Mubadalah.id – “Mungkin di kehidupan kedua, jika ada. Hehe.” Kalimat sederhana itu menjadi penutup salah satu unggahan TikTok milik Asroi Baihaqi (@asrfvbhk). Sebelum menuliskan kalimat tersebut, ia membagikan tiga kenyataan hidup yang tidak mudah. Ia hidup sebagai penyandang disabilitas sekaligus penyintas Generalized Anxiety Disorder (GAD).
Ia juga kehilangan ayah sejak masih dalam kandungan, kehilangan ibu yang meninggalkannya saat berusia tiga tahun, kehilangan kakak yang menjadi keluarga terdekatnya, hingga akhirnya berhenti kuliah dan bekerja serabutan demi bertahan hidup.
Daftar pengalaman itu mungkin cukup membuat sebagian orang bertanya, “Mengapa hidup bisa seberat itu?” Namun, Asroi tidak menyampaikannya dengan nada menyalahkan takdir atau meminta belas kasihan. Ia justru menutupnya dengan kata “hehe”—sebuah ungkapan sederhana yang terasa seperti cara untuk berdamai dengan luka yang masih ada.
Di sinilah letak kekuatan narasi Asroi Baihaqi. Ia tidak sedang menjual penderitaan. Ia sedang bercerita tentang kehidupan. Sayangnya, tidak semua orang menangkap pesan tersebut. Banyak orang justru berhenti pada rasa iba, seolah-olah hal paling penting dari konten itu adalah beratnya kehidupan yang ia alami. Padahal, yang lebih penting adalah makna yang ingin ia bagikan kepada orang lain.
Lebih Dari Sekedar Bertahan Hidup
Jika menelusuri akun TikTok Asroi Baihaqi, akan ditemukan berbagai video reflektif yang mengajak orang memandang kehidupan dengan lebih tenang. Dalam salah satu videonya, ia mengatakan, “Hidup karena masih hidup itu juga keren kok.”
Pada video lain, ia menyampaikan,“Tanpa menunggu seporsi kemenangan, aku hidup sampai hari ini saja adalah sebuah kemenangan.” Ada pula renungan yang berbunyi, “Bagian paling sedih adalah ketika sudah merancang masa depan, tetapi semesta tidak mengizinkan untuk mendapatkannya.”
Kalimat-kalimat tersebut terasa dekat dengan banyak orang. Bukan karena semua orang memiliki pengalaman hidup yang sama dengan Asroi, melainkan karena hampir setiap manusia pernah merasa gagal, kehilangan, kecewa, atau lelah menjalani kehidupan. Kontennya menjadi ruang refleksi bahwa tidak semua impian berjalan sesuai rencana, tetapi kehidupan tetap layak dijalani.
Yang menarik, Asroi tidak pernah menjadikan disabilitas sebagai pusat seluruh narasinya. Ia lebih banyak berbicara tentang menjadi manusia. Menerima kenyataan, menghargai proses, dan tetap menemukan harapan di tengah keterbatasan. Pesan-pesan itulah yang sebenarnya menjadi inti dari kontennya.
Ketika Publik Lebih Mengagumi Luka Daripada Mendengar Pesannya
Sayangnya, masyarakat sering kali memiliki cara pandang yang berbeda. Warganet sering memenuhi kolom komentar pada konten kreator disabilitas dengan ungkapan seperti, “Masyaallah kuat sekali,” atau “Aku jadi malu sering mengeluh.” Meskipun lahir dari niat baik, komentar semacam ini menunjukkan bahwa publik lebih memusatkan perhatian pada penderitaan yang penyandang disabilitas alami daripada gagasan yang mereka sampaikan.
Sering kali, tanpa kita sadari, kita menempatkan penyandang disabilitas sebagai “tokoh inspirasi” semata. Masyarakat memuji mereka karena mampu bertahan dalam keadaan sulit, bukan karena pemikiran, karya, atau nilai yang mereka bagikan. Akibatnya, masyarakat mereduksi identitas mereka menjadi simbol ketangguhan.
Kita patut mengkritik cara pandang seperti ini. Ketika seseorang hanya menghargai penyandang disabilitas karena mereka berhasil melewati penderitaan, kita membangun standar yang tidak adil. Seolah-olah penyandang disabilitas harus selalu tampak kuat, optimistis, dan menginspirasi agar masyarakat menghormati mereka. Padahal, mereka juga manusia biasa yang berhak merasa lelah, kecewa, bahkan rapuh tanpa kehilangan martabatnya.
Kondisi inilah yang sering disebut sebagai romantisasi penderitaan. Masyarakat cenderung memandang pengalaman hidup yang berat sebagai sesuatu yang harus mereka kagumi, alih-alih memahaminya secara manusiawi. Akibatnya, luka berubah menjadi tontonan, sementara publik mengabaikan suara penyandang disabilitas sebagai manusia.
Martabat Manusia Tidak Bergantung Pada Kondisi Fisik
Dalam perspektif Mubadalah, setiap manusia dipandang sebagai subjek yang memiliki martabat, hak, dan tanggung jawab yang sama. Prinsip kesalingan (mubādalah) sebagaimana dikembangkan oleh KH. Faqihuddin Abdul Kodir mengajarkan bahwa relasi antarmanusia harus dibangun di atas penghormatan, keadilan, dan pengakuan terhadap kemanusiaan satu sama lain.
Nilai tersebut sejalan dengan firman Allah Swt.:
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ ٧٠
Ayat ini menegaskan bahwa Allah menganugerahkan kemuliaan kepada setiap manusia sejak awal penciptaannya, bukan setelah seseorang menunjukkan ketangguhan atau mencapai prestasi tertentu. Allah juga tidak menentukan kemuliaan berdasarkan kondisi fisik, status sosial, maupun kemampuan seseorang.
QS. Al-Hujurat ayat 13 juga menegaskan bahwa Allah menjadikan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan, bukan kondisi tubuh ataupun latar belakang kehidupan. Dengan demikian, kita tidak perlu mengasihani penyandang disabilitas agar dapat menghormati mereka. Kita menghormati mereka karena mereka adalah manusia.
Melalui perspektif Mubadalah, kita diajak mengubah cara memandang penyandang disabilitas. Mereka bukan objek yang harus terus-menerus dipuji karena mampu bertahan hidup. Mereka adalah subjek yang memiliki gagasan, pengalaman, dan suara yang layak didengarkan. Yang perlu diapresiasi bukan penderitaannya, melainkan nilai-nilai kehidupan yang mereka bagikan kepada masyarakat.
Belajar Mendengar Sebelum Mengagumi
Kehadiran Asroi Baihaqi di media sosial sesungguhnya mengingatkan kita bahwa kekuatan sebuah konten kreator disabilitas tidak selalu lahir dari visual yang mewah ataupun tren yang viral. Kadang, kekuatan itu hadir melalui kejujuran seseorang dalam memaknai kehidupannya.
Oleh karena itu, ketika menyaksikan konten kreator disabilitas, pertanyaan yang seharusnya muncul bukanlah, “Seberapa berat hidup yang ia jalani?” melainkan, “Apa yang ingin ia sampaikan kepada kita?” Pergeseran cara pandang ini penting agar kita tidak terjebak pada rasa iba yang berlebihan, tetapi mampu membangun empati yang memanusiakan.
Pada akhirnya, Asroi Baihaqi membangun narasi kehidupan bukan untuk mengajak pembaca mengasihani penyandang disabilitas. Sebaliknya, ia mengajak kita memahami bahwa setiap manusia memiliki luka, perjuangan, dan harapan yang berbeda-beda. Yang membedakan bukanlah siapa yang paling menderita, melainkan bagaimana kita saling menghormati sebagai sesama manusia.
Di situlah semangat Mubadalah menemukan relevansinya. Bukan dengan mengagungkan penderitaan seseorang, melainkan dengan mengakui bahwa setiap manusia, dengan atau tanpa disabilitas, memiliki martabat yang sama. Karena itu, kita harus mendengarkan suara, menghormati martabat, dan memperlakukan mereka secara setara. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan Mubadalah Goes to Community kerjasama media mubadalah dengan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada 11-12 Juni 2025





Comments are closed.