Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kesan Saya Menonton Film ‘Obsession’: Ketika Fantasi atas Tubuh Perempuan Menghapus Consent

Kesan Saya Menonton Film ‘Obsession’: Ketika Fantasi atas Tubuh Perempuan Menghapus Consent

kesan-saya-menonton-film-‘obsession’:-ketika-fantasi-atas-tubuh-perempuan-menghapus-consent
Kesan Saya Menonton Film ‘Obsession’: Ketika Fantasi atas Tubuh Perempuan Menghapus Consent
service

Mengapa laki-laki seringkali keliru mengartikan ‘kebaikan’ sebagai ‘ketertarikan’? Apakah ini cara pandang yang keliru?

Melalui penampilan Michael Johnston sebagai Bear dan Inde Navarrette sebagai Nikki, film ‘Obsession’ menunjukkan bagaimana empati perempuan dapat dimaknai sebagai ajakan membangun hubungan, sementara penolakan terhadap fantasi tersebut berujung pada kontrol, pengabaian consent dan victim-blaming terhadap perempuan yang menjadi korban.

Mungkin itu adalah pertanyaan pertama yang terlintas di kepala saya pada lima menit pertama saat menonton ‘Obsession’  (2025), sebuah film horor psikologis garapan Curry Barker yang kini tengah ramai diperbincangkan.

Dibalik balutan horor supernatural, film garapan Curry Barker ini sesungguhnya ingin membahas sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan: bagaimana perhatian, empati, dan keramahan dapat diterjemahkan sebagai ketertarikan asmara oleh laki-laki yang sudah lebih dahulu membangun fantasi di kepalanya sendiri.

Hal inilah yang membuat ‘Obsession’ (2025) terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari–dan Bear adalah representasi dari fantasi tersebut.

Baca Juga: ‘Dianggap Posesif, Distigma Gampangan’ Stereotip Gender Mengintai Hubungan Tanpa Status bagi Perempuan 

Film ini dibuka dengan adegan pemuda canggung–Bear (Michael Johnston) yang tengah berusaha menyatakan cintanya kepada seorang pramusaji yang ia imajinasikan sebagai Nikki (Inde Navarrette). Di tengah upaya melawan kecanggungan dan keadaan emosional, ada satu hal yang menarik. Saat mencoba menyatakan perasaan, Bear menyebutkan hal-hal yang membuat dirinya jatuh hati pada Nikki. Nikki merupakan satu-satunya orang yang bersikap baik kepada Bear dan mengkhawatirkan dirinya saat ia sedang berduka.

Sekilas, adegan ini memperlihatkan bagaimana Bear tampak seperti laki-laki canggung dan kesulitan untuk menyatakan cinta. Gambaran ini mudah mengundang simpati–bukankah semua orang pernah berada di posisi takut untuk menyatakan perasaan cinta?

Tetapi, ‘Obsession’ tidak berhenti pada kisah seorang remaja laki-laki yang takut ditolak sang pujaaan hati.

Film memperlihatkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks; Bear tidak hanya takut ditolak dan menerima kenyataan bahwa Nikki belum tentu mencintai dirinya–tetapi juga bagaimana Bear menyalahartikan ketulusan pertemanan Nikki sebagai perasaan romantis.

Hal itu terlihat jelas dalam adegan One Wish Willow. Awalnya, Bear berniat untuk memberikan souvenir kepada Nikki untuk menghiburnya. Adegan ini mungkin membangitkan semangat penonton karena Bear akhirnya mencoba untuk melawan rasa takutnya dan menyatakan perasaannya dengan jujur dan membiarkan Nikki untuk menentukan jawabannya sendiri.

Tetapi momen itu tidak pernah terjadi. Bear membuang kesempatan yang telah diberikan oleh Nikki untuk menyatakan perasaannya–padahal momentum ini bisa jadi kesempatan bagi Bear untuk tahu apakah perasaan itu sebenarnya mutual atau tidak. Alih-alih jujur, Bear yang tengah menyesali keputusannya malah menggunakan One Wish Willow untuk kepentingannya sendiri.

Baca Juga: “I Can Fix Him”? Moral Laki-Laki Bukan Tanggung Jawab Perempuan, Stop Romantisasi Red Flag

Bear berharap Nikki akan mencintainya lebih dari siapapun yang ada di dunia.

Keputusan gegabah tersebut menjadi titik balik dalam film. Sekilas, tindakan Bear terlihat sebagai bentuk rasa tidak percaya diri. Kendati demikian, jika ditelaah lebih jauh, persoalannya tidak hanya berhenti pada rasa ketakutan akan penolakan–melainkan hasrat untuk mengendalikan hasil daripada menghadapi kenyataan. Disinilah film ‘Obsession’ mulai meninggalkan kisah mengenai cinta dan berubah menjadi relasi kuasa.

Hubungan romantis yang sehat seharusnya lahir dari persetujuan kedua belah pihak. Ada kebebasan untuk menerima maupun menolak. Namun ketika salah satu hanya ingin menjalani sesuatu atas kehendak diri sendiri, hubungan tersebut akan kehilangan fondasi yang paling dasar, yakni: consent.

Konsen adalah persetujuan yang diberikan secara sadar dan sukarela terhadap suatu hal. Disini, Nikki tidak lagi hadir sebagai individu yang bebas dalam menentukan pilihannya. Nikki kini bertransformasi menjadi objek dari fantasi Bear.

Di pertengahan film, situasi ini semakin memperkeruh suasana. Tidak hanya kehilangan kebebasan diri–Nikki juga dipaksa untuk menghadapi teror dan menjadi pusat rangkaian peristiwa yang tidak berasal dari tindakannya sendiri. Genre horor dalam ‘Obsession’ tidak hanya bermain pada ruang kekuatan supernatural–melainkan tentang perempuan yang dipaksa untuk memikul beban dari keputusan laki-laki.

Baca Juga: Membaca Aksi Berani Luna Maya dan Maxime Bouttier dalam Perspektif Feminisme

Situasi ini terasa begitu dekat dengan pengalaman perempuan di dunia nyata. Tidak sedikit perempuan yang harus membatasi diri mereka dalam bersikap ramah. Beberapa kali saya mendengar ucapan seperti, “Kalau nolak seseorang, jangan jahat-jahat ya, kita nggak tau nanti mereka bakal ngelakuin apa,” atau “Makanya kamu jangan terlalu ramah, nanti dia nangkep sinyal kalau kamu suka dia,” dari sesama teman perempuan.

Alih-alih mempertanyakan mengapa laki-laki merasa berhak atas perhatian perempuan, masyarakat justru lebih fokus mengawasi bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Padahal, perempuan bisa saja bersikap ramah tanpa ada maksud yang merujuk pada romansa. Ketika setiap bentuk kebaikan terus-menerus diterjemahkan sebagai ajakan untuk menjalin hubungan, perempuan kehilangan ruang untuk sekadar melakukan interaksi sosial.

Selain film yang memiliki premis yang menarik, muncul berbagai diskursus mengenai karakter Bear dan Nikki di media sosial. Beberapa berpendapat bahwa Nikki ini termasuk dalam trope “cegil” atau cewe gila. Istilah cegil sendiri menggambarkan perempuan yang dianggap terlalu obsesif, terlalu emosional dan tidak rasional dalam menjalin hubungan.

Tetapi, apakah hal yang dialami oleh Nikki dapat dikategorikan sebagai trope “cegil”?

Baca Juga: Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau Itu Upaya Femisida, Bukan Hanya ‘Perang Gender’

Dalam film, karakter perempuan yang mengalami tekanan psikologis kemudian dengan mudah dimasukkan dalam kategori “cegil” ini. Akan tetapi ‘Obsession’ mengajak penonton untuk melihat persoalannya dari arah yang berbeda.

Jika seorang perempuan yang tengah kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri dan masuk pada sebuah hubungan yang bersifat non-konsensual, apakah adil jika ia dengan mudah dikatakan sebagai “cegil”? Penonton begitu cepat melabeli perilaku Nikki sebagai “cegil” dan menciptakan narasi victim-blaming.

Label “cegil” dan fenomena victim-blaming semacam ini justru beresiko menghapus konteks kekerasan yang melatarbelakanginya. Perempuan hanya dilihat sebagai sosok yang bersalah karena dianggap “berlebihan”, sementara obsesi laki-laki yang memicu seluruh tragedi ini tidak digaungkan. Padahal yang seharusnya diperdebatkan bukanlah emosi perempuan, melainkan tindakan destruktif yang berakar pada nafsu.

Film ‘Obsession’ memperlihatkan bahwa horor tidak selalu lahir dari monster atau hal-hal yang bersifat mistis. Horor juga bisa muncul ketika laki-laki menganggap perhatian perempuan sebagai perasaan yang mutual, dan mengesampingkan bahwa perempuan juga memiliki hak untuk memilih apa yang diinginkan.

Barangkali, disitulah letak horor yang paling nyata dalam ‘Obsession’. Horor tidak hanya berakar dari hal supernatural–tetapi juga pada kenyataan bahwa perempuan harus menanggung beban atas fantasi romantis yang tidak pernah mereka ciptakan.

(Editor: Luviana Ariyanti)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.