Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

sudah-saatnya-memahami-islam-sebagai-sumber-inspirasi
Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi
service

Mubadalah.id – Beberapa kasus belakangan perihal kekerasan seksual, korupsi, pembunuhan hutan, intoleransi dan diskriminasi dilakukan oleh oknum beragama, termasuk yang agamanya Islam. Mengapa demikian terjadi kian masif dan berkelanjutan? Apakah Islam tidak memiliki sisi inspirasi? Ataukah kita yang belum mengerti ajaran Islam dengan utuh?

Bagi saya, ini pertanyaan yang cukup pening di kepala, pertanyaan yang bukan sekadar retorika, tetapi cermin dari keresahan kolektif masyarakat yang menyaksikan jarak semakin lebar antara simbol keberagamaan dan substansi keberagaman.

Ini juga sebuah ironi, terlebih lagi pelakunya tampil dengan atribut keagamaan yang kentara, seolah identitas religius menjadi topeng yang menutupi perilaku destruktif. Tentu banyak akibatnya jika demikian hal-nya, seperti muncul asumsi Islam adalah agama yang keras, suka perang, kaku, dan sebagainya.

Padahal, selain sebagai penyempurna ajaran keagamaan, Islam juga sebagai sumber konkrit inspirasi kehidupan, melalui logika profetik, dan tindak laku akhlaq Al-Karimah, ia melekat dan utuh dengan pola manusia yang mulia.

Oleh karena itu, ketika Islam hanya tampil sebagai kumpulan ritual dan identitas, maka ia kehilangan daya transformatifnya. Sudah saatnya memahami Islam sebagai sumber inspirasi yang melahirkan kreativitas, kemajuan, dan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan.

Agama Sebagai Fenomena Alam

Sebagai bahan refleksi, persoalan yang sifatnya duniawi tidak akan jauh dengan kemanusiaan, politik, dan keagamaan. Meskipun bagi Freud dalam kajian psikoanalisis, religion ia anggap sebagai angan-angan manusia yang ilusif.

Namun berbeda bagi Karl Marx, yang mengaggap agama itu candu, sebagai obat mujarab makhluk yang tertindas. Artinya, agama tidak tumbuh secara natural dari rahim pengalaman manusia. Bukan semata konstruksi metafisik yang berdiri di ruang hampa, ia adalah fenomena alam.

Bagaimana bisa agama menjadi fenomena alam? Mula-mula perdebatan tentang definisinya hingga saat ini pun masih hangat dan melahirkan perspektif baru. Hemat saya, agama merupakan sistem sosial yang menyatukan para pemeluknya melalui keyakinan kepada satu atau lebih kekuatan supranatural yang diyakini sebagai sumber berkah, harapan, dan tuntunan hidup.

Diksi ‘sistem sosial’ menandakan adanya interaksi antar makhluk. Sebab agama tidak pernah hadir dalam kevakuman individual semata, melainkan selalu melibatkan komunitas, ritual bersama, simbol yang disepakati, serta lembaga yang menaunginya.

Karena itu, agama merupakan fenomena alam yang hadir, tumbuh, dan berkembang bersama dinamika kehidupan manusia serta terus berdialog dengan perubahan zaman.

Islam itu Agama atau Jargon Keselamatan?

Terkadang saya sendiri merenung jika ada pertanyaan seperti judul itu. Seakan-akan menohok kebiasaan berpikir yang saat ini saya anggap telah final. Sebab dalam praktiknya, tidak sedikit umat yang memperlakukan Islam sekadar sebagai jargon keselamatan.

Identitas keislaman disandang, ayat-ayat Al-Qur’annya menjadi pedang, namun fungsinya berhenti sebagai tiket masuk surga tanpa menuntut transformasi diri. Dalam hal ini Islam terjerembab dalam menenangkan kecemasan eskatologis, bukan sistem nilai yang hidup sehari-hari. Jadinya, identitas itu (bisa jadi) semakin digaungkan, semakin jauh pula jarak antara ucapan dan tindakan penganutnya.

Padahal secara definisi, Islam berakar kata dari “aslama”, “yuslimu”, “islaaman” yang berarti tunduk, patuh, dan selamat. Secara tersirat definisi tersebut menuntut proses aktif penganutnya untuk merealisasikan konsep-konsep keislaman yang dalam bahasa populernya rahmatan lil aalamiin.

Tetapi awalnya, Islam belum tampak sebagai agama, ia memiliki beberapa terma, seperti millah, nihlah, dan ad-diin. Millah berguna untuk agama yang ada nabi, kitab dan ajarannya, namun sudah hilang dan praktik serta ibadahnya tidak lagi seperti tradisi tauhid Nabi Ibrahim (Q.S: An Nahl:123).

Sedangkan nihlah, digunakan untuk agama lokal seperti Budha, Hindu, Kapitayan, Kaharingan, dan lainnya. Dan Ad-diin berguna untuk agama yang masih jelas nabinya, dan cara peribadatannya, simbolnya, syariatnya, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam. Jadi makin tampak jelas jika Islam memiliki ajaran yang valid, kredibel, dan bersandar kepada Allah Swt.

Penjelasan tersebut memiliki konsekuensi logis jika menilik pertanyaan Islam agama atau jargon keselamatan. Keduanya tidak ada yang salah, Islam sah sebagai agama dan juga harapan keselamatan hidup.

Islam Sebagai Inspriasi

Sadar maupun tidak, Islam hadir sebagai penyempurna bagi segala hal, termasuk memberikan inspirasi kepada umatnya. Namun hari ini, dalam konteks Indonesia mungkin belum sepenuhnya memahami Islam sebagai inspirasi. Buktinya, kasus kekerasan seksual di instansi keislaman bertambah marak terjadi. Tentu yang menjadi korban adalah perempuan.

Bukankah Islam sudah memerdekakan budak dan perempuan? Atau oknum agamis itu yang belum mengislamkan pola pikirnya? Seterang-terangnya tafsir terkait kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan telah termaktub dalam Al-Qur’an dan setidaknya jadikanlah kandungan Al-Qur’an sebagai inspirator.

Bahkan seorang non muslim pun berusaha meniru keindahan Al-Qur’an, baik secara linguistik, referensi, motivasi, hukum, etika, ibadah, dan sumber inspirasi. Seperti Musailamah Al-Kadzzab yang meragukan Islam dan mengaku menjadi nabi serta menulis kitab tandingan Qur’an. Kemudian literatur sastra milik sastrawan Irlandia James Joyce dengan judul Finnegans Wake yang gandrung sebagai Qur’an mimesis, dan buku berjudul The True Criterion / Al-Furqan al-Haqq terinspirasi dari segi I’Jaz Qur’an.

Masih banyak literatur lainnya yang terinspirasi dari ajaran Islam, anehnya dalam tindak laku, justru sebagian umat menjadikan Islam sebagai tameng, bukan cermin. Oknum pelaku kerap melakukan kekerasan seksual berkedok relasi kuasa agama, memanfaatkan otoritas simboliknya untuk melegitimasi kejahatan.

Ketika kasus terbongkar, lembaga lebih mengutamakan “nama baik” ketimbang keadilan korban, padahal Al-Qur’an tegas melarang mencampuradukkan hak dan batil (Q.S. Al-Baqarah [2]: 42). Pola sama muncul di ranah kebijakan: pejabat memakai simbol agama untuk pencitraan, sementara mengabaikan amanat keadilan sosial (Q.S. An-Nahl [16]: 90).

Begitu pula inklusivitas difabel padahal Q.S. ‘Abasa [80]: 1-10 jelas menegur dan memuliakan penyandang disabilitas, lembaga-lembaga masih minim menyediakan aksesibilitas dan masyarakat masih menyematkan stigma.

Maka Islam sejatinya adalah inspirasi yang tak pernah padam asal kita mau menghidupkannya, bukan sekadar mengklaimnya, sehingga segala perbuatan bernuansa kemanusiaan, dan berpola pikir kenabian. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.