Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Messi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?

Messi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?

messi-ronaldo-adalah-eksperimen-politik?
Messi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?
service

Dengarkan artikel berikut.

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Pilih Messi atau Ronaldo — dan kamu mungkin baru saja membocorkan identitasmu dengan tanpa sadar.


PinterPolitik.com

Setiap gelaran Piala Dunia selalu punya ritual yang sama: linimasa terbelah dua. Bukan cuma soal siapa yang akan juara, tapi soal siapa yang lebih layak disebut GOAT — Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Perdebatan ini sudah berjalan lebih dari satu dekade, dan anehnya, semakin lama semakin tidak terlihat seperti obrolan bola biasa. Ada nada emosional di dalamnya yang jauh melampaui statistik gol atau trofi. Orang membela pemain pilihannya dengan intensitas yang mirip membela partai politik atau calon presiden.

Selama ini kita menganggap itu wajar — namanya juga fanatisme olahraga. Tapi belakangan, sebuah riset akademik internasional justru menunjukkan bahwa kecenderungan ini bukan sekadar selera personal yang acak. Ada pola ideologis di baliknya. Dan kalau pola itu benar, maka pertanyaannya menjadi lebih serius: jangan-jangan preferensi Messi-Ronaldo bukan cuma cermin selera bola, tapi juga instrumen yang bisa dibaca — dan bahkan dimanfaatkan — oleh siapa saja yang punya kepentingan memetakan cara berpikir publik.

Ideologi Tersembunyi di Balik Rivalitas

Riset yang dimaksud dipimpin Saifuddin Ahmed dari Nanyang Technological University Singapura, bersama Kokil Jaidka, Muhammad Ehab Rasul, dan Teresa Gil-López dari Universidad Carlos III de Madrid. Mereka mensurvei 10.661 responden di 26 negara — termasuk Indonesia — dan menggunakan model statistik hierarkis dua tingkat untuk menguji apa yang benar-benar memprediksi preferensi seseorang terhadap Messi atau Ronaldo.

Hasilnya konsisten di hampir semua negara: ideologi politik adalah prediktor individu paling kuat, bahkan setelah faktor demografi, kebiasaan media, kepribadian, dan gaya berpikir dikontrol secara statistik. Responden yang mengidentifikasi diri lebih liberal cenderung memilih Messi. Yang lebih konservatif cenderung memilih Ronaldo. Efek ini paling kuat pada generasi muda, dan melemah drastis pada kelompok usia tua — mengindikasikan bahwa sorting ideologis lewat budaya pop adalah fenomena yang relatif baru, lahir bersamaan dengan makin dalamnya polarisasi politik generasi digital.

Yang menarik, penelitian ini juga menemukan bahwa konsumen berita lewat platform video pendek seperti TikTok dan Instagram condong lebih menyukai Ronaldo, dan orang dengan tingkat kepercayaan diri (self-esteem) tinggi juga lebih menyukainya — konsisten dengan riset self-affirmation yang menyebut orang percaya diri tertarik pada figur dominan dan aspiratif. Sebaliknya, citra Messi yang lebih pendiam, berorientasi tim, dan menghindari sorotan personal, resonan dengan nilai komunitarian yang lebih dekat dengan orientasi liberal.

Di titik ini, kerangka Pierre Bourdieu soal distinction dan habitus jadi sangat relevan. Bourdieu berargumen bahwa selera — mulai dari makanan, musik, sampai gaya berpakaian — bukan preferensi netral, melainkan penanda posisi sosial yang direproduksi lewat kebiasaan dan lingkungan. Riset Messi-Ronaldo pada dasarnya membuktikan versi terbaru dari argumen itu: bahkan pilihan terhadap atlet, yang secara nalar sama sekali tidak politis, ternyata berfungsi sebagai penanda identitas ideologis.

Lilliana Mason, ilmuwan politik yang meneliti fenomena social sorting di Amerika Serikat, menyebut proses ini sebagai pembentukan “mega-identitas” — ketika identitas politik menyerap dan menyelaraskan identitas-identitas lain (agama, ras, gaya hidup, bahkan selera hiburan) menjadi satu paket yang saling menguatkan. Messi-Ronaldo, dalam kerangka ini, bukan sebab polarisasi, melainkan gejalanya — bukti bahwa sorting ideologis sudah menembus ruang budaya yang paling jauh dari politik sekalipun.

Justru di sinilah letak bahaya sekaligus peluangnya. Kalau preferensi terhadap dua pesepakbola bisa dipetakan ke ideologi politik, maka secara teknis, preferensi budaya-populer apa pun berpotensi menjadi proxy variable — sinyal tidak langsung yang bisa dipakai untuk menebak orientasi politik seseorang tanpa harus bertanya secara eksplisit. Ini bukan skenario fiksi. Kita sudah pernah menyaksikannya dalam skandal Cambridge Analytica pada 2018, ketika data ribuan “like” Facebook — termasuk halaman-halaman yang sepenuhnya non-politis seperti musik, film, atau olahraga — diolah menjadi model psikografis (model kepribadian OCEAN yang dikembangkan Michal Kosinski) untuk memprediksi kerentanan politik pemilih dan menyasar mereka dengan pesan kampanye yang dipersonalisasi.

Satu sinyal seperti preferensi Messi-Ronaldo memang hanya menjelaskan sebagian kecil variasi — dalam studi ini sekitar 3 persen — tapi begitu ditumpuk dengan lusinan sinyal serupa (musik yang didengarkan, konten yang disukai, bahkan cara seseorang mengonsumsi berita di media sosial), akumulasinya bisa membentuk profil ideologis yang cukup presisi untuk keperluan microtargeting, baik oleh partai politik, konsultan kampanye, maupun brand komersial yang ingin menyasar audiens dengan nilai tertentu.

Dengan kata lain, perdebatan siapa GOAT di kolom komentar bukan cuma hiburan yang kita konsumsi secara pasif — ia sekaligus data yang dikonsumsi oleh sistem lain: algoritma platform, mesin rekomendasi, dan siapa pun yang punya kepentingan membaca peta ideologis publik lewat cara yang tidak pernah kita sadari sedang diawasi.

Ketika Selera “Jadi Senjata”?

Yang membuat temuan ini terasa mengganggu bukan semata soal privasi data atau potensi manipulasi politik — meski itu penting. Yang lebih mendasar adalah pertanyaan filosofis tentang sejauh mana ruang privat kita, termasuk hal paling remeh seperti siapa pesepakbola favorit, masih benar-benar milik kita sendiri, bebas dari pembacaan ideologis.

Guy Debord, dalam gagasannya tentang society of the spectacle, pernah memperingatkan bahwa dalam masyarakat modern, hubungan sosial semakin dimediasi oleh citra dan tontonan, bukan pengalaman langsung. Messi dan Ronaldo, dalam kerangka ini, bukan lagi sekadar atlet — mereka adalah simbol, layar tempat kita memproyeksikan nilai yang kita anut tanpa pernah benar-benar mengartikulasikannya sebagai posisi politik.

Kita tidak memilih Messi karena membaca manifesto liberalisme, dan tidak memilih Ronaldo karena mengafirmasi konservatisme secara sadar. Tapi sistem — baik algoritma media sosial maupun mesin kampanye politik — bisa membaca pilihan itu seolah-olah kita sedang mengisi kuesioner ideologi tanpa sadar sedang diisi.

Ini yang membuat riset semacam ini penting dibaca bukan hanya sebagai trivia menarik, melainkan sebagai peringatan dini. Polarisasi hari ini tidak lagi hanya soal pilihan presiden atau partai. Ia telah menyusup ke selera musik, gaya konsumsi, bahkan siapa yang kita sorakkan di layar televisi saat menonton bola.

Pertanyaannya bukan lagi “Messi atau Ronaldo?”, tapi lebih jauh dari itu: seberapa banyak hal dalam hidup kita yang masih murni personal, dan seberapa banyak yang diam-diam sudah menjadi data — dibaca, dipetakan, dan pada akhirnya, dimanfaatkan oleh kepentingan yang jauh lebih besar dari sekadar rivalitas dua bintang lapangan hijau. (D74)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.