Thu,20 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Strategi Pendampingan Siswa ADHD untuk Mewujudkan Lingkungan Belajar yang Kondusif

Strategi Pendampingan Siswa ADHD untuk Mewujudkan Lingkungan Belajar yang Kondusif

strategi-pendampingan-siswa-adhd-untuk-mewujudkan-lingkungan-belajar-yang-kondusif
Strategi Pendampingan Siswa ADHD untuk Mewujudkan Lingkungan Belajar yang Kondusif
service

Mubadalah.id – Jujur saja, ketika pertama kali menjumpai istilah “inklusivitas” dan “ADHD”  dalam satu konteks pengelolaan kelas, respons awal saya adalah sedikit khawatir. Memimpin kelas berisi 30 siswa saja sudah membutuhkan energi dan strategi yang luar biasa.

Membayangkan harus mendampingi siswa dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)—yang memiliki tingkat energi sangat tinggi, sulit fokus, dan terus bergerak—tentu terasa seperti tantangan yang cukup berat. Namun, pengalaman di lapangan sering kali mengajarkan hal yang tidak tertulis di dalam buku teks.

Saya teringat salah satu siswa saya, sebut saja Rian. Pada hari-hari pertama sekolah, Rian menunjukkan dinamika perilaku yang cukup intens. Ia bukan siswa yang berniat mengganggu; jika  berkomunikasi secara personal. Rian adalah anak yang santun dan sangat ramah. Hanya saja, sistem saraf dan cara kerjanya menuntut tubuh Rian untuk terus aktif bergerak. Ia tidak bisa duduk diam dalam waktu lama, bukan karena enggan mendengarkan, melainkan karena dorongan internal yang memang sulit ia kendalikan sendiri.

Pergeseran Paradigma: Mengubah Cara Pandang Pendidik

Awalnya, proses pendampingan ini terasa cukup menguras energi. Cara pendekatan konvensional seperti meminta Rian untuk sekadar “duduk tenang dan memperhatikan” jelas tidak berjalan efektif. Dari sana saya sebagai guru tentu sangat menyadari satu poin penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Pendekatan ini bukan hanya perilaku siswanya, melainkan strategi dan cara pandang kita sebagai pendidik.

Memaksa siswa ADHD untuk menyesuaikan diri sepenuhnya dengan standar kelas reguler tanpa kompromi tentu kurang bijaksana. dalam hal ini sangat membutuhkan Pendekatan yang lebih akomodatif dan terstruktur.

Langkah awal yang saya terapkan adalah mengubah arah energi tersebut menjadi hal yang produktif. Daripada terus-menerus melarangnya bergerak, saya memberikan peran konkret kepada Rian, seperti membantu membagikan lembar kerja atau menyiapkan perlengkapan kelas. Dengan memberikan tanggung jawab fisik yang terarah, kebutuhan geraknya terfasilitasi tanpa merusak alur pembelajaran kelas. Langkah sederhana ini terbukti cukup efektif meningkatkan rasa percaya diri dan keterlibatannya di kelas.

Selanjutnya, penting untuk menyediakan sensory recovery space atau sudut tenang. Bagi siswa dengan ADHD, stimulasi visual dan auditori di dalam kelas sering kali memicu kondisi sensory overload. Kami menyediakan satu area khusus di sudut ruangan yang minim gangguan. Jika Rian—atau siswa lainnya—merasa mulai kewalahan dan butuh waktu untuk regulasi emosi, mereka mengupayakan menggunakan area tersebut selama beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum kembali bergabung dalam aktivitas belajar.

Membangun Ekosistem Empati di Antara Teman Sebaya

Di sisi lain, aspek yang tidak kalah krusial adalah membangun pemahaman bagi siswa lainnya. Anak-anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengenai perbedaan perlakuan di kelas. mengupayakan Pendekatan edukatif yang komunikatif sangat  perlu di sini. Saya menjelaskan kepada seluruh siswa bahwa setiap individu memiliki cara belajar dan kebutuhan yang berbeda-beda, dan tugas kita bersama adalah saling mendukung.

Lambat laun, budaya empati terbangun di dalam kelas. Teman-teman sekelasnya mulai memahami kondisi Rian, bahkan tidak jarang membantu mengingatkannya dengan cara yang ramah ketika ia mulai kehilangan fokus.

Pada akhirnya, kelas yang kondusif seringkali mengartikan sebagai ruangan yang hening dan kaku. Suasana kondusif yang sejati lahir ketika lingkungan belajar terasa aman, adaptif, dan mampu mengakomodasi kebutuhan setiap siswa secara adil.

Mendampingi siswa dengan ADHD memang membutuhkan kesabaran ekstra dan senantiasa mengupayakan strategi yang efektif. Salah satunya melalui tindakan dan hasil yang seimbang, yaitu antara guru, siswa dan seluruh warga sekolah. Tindakan tersebut berupa lingkungan belajar yang inklusif dan empatik. []

Slamet Ginanjar

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.