Sudah beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap kali traveling ke Eropa saya selalu berusaha mengombinasikan perjalanan dengan umrah.
Kebetulan sebagian besar tiket promo yang saya beli menggunakan maskapai Saudia. Maskapai ini sering menawarkan jadwal transit di Jeddah yang cukup panjang sehingga bisa dimanfaatkan untuk beribadah di Mekkah sebelum melanjutkan penerbangan ke tujuan akhir.
Kalau dihitung-hitung, ini sudah menjadi umrah transit saya yang keempat.
- Transit sekitar 80 jam saat perjalanan ke Istanbul.
- Transit sekitar 10 jam saat perjalanan ke Maroko.
- Transit sekitar 70 jam saat perjalanan pulang dari Milan ke Jakarta.
- Dan kali ini, transit 15 jam saat perjalanan menuju Milan.
Benar-benar konsep “sambil menyelam minum air.” Salah satu alasan saya selalu menyempatkan umrah meskipun hanya beberapa jam adalah karena ingin memanfaatkan kesempatan beribadah di Masjidil Haram. Ada keistimewaan yang selalu membuat saya rindu kembali ke sana, yaitu keutamaan salat di Masjidil Haram yang nilainya jauh lebih besar dibanding salat di masjid lain.
Rasanya sayang sekali kalau sudah transit cukup lama di Jeddah tetapi tidak dimanfaatkan.
Sayangnya, mengurus visa transit Saudi sekarang tidak semudah beberapa tahun lalu. Dulu saya selalu mengajukan visa transit secara online dan gratis. Prosesnya cepat dan hampir tanpa kendala. Sedangkan untuk perjalanan kali ini saya terpaksa harus mengurus visa secara offline melalui kantor Tasheer Jakarta dengan biaya sekitar Rp1,6 juta. Cukup menguras kantong juga.
Ke depan saya ingin mencoba opsi lain, yaitu menggunakan Visa on Arrival (VOA) Saudi dengan memanfaatkan visa Schengen yang masih berlaku. Dari informasi yang saya dapatkan, visa tersebut berlaku multiple entry dengan masa berlaku hingga satu tahun. Sepertinya menarik untuk dicoba pada perjalanan berikutnya.
Saat check-in di Bandara Soekarno-Hatta, kami sempat bertanya apakah bagasi bisa langsung diteruskan ke Milan. Alhamdulillah bisa. Jadi kami tidak perlu mengambil koper di Jeddah lalu check-in ulang sebelum melanjutkan penerbangan. Karena transit hanya sekitar 15 jam, kami cukup membawa pakaian ganti dan perlengkapan umrah di dalam ransel.
Pesawat berangkat sekitar pukul 10 pagi dan tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, sekitar pukul 4 sore waktu setempat. Miqat kami ambil di dalam pesawat. Teman-teman laki-laki sudah berganti pakaian ihram sekitar dua jam sebelum melewati miqat.
Untuk transportasi dari bandara menuju Mekkah, saya memesan layanan Hujjaj Transport melalui WhatsApp. Harga satu mobil berkapasitas maksimal tujuh orang sekitar 330 SAR, dan pembayarannya dilakukan langsung kepada sopir saat penjemputan. Sebenarnya saya sempat ingin menggunakan taksi online. Namun teman yang biasa jadi Tour Leader Umrah menyarankan memakai jasa penjemputan karena katanya sekarang cukup banyak petugas yang berjaga di Terminal 1 dan proses keluar bandara akan lebih mudah jika sudah memiliki kendaraan yang jelas.
Setelah tiba di bandara, memang terlihat cukup banyak petugas yang beberapa kali memeriksa visa. Meski begitu, menurut saya sebenarnya tidak wajib dijemput. Yang terpenting kita sudah memahami sistem transportasi dari bandara dan tahu titik penjemputannya.
Nah… justru bagian mencari sopir inilah yang menjadi drama kecil kami.
Saya mendapat pesan singkat dari sopir: “Please come to Albek parking lot.”
Saya langsung bingung.
Albek itu apa? Di mana?
Sementara sopir membalas chat cukup lama.
Kami pun mencoba bertanya kepada petugas bandara. “Where is Albek?”
Petugas menunjuk ke arah lantai atas. Kami naik eskalator lagi.
Tidak lama kemudian sopir mengirim foto sebuah restoran cepat saji.
Ternyata, maksudnya Albaik! Ya ampun.
Kalau dari awal dia menulis “Albaik”, saya pasti langsung paham.
Rupanya titik jemput berada di area parkir dekat restoran Albaik yang ada di bandara.
Untung akhirnya kami berhasil bertemu juga.
Sekitar pukul enam sore kami tiba di hotel. Saat itu jalanan menuju Masjidil Haram sedang ramai karena banyak orang bersiap melaksanakan salat Magrib.
Kami menginap di Emaar Al Khalil Hotel, sekitar 500 meter dari pelataran Masjidil Haram. Saya cukup suka lokasi hotel ini. Dan ini keduakalinya saya menginap di hotel ini. Jalannya relatif datar tanpa tanjakan, tinggal berjalan lurus menyusuri Jalan Ibrahim Al Khalil. Di kanan-kiri jalan juga banyak hotel, toko, dan restoran sehingga terasa hidup hampir 24 jam.
Setelah check-in dan salat Magrib di hotel, kami langsung berjalan menuju Masjidil Haram. Ternyata akses menuju area mataf masih ditutup dan baru dibuka setelah salat Isya. Akhirnya kami menunggu sambil melaksanakan salat Isya berjamaah. Begitu mataf dibuka, kami langsung memulai tawaf. Saya pribadi selalu memilih tawaf di lantai dasar. Memang lebih padat. Tetapi sensasinya berbeda. Berada sangat dekat dengan Ka’bah selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Begitu pula saat sa’i. Saya juga lebih suka melaksanakannya di lantai dasar meskipun harus berjalan bersama ribuan jamaah lainnya.
Umrah kami selesai sekitar pukul sebelas malam. Perut mulai keroncongan. Belum makan sejak turun dari pesawat. Kami pun mampir ke restoran di samping hotel dan memesan nasi kebuli lengkap dengan seekor ayam utuh yang disajikan di atas nampan besar. Porsinya cukup untuk kami berempat. Nikmat sekali rasanya setelah berjalan belasan kilometer selama rangkaian ibadah umrah.
Alarm berbunyi pukul 03.30 dini hari. Kami kembali bersiap menuju Masjidil Haram untuk salat Subuh. Sebelum masuk area masjid, kami sempat berjalan-jalan sebentar ke arah hotel Address Jabal Omar untuk foto di eskalator dan hotel yang beberapa waktu lalu viral di media sosial karena pemandangannya yang mengarah ke Masjidil Haram.
Suasananya masih tenang. Udara dini hari terasa jauh lebih nyaman dibanding malam sebelumnya. Setelah salat Subuh, waktunya kembali ke hotel untuk bersiap menuju bandara. Saya meminta bantuan bellboy hotel mencarikan taksi. Akhirnya kami mendapatkan sebuah van dengan tarif 250 SAR untuk enam orang. Sempat ada sedikit drama lagi. Mobil kami terhalang truk sampah yang sedang bekerja sehingga tidak bisa langsung keluar. Posisi waktu sudah mulai mepet. Jujur saja, saya mulai deg-degan. Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Mobil akhirnya bisa keluar dan kami langsung melaju menuju Bandara Jeddah.
Bahkan kami masih sempat membeli Albaik untuk dibawa ke pesawat sebagai bekal makan siang. Alhamdulillah…
Transit 15 jam itu terasa sangat singkat.
Tetapi cukup untuk kembali menginjakkan kaki di Masjidil Haram, menyelesaikan ibadah umrah, lalu melanjutkan perjalanan menuju Milan.







Comments are closed.