Market Summary

  • S&P Pertahankan Rating Indonesia di BBB: S&P Global Ratings mempertahankan rating kredit Indonesia dengan outlook stabil. → S&P nilai pelemahan posisi fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara dan dapat dimitigasi harga komoditas yang lebih tinggi serta efisiensi belanja.

  • Eskalasi Konflik AS-Iran, Harga Minyak Naik +9,6% ke ~US$83/barrel: Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. → ketegangan yang kembali meningkat membuka risiko volatilitas minyak lanjutan.

  • APBN Cetak Defisit 0,76% terhadap PDB per Akhir Juni 2026: Proyeksi defisit 2026 di level 2,85% terhadap PDB. → apabila kenaikan harga minyak berlanjut, tekanan subsidi energi 2H26 berpotensi tetap tinggi.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent naik +9,6% ke level ~US$83/barrel pada Senin (13/7), melanjutkan kenaikkan 5,4% WoW per Jumat (10/7) setelah Iran memperluas serangan ke Qatar dan Uni Emirat Arab akhir pekan lalu, disusul serangan balasan AS ke Iran.

    • Iran menyatakan menutup Selat Hormuz usai menyerang kapal yang melintas di luar rute resmi, meski Trump menegaskan Minggu (12/7) bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi lalu lintas komersial.

    • Presiden Donald Trump menyatakan Rabu (8/7) gencatan senjata sementara AS-Iran berakhir, menyusul serangan AS ke Iran sebagai respons serangan Iran ke kapal-kapal di Selat Hormuz, mendorong harga minyak menyentuh US$80,6/barrel pada hari yang sama.

  • S&P Global Ratings mempertahankan rating Indonesia di BBB (investment grade terendah kedua) dengan outlook stabil

    • S&P menilai pelemahan posisi fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara dan dapat dimitigasi oleh harga komoditas yang lebih tinggi serta pemangkasan belanja. 

    • S&P juga menambahkan bahwa upaya pemerintah untuk mensentralisasi pengelolaan dan mengurangi kebocoran di sektor sumber daya dan mineral berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor ke depan.

  • Dana Moneter Internasional (IMF) dalam outlook Juli 2026 mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di +5% YoY (2026) dan +5,1% YoY (2027), tidak berubah dari estimasi April 2026.

    • Secara global, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia +3% pada 2026 (vs April: +3,1%), seiring inflasi diperkirakan naik dari 4,1% (2025) ke 4,7% (2026).

  • Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan dalam rapat bersama DPR pada Selasa (7/7) bahwa defisit APBN hingga Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun (0,76% PDB), turun dari 1H25 (0,84% PDB). 

    • Pemerintah merevisi outlook defisit APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun (2,85% PDB) — lebih lebar dari target awal (2,68%) maupun realisasi 2025 (2,81%), seiring tambahan belanja subsidi energi akibat keputusan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun.

    • Purbaya memperkirakan pertumbuhan 2026 di +5,6–6% YoY (vs target APBN 2026: +5,4% YoY).

    • Secara terpisah, Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, menilai ruang efisiensi anggaran MBG tahun ini bisa dipangkas Rp68–80 T (vs proyeksi sebelumnya: ~Rp40 T).

  • Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia naik ke level US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026 (vs Mei 2026: US$144,9 miliar), mengakhiri penurunan beruntun dalam 5 bulan sebelumnya.

    • BI mencatat indeks keyakinan konsumen turun secara bulanan ke level 117,8 pada Juni 2026 (vs Mei 2026: 120,9, Juni 2025: 117,8), terendah sejak September 2025 meski masih di level optimis (indeks >100).

    • BI memperkirakan penjualan ritel pada Juni 2026 terkontraksi -4,4% YoY, yang jika terwujud akan menandai kontraksi secara tahunan dalam 3 bulan beruntun. Realisasi Mei 2026 terkontraksi -3,9% YoY (vs April 2026: -3,7% YoY), lebih dalam dari estimasi BI sebelumnya: kontraksi -3,2% YoY.

What’s the Impact?

Secara Global: 

Memanasnya kembali tensi geopolitik AS-Iran membuka risiko volatilitas harga minyak lanjutan, dengan implikasi terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga global. Merespons eskalasi ini, harga emas turun -2,9% ke US$4.002/oz per Senin (13/7).

Di sisi inflasi, konsensus Bloomberg memperkirakan CPI AS turun ke 3,8% YoY pada Juni 2026 (vs Mei: 4,2% YoY) seiring turunnya harga energi pasca gencatan senjata, meski inflasi inti diperkirakan bertahan di 2,9% YoY. Namun, eskalasi yang kembali berlanjut dan mendorong harga minyak naik berpotensi menjaga laju inflasi tetap tinggi.

Untuk Indonesia:

Setelah sempat turun ke ~US$72/barrel, kenaikan kembali harga minyak dunia berpotensi menjaga beban subsidi energi domestik tetap tinggi, mengingat pemerintah telah memutuskan menahan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun, meski tekanan ini masih jauh dari level ~US$118/barrel saat konflik AS-Iran sempat memuncak sebelumnya.

Di tengah risiko fiskal tersebut, S&P Global Ratings mempertahankan rating Indonesia dengan outlook stabil, menilai pelemahan posisi fiskal saat ini bersifat sementara dan dapat dimitigasi oleh harga komoditas yang lebih tinggi serta pemangkasan belanja pemerintah. Keputusan ini turut menopang sentimen pasar domestik, tercermin dari penguatan IHSG +1,92% pada penutupan Senin (13/7).

Why Should I Care?

Bagi investor, di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak kembali naik, dipertahankannya rating Indonesia dengan outlook stabil oleh S&P Global Ratings menjadi kabar baik yang berpotensi memperbaiki sentimen pasar domestik, menurunkan yield obligasi pemerintah yang dapat menjadi penyangga NAV Reksa Dana Obligasi, serta menopang nilai tukar rupiah ke depannya.

Di sisi lain, jika kenaikan harga minyak berlanjut, beban subsidi energi yang tetap tinggi berpotensi menekan outlook defisit APBN 2026 lebih lanjut pada 2H26 — risiko yang ditegaskan S&P sebagai faktor yang perlu dimitigasi lewat kenaikan harga komoditas dan efisiensi belanja. Nilai tukar rupiah sendiri telah melemah 0,56% WoW seiring tekanan geopolitik yang kembali meningkat. 

Ke depan, investor perlu memantau data inflasi AS yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga AS. Sementara itu, harga minyak yang kembali volatil dan outlook defisit yang masih bergantung pada perkembangan tersebut berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi dalam jangka pendek. 

Instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan stabilitas portofolio. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa menjadi alternatif bagi investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah. Investor dengan horizon lebih panjang dapat memilih obligasi FR jangka pendek yang jika dipegang sampai jatuh tempo menawarkan yield menarik hingga 7,02% p.a. untuk seri PBS030 dengan tenor ~2 tahun.

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Sucorinvest

Sucorinvest Money Market USD

Return

+15,27%

dalam Rupiah

Setahun Terakhir

Return

+3,56%

dalam US Dollar

Setahun Terakhir

BRI Seruni

BRI Seruni Likuid Dolar

Return

+15,12%

dalam Rupiah

Sejak Peluncuran

Return

+3,42%

dalam US Dollar

Sejak Peluncuran

Return Sucorinvest Money Market USD periode setahun terakhir; BRI Seruni Likuid Dolar sejak peluncuran 10 Juli 2025 — keduanya per 10 Juli 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 10 Juli 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit

Return reksa dana per 10 Juli 2026. 

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit
PBS030

PBS030 (5,875%)

FR Syariah

★ Top Short Term
 

Yield

7,02% p.a.

Harga Beli

97,90%

Jatuh Tempo

15 Jul 2028

 
FR0095

FR0095 (6,375%)

Obligasi FR

 

Yield

6,89% p.a.

Harga Beli

99,00%

Jatuh Tempo

15 Agt 2028

 

Yield per 14 Juli 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research. 

In Case You Missed It

💰Net Return SBN ORI030 Lebih Tinggi 2x dari Deposito Bank –  Imbal hasil 6,90% p.a., lebih tinggi dua kali lipat dari deposito bank umum yang dijamin LPS 3,75% p.a. (periode 1 Juli – 30 September 2026). Imbal hasil berupa kupon dikirim tiap bulan, bisa jadi sumber passive income bulanan.

Other Articles 

🚗 Penjualan Mobil Naik +16% YoY selama 1H26, Didorong Efek Low–Base – Gaikindo mencatat bahwa wholesales mobil nasional pada Juni 2026 mencapai 77.555 unit (+33% YoY, +12% MoM) dan 436.567 unit selama 1H26 (+16% YoY), setara 51% target 2026 dari Gaikindo di level 850.000 unit (vs 1H25: 47% realisasi 2025).

💸 APBN: Defisit 0,76% PDB per 1H26, Outlook Defisit 2026 di 2,85% PDB – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan dalam rapat bersama DPR pada Selasa (7/7) bahwa defisit APBN hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp196,5 T atau setara 0,76% terhadap PDB (vs. 1H25: defisit 0,84% terhadap PDB).

💎 Pemerintah Proyeksikan Pusat Finansial Tarik Investasi Rp300–500 T – Pemerintah dan DPR tengah mempercepat pembahasan RUU terkait pusat finansial internasional Indonesia (PFII), kawasan keuangan khusus yang dirancang untuk bersaing dengan hub global seperti Singapura, Hong Kong, dan Dubai.