Alex Pius melepas topi rimba yang dia kenakan dan mengestafetkan pada kerabatnya yang tengah menyambungkan rangka atap di atas bambu-bambu yang berdiri membungkus salah satu lapangan voli di Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, medio Juni lalu. Sengatan panas menyulut inisiatifnya itu. “Kemarau sudah datang, sudah tidak ada hujan. Tapi warga sudah panen,” kata pria 38 tahun itu. Sejak pagi, Alex dan puluhan pria dari berbagai usia bekerja di sana. Mereka berkumpul, bersendagurau, saling mengingatkan untuk hati-hati dan saling meledek. Ada yang tertawa, ada yang berteriak girang. Beberapa orang bilang pada saya, jika hidup secara gotong royong di Tabarano masih berlangsung. Orang-orang itu mengundang saya datang pada Minggu, dua hari selanjutnya. Mereka akan menggelar pesta syukur panen atas limpahan penghasilan dari tanah kebun dan pertaniannya. Dalam gelaran syukur panen itu akan ada tarian dan hiburan. Makanan tentu saja akan tersaji di meja dan semua orang bisa mencicipinya. Setiap rumah akan membuat peong–sejenis lemang–yang selalu menjadi rebutan. Hingga berbagai macam kue olahan. Selanjutnya pada malam syukur akan ada tarian dero. Tarian yang memungkinkan siapa pun untuk ikut bergabung. Tarian bagi anak muda hingga orang tua meluapkan kegembiraan. Gerakan saling berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Saat beberapa pria masih saling berbagi rokok di pinggir lapangan sembari mengawasi pembangunan rangka, seorang pria lain berteriak. Makan siang sudah siap di salah satu rumah warga. Beberapa saat kemudian, orang-orang berjalan meninggalkan lapangan. Saya menjadi bagian dari kumpulan warga yang menyantap menu makan siang itu. Rasanya sungguh menyenangkan, memegang piring dan mencari sendiri tempat duduk.…This article was originally published on Mongabay
Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel
Petani Damar Tabarano Waswas Kebun jadi Tambang Nikel





Comments are closed.