Market Summary
-
Harga Minyak Naik ke ~US$91/barrel Seiring Memudarnya Prospek Gencatan Senjata: Kenaikan terjadi setelah Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang gencatan senjata. → Harga energi yang tinggi menjaga tekanan pada inflasi global dan biaya impor Indonesia.
-
Inflasi CPI AS Melandai Sesuai Ekspektasi: Inflasi AS Juli 2026 melandai ke +3,4% YoY (vs Juni 2026: +3,5% YoY). → Ekspektasi ditahannya suku bunga The Fed di September 2026 menguat ke ~70%.
-
Defisit RAPBN 2027 Menyempit ke 2,4% PDB, Target Pertumbuhan +6%: Pemerintah menargetkan belanja Rp4.097,2 triliun dan pendapatan Rp3.426 triliun pada 2027. → Target defisit yang lebih rendah dapat menopang sentimen pasar obligasi domestik, yield obligasi tenor 10 tahun turun -10 bps WoW.
|
Market Update Foreign Inflow Saham secara Bulanan Tertinggi Sejak Maret 2026 Latest Update (14/08/2026) |
||||||||||||
|
||||||||||||
|
Foreign Flow (Dalam Triliun Rupiah)
|
||||||||||||
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 14 Agustus 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 13 Agustus 2026. |
What Happened in the Market
-
Harga minyak naik +2,9% dari ~US$88,5/barrel pada penutupan perdagangan Jumat (14/8) ke level ~US$91/barrel pada Selasa (18/8) pagi, melanjutkan kenaikan +6% WoW per Jumat (14/8) didorong oleh memudarnya prospek penyelesaian konflik AS–Iran dalam jangka pendek.
-
Presiden Donald Trump pada Senin (17/8) menyatakan tidak tertarik untuk memperpanjang perjanjian gencatan senjata sementara dengan Iran.
-
Outlook International Energy Agency (IEA) Agustus 2026 memproyeksikan penurunan permintaan dan pasokan minyak lebih lanjut pada 2026 akibat penutupan Selat Hormuz dan tingginya harga bahan bakar.
-
Proyeksi permintaan minyak dunia akan turun sebanyak 1,6 juta barrel per hari pada 2026, lebih dalam sebanyak 510 ribu barrel dibandingkan proyeksi Juli 2026.
-
Proyeksi rata–rata pasokan minyak global diperkirakan turun sebanyak 4,3 juta barrel per hari (vs outlook Juli 2026: turun 3,7 juta barrel per hari).
-
Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis sejumlah data inflasi pada bulan Juli 2026:
-
inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS Juli 2026: +3,4% YoY (vs Juni 2026: +3,5% YoY), sesuai ekspektasi konsensus (3,4% YoY).
-
inflasi inti AS Juli 2026: 2,5% YoY (vs Juni 2026: inflasi 2,6% YoY), sesuai ekspektasi konsensus (2,5% YoY).
-
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan sekaligus pengantar RUU APBN 2027 beserta nota keuangannya pada Jumat (14/8), dengan target defisit APBN menyempit ke 2,4% PDB (vs outlook APBN 2026: 2,85%, realisasi 7M26: 0,76%).
-
Belanja negara ditetapkan Rp4.097,2 triliun (+6,6% YoY dari target APBN 2026), sementara pendapatan negara Rp3.426 triliun (+8,6% YoY).
-
Pertumbuhan ekonomi 2027 ditargetkan +6% (vs target APBN 2026: +5,4%), meski sebagian besar asumsi makro cenderung konservatif dibandingkan kisaran yang disepakati pemerintah dan DPR pada Juli 2026.
-
Anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) 2027 diindikasikan mencapai ~Rp240 triliun dengan target 60,6 juta penerima, naik sekitar 5% dari estimasi anggaran 2026 sebesar Rp229 triliun, dengan realisasi 56,9 juta penerima per 12 Agustus 2026.
-
Pemerintah menegaskan peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk memonitor ekspor komoditas dan menyiapkan bursa mineral serta komoditas strategis yang direncanakan beroperasi mulai 1 Januari 2027 di bawah pengawasan OJK.
-
Prabowo juga menegaskan dorongan demutualisasi Bursa Efek Indonesia, dengan OJK menyiapkan aturannya pada pertengahan September 2026.
-
Menyusul pengumuman tersebut, IHSG ditutup menguat +1,59% pada perdagangan Jumat (14/8), sementara rupiah menguat +0,3% ke level 17.825 dan yield SBN 10Y turun -3 bps.
Asumsi Dasar Makroekonomi
| Asumsi | RAPBN 2027 | APBN 2026 |
| Pertumbuhan ekonomi (YoY) | +6,0% | +5,4% |
| Inflasi (YoY) | 2,5% | 2,5% |
| Nilai tukar rupiah (USD/IDR) | 17.500 | 16.500 |
| Yield SBN tenor 10Y | 6,9% | 6,9% |
| Harga minyak mentah (US$/barrel) | 75 | 70 |
-
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa sebagian keuntungan Danantara akan disalurkan ke APBN, meski tidak merinci besaran dan mekanismenya.
-
MSCI mengumumkan index review pada 12 Agustus 2026 waktu setempat, yang akan efektif pada penutupan bursa 31 Agustus 2026 dengan rincian sebagai berikut:
What’s the Impact?
Secara Global:
Harga minyak kembali naik ke ~US$91/barrel seiring memudarnya prospek penyelesaian konflik AS–Iran, yang memperpanjang ekspektasi tekanan pada pasokan sekaligus permintaan. Selama Selat Hormuz belum kembali normal, harga energi cenderung bertahan tinggi dan menahan laju pelandaian inflasi global lewat biaya transportasi dan input industri.
Di sisi lain, data inflasi AS Juli menunjukkan tekanan harga domestik AS masih melandai, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga pada September 2026 mereda. Probabilitas suku bunga ditahan pada pertemuan September 2026 kini menjadi skenario mayoritas di level ~70% per Senin (17/8), menurut CME FedWatch Tool, naik dari ~55% sepekan sebelumnya (7/8). Meski demikian, hal ini masih dapat berbalik jika harga energi kembali naik atau perkembangan konflik memburuk.
Untuk Indonesia:
Harga minyak yang tinggi menekan Indonesia dari sisi impor energi dan beban subsidi, tepat saat pemerintah menetapkan postur fiskal RAPBN 2027. Asumsi harga minyak dalam anggaran masih ditetapkan di bawah level harga pasar saat ini, sehingga jika gangguan pasokan berlanjut, ruang belanja pemerintah bisa lebih sempit dari yang direncanakan.
Terlepas dari risiko tersebut, pasar merespons positif arah kebijakan fiskal 2027, terutama target defisit yang lebih rendah dan penegasan peran DSI dalam memonitor ekspor komoditas, sehingga rupiah dan IHSG cenderung stabil secara mingguan per Jumat (14/8) di tengah harga kenaikan minyak.
Why Should I Care?
Postur RAPBN 2027 dengan target defisit 2,4% PDB menunjukkan rencana arah pengelolaan anggaran yang lebih prudent, dan pasar merespons positif lewat penguatan indeks serta rupiah di sesi penutup pekan lalu. Namun target tersebut perlu dipantau oleh investor seiring tekanan dari harga minyak dan nilai tukar yang masih melampaui asumsi makro.
Di pasar obligasi, sinyal disiplin fiskal biasanya menopang minat investor karena kebutuhan pembiayaan yang lebih terukur. Yield obligasi 10Y sudah turun -10 bps WoW per Jumat (14/8), meski penurunan ini juga terbantu meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Di pasar saham, IHSG menguat +1,59% pada Jumat (14/8) dengan sektor komoditas ikut menopang, seiring kejelasan bahwa peran DSI terbatas pada memonitor ekspor dan bukan sebagai eksportir tunggal.
Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah hasil RDG Bank Indonesia bulan Agustus pada Rabu (19/8) di tengah transisi kepemimpinan BI, arah harga minyak, serta keputusan The Fed pada FOMC September 2026. Ketiganya akan menentukan arah yield dan rupiah ke depan.
Bagi investor dengan horizon panjang, yang lebih penting saat ini adalah memastikan alokasi portofolio sudah sesuai dengan profil risiko masing-masing. Bagi investor dengan horizon pendek, Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portofolio. Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat menjadi salah satu cara mendiversifikasi eksposur terhadap risiko pelemahan rupiah.
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)
| |
Sucorinvest Money Market USD |
|
Return +14,60% dalam Rupiah Setahun Terakhir |
Return +3,57% dalam US Dollar Setahun Terakhir |
| |
BRI Seruni Likuid Dolar |
|
Return +14,29% dalam Rupiah Setahun Terakhir |
Return +3,30% dalam US Dollar Setahun Terakhir |
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 14 Agustus 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
| Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit | |||||||||||||
|
|||||||||||||
|
Return reksa dana per 14 Agustus 2026. |
| Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit | ||||||||
|
||||||||
|
Yield per 18 Agt 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB |
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.





Comments are closed.