Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Pedas Nampol! Cabai Habanero Lokal Pertama di RI Lahir dari Ilmuwan IPB

Pedas Nampol! Cabai Habanero Lokal Pertama di RI Lahir dari Ilmuwan IPB

pedas-nampol!-cabai-habanero-lokal-pertama-di-ri-lahir-dari-ilmuwan-ipb
Pedas Nampol! Cabai Habanero Lokal Pertama di RI Lahir dari Ilmuwan IPB
service

20 Juli 2026 09.03 WIB • 2 menit

Indonesia kini memiliki varietas cabai habanero lokal pertama yang resmi mendapat perlindungan negara. Inovasi ini membuka peluang pengembangan cabai superpedas yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan tropis Indonesia, sehingga mengurangi ketergantungan pada benih impor.

Empat varietas tersebut dikembangkan oleh Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof Muhamad Syukur bersama tim penelitinya. Seluruhnya telah terdaftar di Kementerian Pertanian sekaligus memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). 

Keempat varietas itu adalah Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.

“Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University,” ujar Prof Syukur, dikutip dari IPB University, Rabu (15/7/2026).

Lebih pedas dan tahan penyakit

Keunggulan utama keempat varietas ini terletak pada tingkat kepedasannya. Tingkat kepedasan cabai diukur menggunakan satuan Scoville Heat Units (SHU). Tabia Sala 1 IPB memiliki warna merah dengan tingkat kepedasan mencapai 1 juta hingga 1,3 juta SHU. 

Sementara itu, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB memiliki tingkat kepedasan sekitar 350.000 hingga 500.000 SHU dengan warna buah berturut-turut peach, oranye, dan kuning.

Cabai-cabai itu boleh saja pedas nampol. Para peneliti merancang agar varietas Habanero lokal ini mampu tumbuh optimal di iklim tropis Indonesia dan memiliki ketahanan terhadap penyakit keriting kuning yang selama ini menjadi salah satu kendala utama budidaya cabai.

Prof Syukur menjelaskan bahwa cabai habanero impor umumnya memiliki daya adaptasi yang rendah ketika ditanam di Indonesia. Karena itu, timnya melakukan pemuliaan untuk menghasilkan varietas yang lebih sesuai dengan kondisi lokal. Benih keempat varietas tersebut kini telah didiseminasikan sehingga dapat dimanfaatkan petani di berbagai daerah.

Menurut Prof Syukur, karakter superpedas juga memberi keuntungan dari sisi efisiensi penggunaan bahan baku. “Tingkat kepedasan yang tinggi membuat penggunaan cabai menjadi lebih efisien dalam industri pangan,” ujarnya. 

Salah satu perusahaan pengolahan di Bogor bahkan telah menunjukkan minat menggunakan varietas tersebut sebagai bahan baku cabai bubuk.

Selain industri pangan, cabai habanero lokal juga dinilai memiliki peluang memasuki pasar ekspor. Salah satu potensinya adalah sebagai bahan baku hot pack atau produk penghangat tubuh yang banyak digunakan di Korea Selatan saat musim dingin.

Butuh investasi jangka panjang

Pengembangan empat varietas habanero tersebut dimulai sejak 2020 dan membutuhkan waktu sekitar enam tahun hingga memperoleh perlindungan varietas tanaman. 

Proses panjang ini menunjukkan bahwa menghasilkan varietas unggul bukan hanya bergantung pada keahlian ilmiah, tetapi juga memerlukan dukungan riset yang berkelanjutan.

“Pertama tentu dana yang berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan yang mahal,” kata Prof Syukur.

Hingga kini, Prof Syukur telah menghasilkan lebih dari 30 varietas cabai unggul. Sebelumnya, ia bersama tim juga mengembangkan Cabai Palurah IPB yang memiliki bentuk menyerupai jambu air dengan tingkat kepedasan sangat tinggi. 

Menariknya, cabai tersebut berpotensi dimanfaatkan tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bahan baku biofarmaka, termasuk produk penghangat tubuh yang selama ini masih banyak mengandalkan bahan impor.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.