Jakarta, NU Online
Kolaborasi lintas identitas dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman. Pesan tersebut mengemuka dalam Harmony Talks, salah satu agenda utama Rukun Festival 2026 yang diselenggarakan Nasaruddin Umar Office, Senin (13/7/2026), di Jakarta.
Forum yang diikuti lebih dari 1.500 peserta dari berbagai latar belakang agama, kepercayaan, profesi, dan komunitas itu menjadi ruang dialog lintas iman yang mempertemukan para pemimpin agama, tokoh publik, dan generasi muda.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kohesi sosial, memperdalam saling pengertian, serta mendorong kolaborasi nyata dalam merawat persatuan Indonesia.
Dalam sesi keynote speech, Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid, mengajak masyarakat untuk melampaui konsep toleransi yang selama ini dipahami sebatas saling menghormati. Menurutnya, toleransi perlu diwujudkan dalam bentuk kerja sama lintas identitas yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Dialog dan toleransi adalah fondasi yang penting. Namun setelah itu kita harus melangkah lebih jauh, yaitu membangun kolaborasi lintas identitas untuk menyelesaikan persoalan bersama. Rukun Festival adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi tersebut dapat diwujudkan,” ungkap Yenny Wahid.
Mewakili perspektif Buddhis, penulis Dee Lestari menyoroti pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai informasi terkait agama dan kepercayaan. Ia mengingatkan bahwa prasangka kerap lahir dari informasi yang tidak terverifikasi.
“Kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting agar kita tidak mudah menerima asumsi yang keliru tentang kelompok lain. Ketika prasangka berkembang, yang terancam bukan hanya hubungan antarumat beragama, tetapi juga rajutan kebangsaan yang selama ini kita bangun bersama,” jelas Dee Lestari.
Dari perspektif Kristen, Pendeta Marcell menegaskan bahwa kerja sama lintas agama tidak akan mengurangi kualitas keimanan seseorang. Sebaliknya, kolaborasi merupakan wujud nyata nilai kasih dan kemanusiaan yang diajarkan setiap agama.
“Jangan takut bekerja sama dengan mereka yang berbeda keyakinan. Setiap agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kasih sayang, dan kemanusiaan. Justru melalui kerja sama kita dapat menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, tokoh Hindu Yan Mitha Djaksana menekankan bahwa hidup dalam masyarakat yang majemuk merupakan kesempatan untuk belajar menghargai perbedaan. Menurutnya, interaksi dengan berbagai kelompok akan menumbuhkan empati, keterbukaan, dan kemampuan hidup berdampingan secara damai.
Mewakili perspektif Islam, Habib Isa menjelaskan bahwa toleransi merupakan bagian dari ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Toleransi bukan sekadar pilihan sosial, tetapi juga bagian dari sunnah Rasulullah. Harmoni yang diajarkan Islam tidak hanya berlaku kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam semesta dan seluruh ciptaan Tuhan,” jelasnya.
Direktur Dakwah dan Interfaith Affairs Nasaruddin Umar Office, Darul Ma’arif Asry, yang bertindak sebagai moderator, merangkum diskusi dengan menegaskan bahwa generasi muda perlu membangun tiga fondasi utama dalam merawat keutuhan bangsa.
Pertama, memahami ajaran agama dengan baik sekaligus mengenal keyakinan orang lain secara objektif. Kedua, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi. Ketiga, menerjemahkan nilai toleransi ke dalam aksi kolaboratif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pemahaman yang baik, pikiran yang kritis, dan kolaborasi yang produktif merupakan kunci untuk membangun generasi yang mampu menjaga persatuan Indonesia di tengah keberagaman,” ujarnya.
Founder Nasaruddin Umar Office, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa keberagaman Indonesia memerlukan ruang dialog yang mampu membangun kepercayaan, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial.
Menurutnya, Nasaruddin Umar Office hadir sebagai jembatan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat, menghilangkan sekat-sekat antarumat beragama dan komunitas, memperkuat solidaritas sosial, serta menjadi ruang mediasi untuk mencegah maupun mengatasi konflik.
“Nasaruddin Umar Office berupaya merawat kebinekaan dengan berbagai cara menyatukan yang berserakan, menghimpun yang beragam menjadi satu kekuatan untuk membangun Indonesia yang harmonis,” ujar Nasaruddin Umar.




Comments are closed.