Jakarta, Arina.id—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyerukan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah untuk segera mengakhiri kekerasan dan menempuh jalan damai melalui perundingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Yahya menyusul kembali memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dinilai telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat luas serta mengancam stabilitas kawasan dan dunia.
“Saya sejak awal menyerukan masyarakat internasional untuk berkonsolidasi mendesak semua pihak menghentikan kekerasan,” kata Gus Yahya kepada awak media dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Ia mengajak para pemimpin dunia dan masyarakat internasional menggunakan pengaruhnya untuk mendorong kedua belah pihak menghentikan aksi militer.
“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat internasional dan para pemimpin dunia untuk berbicara kepada kedua belah pihak,” ujarnya.
Gus Yahya juga menyerukan agar Amerika Serikat dan Israel menghentikan tindakan kekerasan yang selama ini terjadi.
Ia berharap negara-negara Islam, Arab, dan kawasan Timur Tengah turut mengambil peran aktif dalam mengupayakan perdamaian demi keselamatan dan kemaslahatan bersama.
“Marilah kita berbicara tentang perdamaian, keselamatan, dan kesejahteraan bersama,” katanya.
“Hentikan kekerasan sekarang juga. Semuanya harus berhenti dari kekerasan yang selama ini diperbuat,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menceritakan pertemuannya dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf saat menjadi salah satu delegasi Indonesia yang menghadiri prosesi penghormatan atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ia mengatakan, sesuai pesan Presiden Prabowo Subianto, delegasi Indonesia menyampaikan harapan agar berbagai persoalan yang menjadi sumber konflik diselesaikan melalui jalur diplomasi dan perundingan damai.
“Itu yang kami sampaikan,” ujarnya.
Menurut Gus Yahya, Ketua Parlemen Iran menyambut baik pesan tersebut, namun belum dapat langsung menyatakan persetujuan karena penyelesaian konflik memerlukan komitmen dari seluruh pihak yang bertikai.
“Tetapi jelas ini perlu iktikad dan inisiatif dari kedua belah pihak. Perlu inisiatif dua arah,” pungkasnya.





Comments are closed.