Dana Brata Fitriawan Kusuma membayar biaya kuliah dari hasil bengkel
Sebuah motor bebek tua yang catnya kusam dan mesinnya mogok, jika di tangan Dana Brata Fitriawan Kusuma, bisa jadi sumber penghasilan yang mampu membayar biaya kuliah.
Ya, uang yang digunakan untuk membiayai kuliahnya itu, murni hasil keringatnya sendiri dari bengkel kecil di garasi rumah.
Kini, Dana resmi menyandang gelar sarjana dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Program Studi Teknik Manufaktur.
Bermula dari Tren yang Dilirik Anak SMK
Hasil usahanya yang saat ini mampu membiayai keperluan kuliah sebenarnya bertolak pada 2018. Kala itu, Dana masih kelas 2 SMK. Ia melihat tren restorasi motor retro mulai naik daun di kalangan penggemar otomotif.
Dana tidak hanya menjadi penikmat tren. Ia yang selangkah lebih maju, memutuskan terjun langsung dan mengambil peluang usaha.
“Saat itu saya masih SMK, dan melihat peluangnya menarik,” ujarnya, Senin (27/7/26), sebagaimana dikutip dari laman resmi UNY.
Keputusan itu terbilang berani untuk anak seusianya. Sementara teman-teman sebayanya sibuk menabung uang jajan, Dana mulai belajar membongkar dan merakit ulang motor bekas.
Kenapa Motor Bebek Lawas?
Dana tidak asal pilih motor. Ia fokus pada model-model bebek klasik seperti Honda C-70, Astrea 800, Astrea Prima, Astrea Grand, Honda Win, hingga Honda Supra X.
Alasannya praktis. Suku cadang motor-motor ini masih relatif mudah dicari di pasaran, meski usianya sudah puluhan tahun. Sebab, dalam dunia restorasi kendaraan, ketersediaan onderdil orisinal atau yang sepadan adalah salah satu kendala terbesar.
Kawan, perlu digarisbawahi bahwa restorasi berbeda dengan modifikasi. Modifikasi mengubah tampilan motor sesuai selera pemilik. Sebaliknya, restorasi sifatnya mengembalikan motor ke wujud aslinya, semirip mungkin dengan kondisi saat baru keluar pabrik. Makanya, ketersediaan suku cadang adalah aspek yang cukup penting.
“Prinsip restorasi adalah membuat kendaraan kembali seperti baru, sesuai bentuk aslinya,” kata Dana.
Oleh karena itu, bengkel tersebut diberi nama Bebek Restorasi.
Kuliah Sambil Kejar Tenggat Bengkel
Menjalankan usaha sambil kuliah bukan perkara mudah, apalagi di jurusan teknik yang dikenal padat praktikum dan tugas. Dana harus pintar membagi waktu.
Tantangannya bukan cuma soal waktu. Ia juga harus memutar otak mencari suku cadang yang kadang langka, sekaligus menjaga standar kualitas hasil restorasi agar tetap layak jual.
Soal harga, warga Gesikan, Sidoarum, Sleman ini mematok tarif jasa restorasi sekitar Rp8 juta per unit. Itu pun belum termasuk biaya penggantian suku cadang.
Skala usahanya memang tidak besar. Dalam sebulan, bengkelnya hanya sanggup menangani maksimal lima unit motor. Wajar, sebab satu motor butuh waktu pengerjaan antara dua minggu sampai satu bulan, tergantung tingkat kerusakan dan kelengkapan komponen yang harus diganti.
Kerja kerasnya kini membuahkan hasil. Selain menutup kebutuhan hidup sehari-hari, penghasilan dari bengkel inilah yang membiayai kuliahnya sampai lulus.
Usahanya pun tidak jalan di tempat. Dana mulai menggandeng rekan kerja dan pelanggannya kini datang dari berbagai daerah, tidak hanya seputar Sleman atau Yogyakarta.
Ia juga aktif mencari jalur pengembangan usaha lewat kampus, salah satunya Program Mahasiswa Wirausaha dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Lewat program ini, Dana bahkan sempat menyabet juara pertama tingkat nasional pada 2022.
Kini, setelah dinyatakan lulus, alumni SMKN 3 Yogyakarta ini tidak berencana menghentikan usahanya walaupun gelar sarjana sudah ada di tangan. Sebaliknya, ia ingin membesarkan bengkelnya menjadi usaha yang lebih profesional dan berskala lebih luas, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi orang lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



Comments are closed.