Mubadalah.id – “Mundur, Mbak…”. Kalimat itu tiba-tiba muncul di kepala saya ketika melihat sepasang kekasih bertengkar di sebuah stasiun di Surabaya.
Saat itu, sekitar pukul 02.00 WIB, saya dan suami sedang menunggu KRL menuju Gresik. Kereta kami masih lama, jadi kami duduk di ruang tunggu sambil menunggu waktu.
Di sekitar kami ada beberapa penumpang lain. Salah satunya sepasang anak muda yang duduk sekitar tiga kursi dari tempat kami. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan mereka. Sampai kemudian terdengar suara mereka yang sedang bertengkar.
Saya tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Percakapannya terdengar tidak utuh dari tempat kami duduk. Tetapi beberapa kata yang keluar dari mulut si laki-laki terdengar sangat jelas dengan Bahasa Jawa yang khas, diantaranya “utekmu”, “pikiren”, “taek”, “goblok”, dan “karepmu.”
Dari percakapan yang terdengar sepotong-sepotong itu, saya kemudian menangkap bahwa si perempuan sedang meminta kepastian tentang hubungan mereka. Ia ingin segera dilamar.
Saya dan suami saling melihat. Saya sempat berpikir, ini orang kenapa, ya?
Kami sebenarnya tidak ingin ikut campur. Toh, kami tidak mengenal mereka dan tidak tahu persoalan apa yang sedang mereka hadapi. Tetapi semakin lama mendengar percakapan itu, semakin saya merasa ada yang tidak beres.
Dan entah kenapa, melihat perempuan itu duduk di sana sambil menangis menghadapi makian dari laki-laki yang sedang bersamanya, satu kalimat tadi kembali muncul di kepala saya, “Mundur, Mbak!”
Ketika Cinta Mulai Membenarkan Kekerasan
Apa yang saya lihat di stasiun malam itu sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam relasi. Dalam banyak hubungan, kata-kata kasar justru sering dianggap bagian dari pertengkaran biasa. Pasangan marah, memaki, kemudian meminta maaf, lalu hubungan berjalan lagi seperti semula.
Mungkin karena itu, kekerasan verbal menjadi sesuatu yang tidak selalu mudah dikenali. Ia tidak meninggalkan luka yang bisa dilihat sebagaimana kekerasan fisik. Bahkan, kekerasan verbal seperti makian kadang dinormalisasi dengan bahasa lain, seperti pasangan sedang emosi, memang gaya bicaranya begitu, atau sekadar bercanda.
Komnas Perempuan memasukkan makian dan penghinaan yang berkelanjutan untuk mengecilkan harga diri korban sebagai bentuk penyiksaan psikologis. Dalam konteks kekerasan dalam pacaran, kekerasan juga tidak hanya berbentuk fisik, tetapi dapat berupa kekerasan psikis, termasuk tindakan yang mengerdilkan kepercayaan diri korban.
Saya kemudian teringat kembali pada perempuan yang saya lihat malam itu. Ketika meminta kepastian tentang hubungan mereka, ia justru mendapatkan makian.
Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Mungkin mereka berdamai dan melanjutkan hubungan tersebut. Bisa jadi kejadian malam itu bukan pertama kalinya si perempuan mendapatkan perlakuan seperti itu.
Dan mungkin di situlah persoalannya. Ketika seseorang sudah terlalu terbiasa dengan sebuah hubungan, hal-hal yang sebenarnya tidak wajar bisa terasa biasa saja. Apalagi ketika di antara semua itu masih ada cinta.
Pernikahan Bukanlah Solusi
Ada satu hal lain yang sering membuat seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah membuatnya tidak nyaman, yaitu harapan bahwa semuanya akan berubah setelah menikah.
Mungkin sekarang si dia masih kasar karena belum dewasa. Harapannya, nanti setelah menikah dan memiliki anak pasangan akan berubah. Dalam banyak hubungan, banyak yang mengharapkan pernikahan bisa memperbaiki banyak hal.
Kita harus memahami bahwa pernikahan tidak otomatis membuat karakter calon pasangan berubah. Orang yang terbiasa merendahkan pasangan sebelum menikah tidak tiba-tiba menjadi lebih lembut hanya karena sudah menjadi suami atau istri.
Karena itu, masa sebelum pernikahan sebenarnya penting untuk melihat bagaimana seseorang menjalani hubungan, termasuk bagaimana ketika emosi dan mendapatkan penolakan. Hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari situ kita bisa mengenali kebiasaan seseorang dalam sebuah relasi.
Perempuan di stasiun malam itu sedang meminta kepastian tentang hubungan mereka. Entah apa yang membuat laki-laki itu merespons dengan makian. Tetapi jika pernikahan memang sedang menjadi tujuan mereka, saya justru berpikir, harusnya hal-hal seperti ini perlu mendapatkan perhatian sebelum sampai ke sana.
Makna Sekufu Sebenarnya
Dalam memilih pasangan, kita sering mendengar istilah sekufu. Secara sederhana, sekufu berarti kesepadanan atau kesetaraan antara calon pasangan. Dalam pembahasan tentang pernikahan, sekufu bisa dikaitkan dengan banyak hal, seperti agama, status sosial, pendidikan, ekonomi, maupun latar belakang keluarga.
Hal ini mengingatkan saya pada hadis Nabi:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Walaupun secara bahasa hadis tersebut menggunakan kata الْمَرْأَةُ (perempuan), pesan tentang memilih pasangan tentu tidak hanya berlaku bagi laki-laki. Laki-laki maupun perempuan sama-sama perlu mempertimbangkan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya.
Karena itu, kita harus melihat sekufu dari berbagai aspek. Dua orang mungkin memiliki pendidikan yang sama-sama baik dan latar belakang keluarga yang sepadan. Tetapi ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu cara pandang hidup.
Pernikahan mempertemukan dua manusia yang akan menjalani kehidupan bersama. Mereka akan berhadapan dengan perbedaan kebiasaan, cara berpikir, persoalan ekonomi, pembagian peran, juga berbagai konflik. Kesepadanan dalam cara memandang kehidupan menjadi penting agar perbedaan-perbedaan tersebut tidak berubah menjadi relasi yang timpang.
Di sinilah gagasan Mubadalah menjadi relevan. Relasi suami dan istri haruslah berdasarkan kesalingan. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan, saling memperlakukan dengan baik, dan menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan bersama.
Dengan cara pandang ini, sekufu juga bisa dimaknai sebagai kesepadanan nilai dalam menjalani kehidupan bersama. Dua orang tidak harus sama dalam segala hal, tetapi keduanya perlu memiliki pijakan yang memungkinkan mereka saling menghargai ketika berbeda.
Mundur, Mbak
Saya tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan hubungan pasangan yang saya lihat malam itu. Tetapi kejadian sederhana di ruang tunggu stasiun itu membuat saya berpikir bahwa memilih pasangan bukan hanya soal menemukan seseorang yang kita cintai. Ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan, termasuk bagaimana seseorang memperlakukan kita ketika sedang tidak sepakat dan marah.
Kadang karena sudah terlanjur mencintai, kita sering lebih sibuk mencari alasan untuk bertahan daripada bertanya apakah hubungan itu memang baik untuk kita. Kita berharap pasangan berubah atau merasa semuanya masih bisa ditoleransi. Padahal, sebelum menikah, kita masih punya kesempatan untuk melihat hubungan itu dengan lebih jernih.
Sekali lagi untuk perempuan yang saya lihat malam itu, entah apa yang akhirnya ia pilih, andai saya bertemu lagi, saya akan mengatakan kata yang sama,
“Mundur, Mbak…” []





Comments are closed.