Tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik perjalanan kereta api yang aman setiap hari, terdapat sebuah fasilitas teknik yang telah beroperasi selama lebih dari satu abad. Berlokasi sekitar 500 meter dari Stasiun Kiaracondong, Bandung, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong menjadi pusat produksi sekaligus perawatan berbagai komponen penting yang menopang keselamatan jalur kereta api di Indonesia.
Didirikan pada 1921, fasilitas milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini bertanggung jawab memproduksi jembatan baja, peralatan inspeksi rel, hingga perlengkapan penanganan kondisi darurat yang digunakan di berbagai wilayah Jawa dan Sumatra.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan seluruh pekerjaan yang dilakukan di Balai Yasa Jembatan Kiaracondong memiliki hubungan langsung dengan keselamatan perjalanan kereta api.
“Setiap produk yang dihasilkan berangkat dari kebutuhan menjaga rel dan jembatan tetap aman dilalui perjalanan kereta api,” ujar Anne.
Sepanjang 2023 hingga 2025, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong berhasil menghasilkan 9.899 produk dan komponen yang terbagi dalam 26 jenis. Seluruh produk tersebut digunakan untuk pemeriksaan, perawatan, perbaikan, hingga penanganan kondisi khusus pada rel dan jembatan.
Produksi terbesar berupa 2.970 mata pecok yang digunakan pada alat pemadat batu pecah di bawah bantalan rel untuk menjaga posisi rel tetap stabil saat dilalui rangkaian kereta api. Selain itu, balai yasa juga memproduksi 587 penjepit rel sementara, 464 alat pengukur dan penyesuai lebar jalur, 399 mistar pemeriksa cacat rel, serta 290 alat ukur keausan rel yang membantu petugas melakukan pemeriksaan dengan tingkat akurasi tinggi.
“Keselamatan membutuhkan pemeriksaan yang teliti. Karena itu, alat ukur dan peralatan perawatan harus akurat, kuat, dan sesuai kebutuhan petugas di lapangan,” kata Anne.
Produksi Jembatan Baja hingga Peralatan Darurat Berkapasitas Puluhan Ton
Balai Yasa Jembatan Kiaracondong juga memegang peran penting dalam mendukung kesiapan penanganan kondisi darurat di jalur kereta api. Selama periode 2023–2025, fasilitas ini memproduksi 312 penyangga jembatan darurat dalam berbagai tipe. Beberapa di antaranya mampu menahan beban hingga 46 ton, sedangkan tipe 50 dapat menopang beban mencapai 83 ton.
Selain itu, balai yasa menghasilkan 603 pengikat rel untuk konstruksi jembatan darurat serta 132 cetakan tetrapod yang berfungsi melindungi pilar dan pangkal jembatan dari gerusan arus sungai.
“Produksi internal memperkuat kesiapan penanganan. Komponen dapat dibuat sesuai kebutuhan jalur sehingga petugas memiliki peralatan yang tepat saat melakukan pengamanan dan perbaikan,” ujar Anne.
Memasuki program kerja 2026, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong telah menyelesaikan penanganan satu jembatan baja sepanjang 40 meter dengan bobot mencapai 137,91 ton. Balai yasa juga menyelesaikan 16 komponen untuk empat jembatan di lintas Pekalongan–Sragi dengan total berat 3,236 ton.
Di sektor peralatan kerja, sebanyak 760 mata pecok telah selesai diproduksi. Sementara itu, produksi 75 set penyangga jembatan darurat telah mencapai progres 57,76 persen sesuai periode pelaporan.
Seluruh proses produksi dilakukan melalui tahapan pemotongan material, pembentukan baja, pengeboran, perakitan, pengelasan, hingga pelapisan permukaan baja untuk mengurangi risiko karat dan memperpanjang usia pakai. Fasilitas ini juga didukung mesin pemotong logam, mesin bor, mesin bubut, mesin pembentuk logam, peralatan las, ruang pelapisan baja, enam crane berkapasitas 10 ton, serta dua kendaraan pengangkat barang berkapasitas tiga ton.
Kembangkan Teknologi Digital Demi Masa Depan Keselamatan Kereta Api
Selain memproduksi jembatan dan berbagai alat kerja, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong juga terus melakukan inovasi melalui pengembangan sejumlah prototipe peralatan baru.
Salah satunya adalah dongkrak rel yang mampu menahan beban hingga 12 ton untuk mendukung pekerjaan perawatan jalur. Balai yasa juga mengembangkan alat digital yang dapat mengukur gelombang keausan permukaan rel sehingga potensi kerusakan dapat diketahui lebih cepat.
Pengembangan lainnya meliputi alat ukur keausan wesel, perangkat pemeriksa ketepatan alat ukur lebar jalur, hingga kendaraan kerja sederhana yang membantu petugas melakukan inspeksi di lapangan.
Seluruh inovasi tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan Balai Yasa Jembatan Kiaracondong menjadi Balai Yasa Jalan Rel dan Jembatan agar mampu mendukung kebutuhan pemeliharaan rel maupun jembatan secara lebih luas.
Per 1 Juni 2026, fasilitas ini didukung oleh 26 pekerja yang terdiri atas 21 pegawai KAI, dua petugas kebersihan, dan tiga petugas pengamanan. Para pegawai telah memiliki sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sementara sistem manajemen mutunya telah menerapkan standar internasional ISO 9001:2015.
“Pengembangan alat ukur dan peralatan kerja diarahkan untuk membantu petugas menemukan kondisi jalur lebih dini sehingga penanganan keselamatan dapat dilakukan secara tepat,” tutup Anne.
Dengan pengalaman lebih dari satu abad, Balai Yasa Jembatan Kiaracondong terus menjadi salah satu tulang punggung keselamatan perjalanan kereta api Indonesia. Mulai dari pembangunan jembatan baja berbobot ratusan ton hingga pengembangan alat ukur digital, seluruh hasil produksinya memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan rel dan jembatan tetap andal sebelum setiap perjalanan kereta api dimulai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.