Ali Sadikin telah berpulang hampir dua dekade lalu. Namun, jejaknya yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Jakarta masih terasa hingga kini.
Jakarta (ANTARA) – Membicarakan Bang Ali — sapaan akrab untuk Ali Sadikin yang menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada 1966–1977— berarti juga membicarakan keberpihakannya dalam menggunakan kewenangan untuk melahirkan berbagai kebijakan yang mendukung perkembangan seni dan kebudayaan.
Pandangan itu disampaikan periset Panca Lintang Dyah Paramitha dan Ganda Swarna dalam pameran arsip 100 Tahun Ali Sadikin bertajuk “Pasca Gita (Jaya): Maecenas dan Kemandirian Seni” di Galeri Oesman Effendy, Taman Ismail Marzuki.
Istilah maecenas berasal dari bahasa Prancis, mecene, yang merujuk pada sosok dermawan atau pelindung seni yang memberikan dukungan kepada para seniman.
Mengacu pada pemikiran Umar Kayam tentang “Maecenas dan Jaringan Dewan Kesenian”, peran Ali Sadikin dinilai mencerminkan sosok tersebut. Ia tidak hanya mengucurkan dana dan menyediakan fasilitas, tetapi juga memberikan kepercayaan kepada seniman melalui kebijakan yang lahir dari posisinya sebagai gubernur.
Meski demikian, konsep maecenas kerap dipandang melekat dengan hasrat penguasa untuk dikenang sebagai dermawan yang berjasa bagi perkembangan seni dan budaya.
Ali Sadikin dilantik langsung oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur Jakarta pada 28 April 1966 di Istana Negara. Saat itu, ia juga menjadi anggota staf Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, serta dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin ibu kota.
Selama menjabat, Ali membangun Jakarta sebagai kota kebudayaan melalui kolaborasi antara pemerintah dan para seniman. Salah satu langkah pentingnya adalah memberikan otonomi yang relatif luas kepada Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), sehingga lembaga yang beranggotakan seniman lintas disiplin itu dapat menyelenggarakan beragam program, mulai dari seni tradisional dan modern hingga kegiatan berskala lokal, nasional, internasional, serta pembinaan bagi seniman muda maupun profesional.
“Saya nyatakan tegas-tegas, pejabat tidak boleh ikut campur urusan dinas kebudayaan lain, urusan DKJ lain. Tugas DKJ memberikan nasihat dan pendapat pada gubernur, diminta atau tidak diminta, dalam membina kebudayaan di Jakarta,” kata Ali dalam buku Bang Ali: demi Jakarta 1966–1977.

Warisan penting lain dari Ali Sadikin adalah berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 1968, yang hingga kini tetap menjadi ruang tumbuh seni, budaya, dan kreativitas di Jakarta.
Menurut Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo, gagasan membangun TIM berawal dari pertanyaan sederhana yang diajukan Ali, “Dulu banyak seniman berkumpul di Senen. Sekarang mereka ke mana?” Fauzi, yang akrab disapa Foke, menjawab bahwa para seniman tak lagi memiliki tempat berkumpul. Dari kegelisahan itulah lahir gagasan menghadirkan ruang bagi ekosistem kesenian.
Baca juga: DPRD DKI kaji perubahan nama Jalan Kebon Sirih jadi Ali Sadikin
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





Comments are closed.