Fri,21 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Saat gempa mengguncang, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita?

Saat gempa mengguncang, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita?

saat-gempa-mengguncang,-apa-yang-sebenarnya-terjadi-dalam-pikiran-kita?
Saat gempa mengguncang, apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran kita?
service

• Keselamatan saat gempa bergantung pada keputusan dan perilaku manusia.

• Masyarakat cenderung meniru orang lain dalam situasi penuh ketidakpastian.

• Kebijakan bencana perlu beralih dari informasi menuju desain perilaku.


Apa yang akan kamu lakukan ketika gempa tiba-tiba terjadi?

Mungkin alarm di gedung tempatmu bekerja langsung berdering, tapi kamu tidak tahu harus berbuat apa. Orang di sebelahmu juga tampak bingung—belum ada yang bergerak.

Apa yang semestinya harus kamu lakukan di detik-detik krusial itu?

Situasi seperti ini barangkali dialami penyintas gempa NTT Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Sejauh ini, gempa telah merusak 11 ribuan bangunan, mengakibatkan 71 korban jiwa, dan mendorong lebih dari 55 ribu warga mengungsi.

Evakuasi korban gempa NTT

Penyisiran lokasi terdampak gempa NTT di Manggarai Timur. antaranews.com

Selama ini, usaha mengurangi dampak dan korban bencana banyak berfokus pada bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, peta risiko, jalur evakuasi, kesiapan SAR, dan ketersediaan logistik.

Keenam komponen itu memang penting, tapi ada satu yang sering kurang mendapat perhatian: perilaku manusia.

Sebaik apa pun kita merancang sistem, keselamatan pada akhirnya bergantung pada keputusan orang-orang.

Ketika gempa terjadi, keputusan apakah akan segera keluar, menunggu anggota keluarga, mencari informasi lebih lanjut, atau mengikuti apa yang dilakukan orang di sekitar, akan ada di tangan manusia.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya “Apa yang seharusnya dilakukan manusia ketika terjadi bencana?”, tetapi juga “Apa yang sebenarnya terjadi dalam pikiran manusia ketika berada dalam situasi penuh ketidakpastian, tekanan waktu, dan ancaman keselamatan?”

Ilmu perilaku (behavioral science) memberikan beberapa jawaban menarik.


Read more: Mengapa masih banyak orang yang pasrah merespons bencana?


Meniru orang lain

Dalam keadaan darurat, orang lain bukan cuma kerumunan, mereka adalah sumber informasi.

Fenomena ini teruji dalam eksperimen menggunakan immersive virtual reality kepada 42 orang di Florida, Amerika Serikat. Peneliti menyimulasikan situasi evakuasi dan mengamati orang-orang mengambil keputusan.

Hasilnya, peserta mengikuti perilaku orang lain sekalipun pilihan itu lebih berisiko.

Dalam ilmu perilaku, fenomena meniru ini dikenal sebagai social influence (pengaruh sosial) atau social proof (bukti sosial).

Jika semua orang diam, kita mungkin menyimpulkan bahwa situasinya belum terlalu berbahaya. Sebaliknya, ketika orang-orang mulai bergerak menuju pintu keluar, kita mendapat sinyal bahwa mungkin sudah waktunya untuk bertindak.


Read more: Bagaimana membangun pendidikan risiko bencana untuk generasi muda dari sekolah


Kita juga mencari siapa yang bisa dipercaya

Temuan yang lebih dekat dengan konteks gempa datang dari eksperimen psikologi dengan virtual reality untuk menyimulasikan gempa dan proses evakuasinya.

Peneliti meminta peserta mengambil keputusan dalam lingkungan simulasi gempa yang imersif kepada 83 staf dan pengunjung rumah sakit di Auckland, Selandia Baru. Peneliti kemudian menggunakan menganalisis proses berpikir yang mereka ungkapkan secara lisan atau verbal protocol analysis.

Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan evakuasi terbentuk melalui interaksi berbagai informasi, termasuk kondisi lingkungan dan keberadaan orang lain.

Ini masuk akal. Sebab, dalam situasi yang tidak biasa, kita cenderung mencari seseorang yang dapat dijadikan rujukan. Di sekolah, mungkin guru. Di rumah sakit, mungkin tenaga medis. Di gedung publik, mungkin petugas keamanan.

Artinya, dalam situasi darurat, pertanyaan masyarakat juga berupa “Siapa yang harus saya percaya?”, bukan hanya “Apa yang harus saya lakukan?”

Eksperimen lainnya tentang komunikasi evakuasi dalam bencana banjir, menunjukkan bahwa tingkat otoritas pembawa pesan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap pesan dan sumbernya tersebut.

Oleh karena itu, sistem peringatan dini tidak cukup hanya memiliki teknologi yang baik. Masyarakat juga harus mengetahui siapa sumber informasi yang dapat dipercaya dan memilah pesan mana yang harus segera ditindaklanjuti.

Kita tidak selalu panik, kita mencoba memahami situasi

Ada anggapan bahwa ketika bencana terjadi, manusia akan panik dan kehilangan kemampuan berpikir.

Dua penelitian eksperimental di atas justru membuktikan bahwa situasinya tidak sesederhana itu.

Dalam simulasi evakuasi, manusia memang dipengaruhi oleh orang lain, tetapi mereka juga terus membaca lingkungan dan mengevaluasi informasi sebelum mengambil keputusan.


Read more: Bagaimana jejaring sosial dapat menyelamatkan hidup saat terjadi bencana


Keduanya juga menjadi krusial bagi cara kita mendefinisikan masalah yang nantinya akan menentukan kebijakan.

Jika kita menganggap masalahnya adalah kepanikan, solusi kita mungkin berfokus pada bagaimana menenangkan masyarakat.

Tetapi jika masalahnya adalah ketidakpastian, solusinya berbeda: menyediakan informasi yang sederhana, jelas, kredibel, dan langsung menjawab pertanyaan paling penting:

“Saya harus melakukan apa sekarang?”

Dalam beberapa detik pertama setelah gempa, masyarakat tidak membutuhkan penjelasan panjang tentang mekanisme tektonik. Mereka membutuhkan instruksi yang mudah dipahami dan mudah dilakukan.

Tahu risikonya belum tentu membuat kita bertindak

Masalah berikutnya adalah persepsi risiko.

Pengetahuan tentang risiko tidak otomatis menghasilkan perilaku tangguh bencana. Sebab, dua orang yang menerima informasi tentang bahaya yang sama bisa mengambil keputusan berbeda karena pandangan mereka terhadap ancaman tidaklah serupa.

Kerangka protective action decision model menjelaskan bahwa keputusan untuk melakukan tindakan perlindungan merupakan sebuah proses. Individu menerima beragam petunjuk dari lingkungan, memproses informasi, menilai ancaman, lalu menentukan bagaimana mereka akan bertindak.

Artinya, ada gap perilaku antara mengetahui tindakan yang benar dan benar-benar melakukannya.

Seseorang bisa mengetahui bahwa gempa berbahaya, tetapi mereka bisa jadi menunda keluar dari bangunan karena ingin mengambil barang. Yang lain mungkin tahu harus evakuasi, tetapi tidak tahu ke mana harus pergi.

Pengalaman bencana bisa memudar

Gempa Yogyakarta memberi pelajaran penting mengenai hal ini.

Riset Thamarapani dan Rockmore (2022) dari gempa Yogyakarta 2006 menunjukkan bahwa pengalaman gempa memang mengubah beberapa karakteristik perilaku. Namun, perubahan tersebut tidak permanen.


Read more: Mewariskan pengetahuan kebencanaan ke generasi muda perlu usaha berkelanjutan


Setelah mengalami gempa besar, masyarakat mungkin menjadi sangat waspada. Mereka mengikuti berita, memeriksa rumah, mempelajari jalur evakuasi, dan berbicara tentang kesiapsiagaan.

Tetapi waktu berjalan. Kehidupan kembali normal. Dan perlahan, urgensi tersebut memudar.

Dari memberikan informasi ke merancang perilaku

Jumlah korban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan atau pun kedalaman gempa. Ia turut dipengaruhi oleh keputusan manusia dalam beberapa menit pertama setelah gempa terjadi.

Dengan demikian, kebijakan kebencanaan perlu bergerak dari sekadar penyampaian informasi ke desain perilaku. Pun, membangun infrastruktur yang tahan bencana tidaklah cukup. Kita juga perlu membiasakan perilaku yang tangguh bencana.

mitigasi bencana gempa ntt

Simulasi RJP (Resusitasi Jantung Paru) sebagai pertolongan pertama kepada korban saat edukasi mitigasi bencana di Graha Bunda PAUD, Surabaya. (Didik Suhartono/Antara)

Kita tidak cukup mengatakan “kenali jalur evakuasi”. Masyarakat perlu berlatih menggunakan jalur tersebut.

Kita tidak cukup mengatakan “segera evakuasi”. Masyarakat harus tahu kapan harus berhenti mencari informasi dan mulai bergerak.

Kita tidak cukup mengandalkan satu kanal komunikasi. Kita perlu membangun jaringan sumber informasi yang dipercaya masyarakat, termasuk di tingkat lokal.

Simulasi pun tak cukup sekali kita adakan. Perilaku tangguh bencana perlu kita buat sedemikian rupa agar menjadi kebiasaan.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.