Bincangperempuan.com- B-Pers tahukah kamu, mesin chainsaw atau sinso tuh ternyata punya sejarah gelap yang jauh dari bayangan para penebang pohon di hutan? Kalau kita melihat gergaji mesin hari ini, citra yang langsung muncul di kepala biasanya adalah industri berat, maskulinitas yang kental, pekerja kasar berompi proyek, atau mungkin adegan-adegan gore brutal dalam film horor slasher Amerika.
Alat yang satu ini memang tergolong alat berat buat nukang, tapi siapa sangka sejarah penemuan chainsaw bermula saat seorang ibu berusaha menghadirkan kehidupan baru ke dunia? Ya, realitasnya jauh lebih mengejutkan dan mungkin bikin ngilu. Sebelum raungan mesin ini digunakan untuk merobohkan pohon-pohon, prototipe purbanya ternyata diciptakan untuk membelah tulang panggul perempuan yang sedang melahirkan.
Baca juga: Ketika Perempuan Melahirkan, Semua Orang Ikut Bicara
Sejarah Gergaji Mesin
Kalau kita tarik mundur ke masa lalu, prototipe gergaji mesin yang sekarang begitu akrab di industri perkayuan, sebenarnya dipelopori pada akhir abad ke-18 oleh dua dokter asal Skotlandia, yaitu John Aitken dan James Jeffray. Mereka berdua bukan sedang mencari cara untuk menebang pohon. Mereka justru sedang mencari solusi untuk komplikasi persalinan ekstrem melalui prosedur yang disebut symphysiotomy atau simfisiotomi, serta untuk eksisi (pemotongan) tulang yang berpenyakit.
Gergaji tangan berantai ini—berupa rantai halus bergerigi yang memotong pada sisi cekung—diciptakan sekitar tahun 1783–1785. Alat ini pertama kali diilustrasikan dalam buku Aitken berjudul Principles of Midwifery or Puerperal Medicine (1785). Aitken menggunakannya di ruang anatomi, sementara Jeffray mengklaim menemukan ide serupa secara independen dan berhasil memproduksinya pada 1790.
Simfisiotomi sendiri adalah operasi memotong tulang rawan simfisis pubis (sendi panggul) agar jalan lahir bisa melebar. Prosedur ini dilakukan ketika bayi tersangkut karena panggul ibu terlalu sempit atau bayi terlalu besar. Sebelum adanya anestesi modern, operasi ini dilakukan tanpa bius yang memadai. Bayangkan rasa sakit yang luar biasa saat tulang panggul digergaji di tengah kontraksi persalinan.
Baca juga: Mengandung dan Melahirkan: Dua Gambaran Kekuatan Perempuan
Perkembangan dan Akhir Penggunaan Medis
Pengembangan alat ini terus berlanjut di tangan para ahli pada masa itu. Pada tahun 1806, Jeffray menerbitkan sebuah tulisan berjudul Cases of the Excision of Carious Joints by H. Park and P. F. Moreau with Observations.. Melalui publikasi akademis ini, ia menerjemahkan makalah karya Moreau yang telah terbit sebelumnya pada tahun 1803. Dalam literatur medis tersebut, Park dan Moreau mendeskripsikan secara rinci tentang keberhasilan prosedur eksisi atau pengangkatan sendi yang berpenyakit, khususnya pada area lutut dan siku. Jeffray memaparkan argumen bahwa gergaji rantai ini merupakan instrumen unggul karena memungkinkan terciptanya luka bedah yang jauh lebih kecil sekaligus secara krusial melindungi bundel pembuluh darah di sekitar area pemotongan.
Namun, bagi mayoritas ahli kebidanan saat itu, simfisiotomi dianggap sebagai prosedur yang heroik sekaligus berisiko tinggi. Meskipun berhasil melebarkan panggul, operasi ini sering memicu komplikasi serius seperti infeksi, inkontinensia urine (sulit menahan kencing), kerusakan saraf panggul, kesulitan berjalan permanen, hingga kematian ibu atau bayi. Karena itu, prosedur ini hanya dilakukan sebagai pilihan terakhir ketika tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nyawa.
Meski demikian, ide dan desain teknis dari Jeffray tetap berpengaruh. Setelah teknologi anestesi (bius) mulai berkembang pesat pada pertengahan abad ke-19, prosedur operasi tulang menjadi jauh lebih dapat ditoleransi. Gergaji rantai kemudian lebih banyak digunakan di bidang bedah ortopedi untuk memotong tulang yang sakit, bukan lagi untuk persalinan.
Memasuki era modern, versi mekanis chainsaw yang jauh lebih bertenaga mulai dikembangkan. Namun dominasinya sebagai alat bedah tidak bertahan lama. Pada paruh akhir abad ke-19, gergaji rantai medis mulai digantikan oleh Gigli saw–gergaji kawat fleksibel yang lebih murah, lebih cepat, dan memberikan sayatan lebih tipis dengan risiko kerusakan jaringan yang lebih rendah.
Dari perspektif feminis, sejarah ini mencerminkan bagaimana tubuh perempuan menjadi objek eksperimen dalam dunia kedokteran yang saat itu didominasi laki-laki. Persalinan, yang dulunya merupakan ranah perempuan dan bidan tradisional, semakin direbut oleh praktik medis klinis. Hal ini menjadi bukti nyata betapa maskulinnya industri kedokteran di masa lalu, di mana keputusan medis hampir sepenuhnya diambil oleh dokter laki-laki, sementara tubuh perempuan sering menjadi “ruang eksperimen”.
Untungnya, kini situasinya jauh berbeda. Inovasi medis yang jauh lebih ramah terhadap tubuh perempuan—seperti Caesar modern yang aman, anestesi yang baik, dan teknik persalinan non-invasif—sudah menjadi standar. Perbaikan ini tidak lepas dari semakin banyaknya representasi tenaga medis perempuan di bidang kebidanan dan kandungan. Kehadiran dokter dan bidan perempuan membawa perspektif yang lebih empati dan memahami pengalaman fisik serta emosional pasien perempuan, sehingga praktik kedokteran menjadi lebih manusiawi dan berorientasi pada pasien.
Referensi:
- Aitken, J. (1785). Principles of midwifery, or puerperal medicine. Edinburgh: Lying-in Hospital Charity. https://archive.org/details/b2875220x
- Skippen, M., Kirkup, J., Maxton, R. M., & McDonald, S. W. (2004). The chain saw—A Scottish invention. Scottish Medical Journal, 49(2), 72–75. https://doi.org/10.1177/003693300404900218
- Snopes. (2024, July 6). Chain saws were invented to help in childbirth? https://www.snopes.com/articles/467369/chain-saws-invented-childbirth/
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.