Tue,18 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. “Sudah makan?”: Basa-basi yang terasa sepele sebenarnya bermanfaat dalam hubungan sosial kita

“Sudah makan?”: Basa-basi yang terasa sepele sebenarnya bermanfaat dalam hubungan sosial kita

“sudah-makan?”:-basa-basi-yang-terasa-sepele-sebenarnya-bermanfaat-dalam-hubungan-sosial-kita
“Sudah makan?”: Basa-basi yang terasa sepele sebenarnya bermanfaat dalam hubungan sosial kita
service

Weekend ke mana aja?”

“Hari ini panas banget ya.”

“Sudah makan belum?”

Kita membutuhkan obrolan ringan seperti ini yang bahkan kemampuan untuk berbasa-basi dengan baik sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang pandai berkomunikasi.

Kita menyadari bahwa ungkapan berpola seperti “apa kabar?” tidak benar-benar dimaksud sebagai pertanyaan, percakapan semacam ini dapat terasa hampa atau bahkan tidak tulus.

Jadi, apakah kita sebaiknya setop berbasa-basi, atau justru percakapan semacam ini merupakan bagian penting dari kehidupan sosial kita?

Mungkin kita bisa melihat basa-basi layaknya inovasi teknologi: suatu penemuan manusia untuk mencapai tujuan sosial, sama seperti telepon atau surel. Basa-basi terus digunakan dan mengalami perubahan—dibentuk oleh budaya, disesuaikan berbagai institusi, ditiru dalam karya fiksi, ditampilkan di media, dibawa ke dalam percakapan telepon, dan disesuaikan untuk pesan surel, karena memang memiliki fungsi bagi kita.


Read more: Cara membahas masalah tanpa menimbulkan pertengkaran: Tip dari ahli


Antropolog Bronisław Malinowski menyebut percakapan semacam ini sebagai phatic communion yang sudah ada sejak awal abad ke-20. Di luar konteks keagamaan, kata communion merujuk pada rasa keterhubungan dan itulah fungsi basa-basi.

Obrolan ringan yang tercipta bukan sesuatu yang tidak bermakna, melainkan cara kita membuka, mempertahankan, dan menunjukkan hubungan dengan orang lain. Sifatnya yang dapat diprediksi justru merupakan kelebihan, bukan kekurangan. Ungkapan-ungkapan umum yang tidak membutuhkan banyak usaha dapat membantu kita melalui berbagai tahap interaksi seperti sapaan sebelum memesan kopi atau ketika kita sedang berupaya mendekati seseorang.

Keterampilan yang berharga

Basa-basi menjadi keterampilan yang kita butuhkan untuk menghadapi percakapan tatap muka sehari-hari. Melalui percakapan inilah kita berinteraksi dengan orang lain di ruang publik dan mulai mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Setelah pandemi COVID-19 dan dengan semakin banyaknya waktu yang kita habiskan di depan layar, sebagian orang khawatir bahwa masyarakat, terutama anak muda, sudah tidak tahu lagi caranya berbicara satu sama lain.

Entah kekhawatiran ini benar atau hanya kepanikan moral, kita mungkin sedang berada di titik ketika kita mulai menyadari pentingnya basa-basi.

Basa-basi pasti tidak akan menghilang, hanya saja percakapan ini berubah bentuk untuk menyesuaikan dengan kehidupan kita yang juga terus berubah. Ketika menelepon melalui ponsel, misalnya, nama penelepon sudah muncul di layar sehingga kita tidak lagi membutuhkan kebiasaan lama mencari tahu siapa lawan bicara kita sebagai bagian dari sapaan.


Read more: Gosip itu kelebihan dalam pergaulan sosial, bukan kekurangan yang perlu dihindari


Kini, akal imitasi (artificial intelligence atau AI) bahkan bisa berbasa-basi. Dan karena AI sangat pandai mengikuti pola percakapan, mereka mungkin bahkan bisa lebih lancar berbasa-basi daripada kebanyakan manusia.

Bagi yang mahir berbasa-basi mungkin merasa bahwa ini menjadi bagian dari kehidupan manusia yang lagi-lagi sudah mulai diambil alih AI. Sementara itu, mereka yang kurang terampil dalam obrolan ringan bakal menyambut baik sedikit bantuan untuk memulai menulis sebuah pesan surel.

Sebagian orang dalam komunitas neurodivergen mungkin menyukai sifat basa-basi yang teratur dan berpola karena itu membantu mereka memahami ekspektasi sosial yang sering kali sulit ditebak. Namun, banyak orang lainnya justru tidak sabar dengan bentuk obrolan seperti ini karena merasa basa-basi menghalangi percakapan yang lebih bermakna.

Meski demikian, basa-basi merupakan keterampilan yang begitu penting hingga menjadi bagian dari pelatihan sebagai aspek krusial dalam membangun hubungan baik di sektor jasa dan berbagai bidang usaha lainnya terutama yang berinteraksi langsung dengan pelanggan, klien, atau tamu.


Read more: Bagaimana jejaring sosial dapat menyelamatkan hidup saat terjadi bencana


Mungkin perbedaan pandangan mengenai basa-basi muncul karena mencakup beragam jenis aktivitas, mulai dari sapaan, komentar tentang hal-hal yang terlihat jelas, hingga sekadar mengulang ucapan satu sama lain, seolah-olah suara yang kita keluarkan saja sudah cukup untuk mengingatkan bahwa kita masih bersama.

Kita bisa menggunakan basa-basi saat berinteraksi dengan dokter, pelayan restoran, seseorang di bar ketika mencoba mendekatinya, memulai perdebatan politik dengan seorang lawan intelektual yang sebenarnya kita sukai, atau mengakhiri percakapan dengan orang tersayang.

Menyesuaikan basa-basi untuk setiap situasi spesifik justru menuntut perhitungan dan usaha yang ingin kita hindari melalui keberadaan basa-basi itu sendiri.

Barista dan pelanggan sedang bercakap

Basa-basi membantu membangun komunitas. PeopleImages/Shutterstock

Jadi, mungkin pertanyaan yang tepat bukanlah apakah basa-basi itu baik atau buruk, atau apakah kita menyukainya atau membencinya. Pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan adalah: bagaimana kita bisa berbasa-basi dengan lebih baik?

Tujuannya bukan untuk mengubah setiap pertemuan menjadi dialog filosofis, melainkan memahami bahwa setiap pertemuan adalah sebuah kesempatan. Basa-basi adalah cara kita berinteraksi di ruang publik, cara orang asing menjadi teman, dan cara komunitas terbentuk, semuanya dimulai dengan satu “apa kabar?”.

Dengan membuat ritual ini sedikit lebih menarik, kita bisa melihat kesempatan tersebut tanpa menjadikannya sebagai beban. Misalnya, kita bisa memberikan komentar singkat tentang sesuatu yang baru terjadi dalam hidup kita atau memberikan pujian yang spesifik kepada lawan bicara. Orang tersebut bisa saja sekadar menerimanya dengan sopan atau melanjutkan percakapan dari sana.

Basa-basi adalah perekat sosial. Fungsinya jauh dari sepele, meski isinya terkadang memang sepele. Basa-basi adalah sebuah undangan, bukan tuntutan. Kita punya kebebasan untuk menentukan seberapa jauh kita ingin melanjutkan percakapan selanjutnya.


Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.