tetapi ketika muncul ajakan memperbaiki rumah tetangga yang hampir roboh, semangat itu seakan menghilang. Yang datang membantu hanya segelintir orang. Sebagian besar memilih diam, menunggu, atau merasa persoalan itu bukan tanggung jawab bersama.
Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu mudah membangun rumah untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi begitu sulit membangun rumah agar seorang manusia dapat hidup dengan layak?
Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan itu justru saya tujukan kepada diri saya sendiri, karena mungkin saya pun bagian dari masyarakat yang lebih mudah tersentuh oleh simbol daripada oleh kenyataan.
Barangkali inilah yang dikritik oleh Byung-Chul Han. Dalam masyarakat modern, kita semakin kehilangan relasi yang hidup dengan sesama. Solidaritas melemah, sementara perhatian kita lebih mudah diarahkan kepada proyek-proyek yang tampak, seremonial, dan menghasilkan pengakuan. Kita tidak kekurangan aktivitas sosial, tetapi sering kehilangan kedalaman hubungan antarmanusia.
Emha Ainun Nadjib juga berulang kali mengingatkan bahwa agama tidak berhenti pada pembangunan tempat ibadah. Agama seharusnya melahirkan manusia yang mampu merasakan lapar tetangganya, merasakan dingin rumah tetangganya, dan menganggap penderitaan orang lain sebagai urusan bersama.
Maka yang sesungguhnya roboh bukan hanya rumah tetangga kami.
Yang roboh adalah kemampuan kami untuk melihat bahwa memuliakan manusia adalah inti dari setiap ajaran yang kami yakini.
Sebuah kampung tidak menjadi mulia karena musholanya paling megah. Kampung menjadi mulia ketika rumah paling rapuh di kampung itu tidak dibiarkan roboh sendirian.
Karena ukuran sebuah peradaban bukanlah seberapa indah bangunan sucinya, melainkan seberapa besar kasih sayang yang hidup di antara manusia yang membangunnya.





Comments are closed.