Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menutupi Aib Pelaku Kekerasan Seksual Bukan Ajaran Islam

Menutupi Aib Pelaku Kekerasan Seksual Bukan Ajaran Islam

menutupi-aib-pelaku-kekerasan-seksual-bukan-ajaran-islam
Menutupi Aib Pelaku Kekerasan Seksual Bukan Ajaran Islam
service

“Sudahlah, jangan dibesar-besarkan. Kasihan keluarganya.”

“Kalau kasus ini tersebar, nama lembaga akan rusak.”

Mubadalah.id – Kalimat-kalimat semacam ini sering muncul ketika kasus kekerasan seksual terungkap, terlebih jika pelakunya adalah orang yang kita hormati atau memiliki posisi penting di masyarakat. Alih-alih memastikan korban memperoleh perlindungan dan keadilan, perhatian justru bergeser pada bagaimana menjaga nama baik pelaku atau institusi. Meminta korban untuk diam, sementara pelaku tetap berada pada posisinya tanpa pertanggungjawaban yang jelas.

Ironisnya, sikap tersebut sering terbungkus dengan dalih agama. Hadis tentang keutamaan menutup aib sesama muslim terpahami secara sepotong-sepotong, seolah-olah setiap keburukan harus tersembunyikan, termasuk kejahatan yang telah merenggut rasa aman, martabat, dan masa depan orang lain. Padahal, pemahaman seperti itu justru bertentangan dengan tujuan utama syariat Islam yang menegakkan keadilan dan melindungi manusia dari segala bentuk kezaliman.

Di sisi lain, banyak korban mengalami hambatan untuk mencari keadilan. Mereka menghadapi tekanan agar tidak membawa kasus ke ranah hukum demi menjaga nama baik pesantren. Dalam beberapa kesaksian, korban bahkan terancam agar tidak menceritakan pengalaman mereka kepada siapa pun karena khawatir akan merusak citra lembaga.

Fenomena ini bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan sistem. Ketika nama baik lembaga kita tempatkan di atas keselamatan korban, yang sebenarnya sedang kita jaga bukanlah nilai-nilai agama, melainkan reputasi kekuasaan. Akibatnya, korban kehilangan ruang aman untuk berbicara, sementara pelaku memperoleh perlindungan yang tidak semestinya.

Islam Melarang Melindungi Kezaliman

Islam tidak pernah memerintahkan umatnya melindungi kezaliman. Allah Swt. berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kaum kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135)

Ayat ini menunjukkan bahwa keadilan harus kita tegakkan tanpa memandang siapa pelakunya. Kedudukan sosial, jabatan keagamaan, ataupun kehormatan sebuah institusi tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan proses pencarian kebenaran.

Begitu pula hadis tentang menutup aib tidak dapat kita pahami secara terpisah dari prinsip-prinsip keadilan dalam Islam. Menutup aib berarti tidak menyebarluaskan dosa pribadi seseorang yang telah disesali dan tidak membahayakan orang lain. Namun, ketika yang terjadi adalah tindak kekerasan seksual, persoalannya telah berubah menjadi pelanggaran terhadap hak orang lain. Ada korban, ada trauma yang harus terpulihkan, dan ada kemungkinan munculnya korban berikutnya apabila pelaku tidak kita hentikan.

Karena itu, mengungkap kejahatan bukanlah membuka aib, melainkan mencegah kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Dalam konteks kekerasan seksual, membiarkan pelaku tetap bebas demi menjaga nama baik justru berarti membiarkan kemungkaran terus berlangsung. Diam bukan lagi bentuk kebijaksanaan, tetapi dapat berubah menjadi pembiaran terhadap kezaliman.

Berpihak kepada Korban adalah Bagian dari Menegakkan Keadilan

Islam mengajarkan agar setiap manusia kita perlakukan dengan adil dan bermartabat. Karena itu, ketika terjadi kekerasan seksual, perhatian utama seharusnya tertuju pada keselamatan korban, penghentian kejahatan, dan pemulihan hak-haknya.

Dari cara pandang inilah, berpihak kepada korban tidak berarti membenci pelaku atau memusuhi sebuah lembaga. Sebaliknya, keberpihakan kepada korban merupakan upaya menghentikan kezaliman agar tidak terus berulang. Korban berhak memperoleh perlindungan, pendampingan, dan pemulihan. Pelaku harus bertanggung jawab atas perbuatannya agar tidak menimbulkan korban baru.

Sementara itu, lembaga memiliki tanggung jawab untuk membenahi sistem, memperkuat mekanisme pencegahan, dan memastikan ruang yang aman bagi setiap orang. Dengan demikian, keadilan tidak kita maknai sebagai menghancurkan seseorang, melainkan memulihkan kehidupan bersama yang lebih aman dan bermartabat.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Korban diminta memaafkan sebelum proses hukum berjalan. Korban diminta menjaga nama baik keluarga atau lembaga. Bahkan, tidak sedikit korban yang diminta memikirkan masa depan pelaku. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, hampir tidak ada yang bertanya bagaimana kondisi korban setelah mengalami kekerasan, bagaimana ia harus menjalani hidup dengan trauma, atau bagaimana ia membangun kembali rasa aman yang telah dirampas darinya.

Cara pandang seperti ini menunjukkan bahwa empati kita masih sering salah arah. Kita lebih mudah merasa kasihan kepada pelaku karena kehilangan jabatan, nama baik, atau kedudukannya daripada kepada korban yang kehilangan rasa aman dan harus menanggung luka dalam waktu yang panjang.

Padahal, Islam mengajarkan untuk berpihak kepada orang yang dizalimi dan menghentikan setiap bentuk kezaliman. Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengajarkan agar kejahatan disembunyikan demi menjaga citra seseorang atau sebuah lembaga. Sebaliknya, beliau menegakkan keadilan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Nama Baik Tidak Dibangun Dengan Menyembunyikan Kejahatan

Menjaga nama baik lembaga tentu penting. Namun, nama baik tidak terbangun dengan menyembunyikan kejahatan. Kepercayaan masyarakat justru tumbuh ketika sebuah lembaga berani mengakui adanya masalah, melindungi korban, menindak pelaku secara adil, dan membangun sistem yang mampu mencegah kekerasan terjadi kembali. Keberanian untuk berbenah merupakan bentuk tanggung jawab moral yang jauh lebih bermakna daripada sekadar mempertahankan citra.

Karena itu, menutupi aib pelaku kekerasan seksual atas nama agama hanya akan memperpanjang rantai kekerasan dan membuka peluang munculnya korban-korban baru. Sebaliknya, mengungkap kebenaran, mendampingi korban, dan menegakkan keadilan merupakan ikhtiar untuk menjaga nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Sebab, agama tidak pernah hadir untuk melindungi kezaliman. Agama hadir untuk menjaga kehidupan, kehormatan, dan hak setiap manusia. Karena itu, jika kita menginginkan diri kita, anak-anak kita, atau orang-orang yang kita cintai mendapat perlindungan ketika menjadi korban, maka perlindungan yang sama juga harus kita berikan kepada siapa pun yang mengalami ketidakadilan.

Tidak boleh ada perbedaan perlakuan hanya karena pelakunya memiliki jabatan, pengaruh, atau kedudukan yang kita hormati. Ketika kita memilih melindungi korban, mendorong pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya, serta membangun sistem yang mampu mencegah kekerasan terulang, saat itulah nilai-nilai Islam tentang keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia benar-benar kita wujudkan dalam kehidupan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.