● Sikap fatalistik yang pasrah akan bencana bisa lahir dari pemahaman yang sempit tentang takdir.
● Kegagalan sistem mitigasi dan absennya negara memperkuat kepasrahan masyarakat.
● Agama sebenarnya bisa menjadi modal mitigasi dan motivasi bangkit dari bencana.
Indonesia merupakan salah satu negara paling terdampak oleh perubahan iklim. Sepanjang tahun 2025, sekitar 70–90% bencana yang terjadi bersifat hidrometeorologis, dengan banjir sebagai bencana yang paling dominan. Pulau Sumatra termasuk salah satu yang paling rentan terhadap bencana ini.
Bencana Sumatra pada akhir November 2025 menjadi salah satu bukti nyata. Saat itu, cuaca ekstrem akibat siklon tropis senyar yang berpadu dengan kerusakan ekosistem dan deforestasi menewaskan lebih dari seribu jiwa di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Ancaman ini pun tak pernah benar-benar surut. Pada awal Agustus 2026, misalnya, cuaca ekstrem kembali memicu curah hujan yang mengepung 15 titik banjir di Kota Padang, Sumatra Barat, seiring deforestasi yang terjadi di hulu.
Namun, di tengah bencana yang terus berulang dan merenggut ribuan nyawa, masih sering muncul respons dari warga: “Kalau sudah takdir, tidak bisa dihindari.”
Sebagai orang yang meneliti isu krisis ekologis di Sumatra Barat selama tiga tahun belakangan, saya mendapati ungkapan kepasrahan ini sudah menjadi narasi keseharian masyarakat lokal di wilayah rawan bencana. Riset lainnya juga menemukan, sebagian warga Sumatra Barat memaknai musibah secara fatalistik sebagai azab Tuhan.
Mereka yang hidup dengan pola pikir fatalis ini memosisikan bencana alam murni sebagai kehendak supranatural, ujian, atau takdir mutlak yang sepenuhnya berada di luar kendali manusia. Akibatnya, masyarakat cenderung tidak bersiap sebelum dan ketika bencana datang. Mereka tak pula mencari siapa biang penyebabnya.
Pertanyaan krusialnya: Apakah sikap fatalistik ini memang lahir dari ajaran agama? Atau kah ada faktor-faktor struktural dan sistemik lain yang membuat masyarakat hanya bisa berpasrah?
Read more: Angka deforestasi meningkat, bayang-bayang krisis dan bencana mengintai
Mengapa orang berpasrah?
Sikap berpasrah acap kali dilekatkan dengan nilai-nilai agama. Padahal agama tidak pernah mengajarkan pasrah sebelum berusaha.
Kesalahan pola pikir ini terjadi karena ajaran tentang takdir dipahami secara sempit. Agama lantas direduksi menjadi sekadar bentuk eskapisme, sebuah pelarian imajinatif untuk mencari ketenteraman batin instan di tengah ketidakpastian dan penderitaan akibat bencana.
Tetapi, fatalisme tidak tumbuh subur hanya karena penafsiran teologis yang kaku. Kepasrahan kolektif ini sesungguhnya adalah dampak dari berbagai masalah struktural yang tak kunjung usai dan pada akhirnya membuat mayoritas masyarakat merasa tidak berdaya.
Ada banyak faktor yang memicu bencana di samping cuaca ekstrem. Di antaranya adalah maraknya alih fungsi lahan dan praktik eksploitasi alam yang mengabaikan daya dukung lingkungan. Terlihat dari data terbaru, angka deforestasi 2025 mencapai 433.751 hektare—melonjak 66% dibanding tahun sebelumnya.
Lonjakan masif deforestasi termasuk jadi penyebab bencana longsor-banjir dahsyat tiga provinsi di Sumatra pada pengujung 2025: Aceh (426%), Sumatra Utara (281%), dan Sumatra Barat mencapai 1.034%. Belum ada kebijakan atau penegakan hukum yang tegas untuk mengurangi laju deforestasi.


Sementara itu, mitigasi bencana lemah, edukasi bencana minim, dan sistem peringatan dini belum tersedia atau belum berfungsi optimal di sejumlah wilayah rawan. Proses relokasi pun berjalan lambat, dengan peta risiko bencana belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam perencanaan pembangunan serta tata ruang.
Ketika negara absen dan sistem mitigasi gagal melindungi warga, kepasrahan menjadi rasionalisasi logis dan mekanisme pertahanan diri untuk tetap bertahan.
Jadi sebenarnya fatalisme bukanlah karakter bawaan (innate) masyarakat Sumatra Barat, dan bukan pula konsekuensi otomatis dari meluasnya konservatisme agama.
Sikap pasrah tersebut sering kali terbentuk melalui pengalaman panjang menghadapi bencana yang terus berulang tanpa mitigasi nyata, minimnya pilihan hidup, absennya literasi risiko berbasis sains, serta lemahnya perlindungan dari negara.
Kombinasi ini memunculkan trauma dan rasa ketidakberdayaan.
Agama bisa jadi alat mitigasi
Akar persoalan fatalistik sama sekali bukan terletak pada ajaran agama, melainkan pada bagaimana penafsiran dan pemahaman masing-masing orang.
Agama justru sebenarnya berpotensi menjadi modal besar dalam strategi mitigasi bencana.
Ulama dan tokoh agama masyarakat yang memiliki legitimasi dan otoritas kultural kuat, misalnya, bisa berperan krusial dalam mengubah cara pandang masyarakat: dari bencana sebagai takdir absolut menjadi bencana sebagai risiko yang bisa diatasi.
Di Dusun Sangurejo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) misalnya, para tokoh agama turun tangan mendorong perubahan perilaku masyarakat lewat bahasa agama dan aksi lingkungan berbasis agama seperti “Kiai Peduli Sampah”.
Read more: Dari Dusun Sangurejo kita belajar: ‘Framing’ agama ampuh gerakkan aksi lingkungan
Agama juga bisa menjadi instrumen strategis untuk menyebarkan pesan-pesan lingkungan. Pendidikan kesiapsiagaan bencana yang sering kali diabaikan bisa disemai secara efektif lewat saluran-saluran keagamaan, seperti materi khotbah, kurikulum majelis pengajian, sekolah agama, hingga aktivitas harian di rumah ibadah.
Upaya mengurangi tingginya tingkat fatalisme tentu tidak bisa berhenti dengan meminta atau mendidik masyarakat mengubah cara pandangnya.
Perubahan pola pikir tersebut harus diiringi dengan tindakan negara membangun kota layak huni, ekonomi restoratif (memulihkan lingkungan), dan sistem mitigasi jangka panjang yang andal.
Pemerintah juga perlu memperkuat literasi kebencanaan warga sejak dini, serta melibatkan secara aktif nilai-nilai agama sebagai fondasi utama untuk berikhtiar secara nyata, bukan sekadar pelarian teologis untuk berserah diri pada nasib.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama CommsLab.





Comments are closed.