
Langit Jabodetabek belum sepenuhnya terang ketika jutaan orang mulai meninggalkan rumah. Ada yang berpamitan kepada anak yang masih terlelap, ada yang menyiapkan bekal sederhana sebelum berangkat, hingga berlari mengejar kereta agar tidak terlambat masuk kerja.
Rutinitas itu terjadi setiap hari. Di balik padatnya peron dan gerbong Commuter Line, tersimpan kisah para pekerja, pedagang, tenaga pelayanan publik, mahasiswa, hingga pelaku usaha yang menjadi tulang punggung keluarga. Bagi mereka, perjalanan menggunakan kereta bukan sekadar mobilitas, tetapi bagian dari perjuangan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan orang-orang tercinta.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat Commuter Line Jabodetabek melayani 178.001.308 perjalanan selama Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut menggambarkan betapa besarnya peran transportasi berbasis rel dalam menopang kehidupan masyarakat sekaligus menjaga roda perekonomian kawasan metropolitan tetap bergerak.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pola perjalanan selama Semester I 2026 menunjukkan tingginya kebutuhan transportasi pada hari kerja.
“Di dalam setiap perjalanan terdapat harapan yang dibawa dari rumah. Ada orang tua yang berangkat bekerja untuk biaya sekolah anaknya, ada pekerja yang mengejar waktu agar penghasilannya tetap terjaga, serta ada pedagang dan pelaku usaha yang menggantungkan aktivitasnya pada kelancaran perjalanan. Mereka adalah tulang punggung keluarga yang setiap hari mempercayakan perjalanannya kepada Commuter Line,” ujar Anne.
Hari Kerja Jadi Momen Tersibuk, Kepadatan Tak Sekadar Soal Angka
Data KAI menunjukkan rata-rata perjalanan Commuter Line pada Senin hingga Jumat mencapai sekitar 1,05 juta perjalanan per hari. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan akhir pekan yang rata-rata berada di kisaran 813,6 ribu perjalanan per hari atau meningkat sekitar 29,3 persen.
Tak heran jika sepanjang Semester I 2026, sekitar 135,7 juta perjalanan atau 76,2 persen dari total perjalanan terjadi pada hari kerja. Kepadatan paling tinggi berlangsung pada pagi dan sore hari ketika masyarakat berangkat menuju tempat kerja dan kembali ke rumah.
Namun bagi para pelanggan, kondisi padat bukan sekadar statistik operasional. Di dalam gerbong yang penuh terdapat orang tua yang ingin segera pulang menemui anaknya, pekerja yang telah berdiri berjam-jam setelah seharian bekerja, hingga mereka yang berharap bisa tiba di rumah dengan selamat sebelum kembali menjalani aktivitas keesokan harinya.
“Ketika pelanggan berdesakan pada jam sibuk, yang kita lihat bukan sekadar tingginya permintaan perjalanan. Di sana ada para tulang punggung keluarga yang berusaha tiba di tempat kerja tepat waktu dan pulang membawa hasil jerih payahnya. Karena itu, peningkatan kapasitas menjadi kebutuhan yang perlu dijawab bersama,” kata Anne.
Menurutnya, kelancaran layanan Commuter Line sangat berpengaruh terhadap produktivitas Jabodetabek. Ketepatan waktu pekerja, aktivitas usaha, akses menuju pusat pendidikan maupun pelayanan publik sangat bergantung pada sistem transportasi perkotaan yang andal.
KAI Dorong Penambahan Kapasitas Demi Mobilitas yang Lebih Nyaman
Anne menjelaskan peningkatan jumlah pengguna perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas secara bertahap. Upaya tersebut mencakup penambahan sarana, peningkatan kapasitas lintas dan stasiun, penguatan sistem persinyalan dan kelistrikan, hingga optimalisasi pola operasi.
“Dukungan Pemerintah terhadap penambahan sarana dan penguatan prasarana sangat berarti bagi masyarakat. Setiap tambahan kapasitas akan menghadirkan ruang perjalanan yang lebih layak, mengurangi kepadatan, dan memberikan kenyamanan lebih baik bagi jutaan pelanggan yang menggantungkan mobilitas hariannya pada Commuter Line,” ujar Anne.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengguna Commuter Line terus menunjukkan tren positif. Dari 168 juta perjalanan pada 2021, meningkat menjadi 252 juta pada 2022, 331 juta pada 2023, 328,2 juta pada 2024, dan 349,3 juta perjalanan pada 2025. Sementara itu, hanya dalam enam bulan pertama 2026, jumlah perjalanan sudah mencapai 178 juta.
Penguatan layanan juga terlihat dari bertambahnya jumlah stasiun, dari 71 stasiun pada 2015 menjadi 85 stasiun pada 2026, termasuk hadirnya Stasiun Jatake dan Stasiun Jakarta International Stadium yang memperluas akses masyarakat menuju kawasan hunian dan pusat aktivitas baru.
Di sisi operasional, perjalanan KRL meningkat dari 881 perjalanan per hari pada 2015 menjadi 1.063 perjalanan per hari pada 2025. Lintas Bogor masih menjadi yang tersibuk dengan sekitar 155 juta perjalanan sepanjang 2025, disusul lintas Cikarang, Rangkasbitung, Tangerang, dan Tanjung Priok.
Menutup pernyataannya, Anne menegaskan bahwa setiap perjalanan Commuter Line memiliki makna lebih dari sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
“Bagi sebagian orang, perjalanan dengan Commuter Line mungkin terlihat sebagai rutinitas. Namun, bagi jutaan tulang punggung keluarga, perjalanan itu adalah bagian dari perjuangan untuk menjaga dapur tetap menyala, membiayai pendidikan anak, serta membawa harapan pulang ke rumah. Setiap peningkatan kapasitas berarti perjalanan yang lebih layak bagi mereka yang setiap hari bekerja untuk orang-orang yang dicintainya,” tutup Anne.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor




Comments are closed.