Kemunculan orong-orong di dalam rumah kerap memicu kepanikan. Bentuk tubuhnya yang menyerupai perpaduan jangkrik dan tikus tanah membuat serangga ini terlihat tidak biasa. Padahal, orong-orong bukanlah hewan berbahaya bagi manusia.
Orong-orong merupakan serangga dari famili Gryllotalpidae dalam ordo Orthoptera, kelompok yang sama dengan jangkrik dan belalang. Panjang tubuhnya berkisar antara 3 hingga 5 sentimeter dengan bentuk silindris dan kepala meruncing. Tubuhnya dilapisi bulu-bulu halus yang membantu mengurangi gesekan saat bergerak di dalam tanah.
Ciri paling khas terdapat pada sepasang kaki depannya yang lebar, kuat, dan bergerigi. Bentuk kaki tersebut menyerupai sekop kecil sehingga memungkinkan orong-orong menggali tanah dengan sangat efisien. Kemampuan inilah yang membuatnya dikenal dalam bahasa Inggris sebagai mole cricket.
Di berbagai daerah di Indonesia, serangga ini juga memiliki banyak nama lokal, seperti gangsir, sesorok, anjing tanah, gaang, hingga singke.
Bermunculan saat musim hujan
Sebagian besar hidup orong-orong dihabiskan di bawah permukaan tanah yang lembab, biasanya pada kedalaman sekitar 15 hingga 20 sentimeter. Mereka membuat jaringan liang sebagai tempat berlindung sekaligus mencari makanan.
Saat musim hujan, kondisi tersebut berubah. Curah hujan yang tinggi dapat menggenangi liang-liang tempat mereka hidup sehingga orong-orong terpaksa keluar mencari lokasi yang lebih kering. Inilah alasan mengapa serangga ini lebih sering terlihat berkeliaran atau bahkan masuk ke dalam rumah ketika hujan deras.
Selain mencari tempat yang tidak tergenang, orong-orong dewasa juga memiliki sifat nokturnal atau aktif pada malam hari. Mereka tertarik pada cahaya lampu yang terang sehingga sering ditemukan di teras, halaman, maupun bagian dalam rumah yang pintu atau jendelanya terbuka.
Meski bentuknya menyeramkan, orong-orong tidak memiliki racun maupun alat sengat. Serangga ini memang dapat menggigit jika dipegang secara langsung sebagai bentuk pertahanan diri, tetapi gigitannya umumnya tidak berbahaya.
Hama yang Merugikan Pertanian
Di sisi lain, orong-orong menjadi salah satu hama yang cukup diperhatikan di sektor pertanian. Serangga ini bersifat polifag, artinya mampu memakan berbagai jenis tanaman.
Mereka menyerang akar, umbi, serta tunas muda tanaman seperti padi, jagung, sayuran, hingga rumput. Kerusakan pada sistem perakaran membuat tanaman kehilangan kemampuan menyerap air dan nutrisi secara optimal sehingga pertumbuhannya terganggu, layu, bahkan mati.
Aktivitas menggali terowongan di bawah tanah juga dapat mengubah struktur tanah dan merusak jaringan akar dalam skala yang lebih luas. Di sejumlah negara, termasuk Australia, beberapa spesies orong-orong bahkan dikenal sebagai hama yang merusak hamparan rumput lapangan golf.
Karena itu, pengendalian populasi orong-orong biasanya dilakukan melalui berbagai cara. Pengolahan tanah secara intensif dapat merusak liang sekaligus menemukan telur dan nimfa yang bersembunyi di dalamnya. Cara lain yang lebih ramah lingkungan adalah memanfaatkan musuh alami, seperti burung, ayam, laba-laba, atau nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae yang mampu menginfeksi orong-orong di dalam tanah.
Penggunaan insektisida menjadi pilihan terakhir karena berpotensi mengganggu organisme tanah lain yang juga berperan penting bagi ekosistem.
Bisa disantap
Meski tubuhnya tampak berat dan lebih sering hidup di dalam tanah, serangga dewasa ternyata mampu terbang hingga sekitar delapan kilometer saat musim kawin untuk mencari pasangan.
Orong-orong jantan juga menghasilkan suara keras yang monoton menggunakan organ stridulasi sebagai cara menarik perhatian betina. Suara itu akan langsung berhenti ketika mereka merasakan adanya gangguan di sekitar liang.
Serangga ini juga memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi. Seekor betina dapat menghasilkan hingga 300 telur dalam satu siklus reproduksi, sehingga populasinya dapat meningkat dengan cepat jika kondisi lingkungan mendukung.
Di beberapa negara Asia Timur, seperti China dan Korea, orong-orong bahkan dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Sekresi tubuhnya dipercaya digunakan untuk membantu mengatasi retensi urin, batu saluran kemih, bisul, hingga limfangitis, meski manfaat tersebut masih terus diteliti secara ilmiah.
Orong-orong juga dikonsumsi sebagai pangan di beberapa wilayah. Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 139/MUI/IV/2000, serangga ini dinyatakan halal untuk dikonsumsi karena berasal dari ordo yang sama dengan belalang dan jangkrik, selama tidak membahayakan kesehatan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



Comments are closed.