Mon,24 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Buku Standar Pesantren Indonesia Dorong Transformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Buku Standar Pesantren Indonesia Dorong Transformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

buku-standar-pesantren-indonesia-dorong-transformasi-tanpa-kehilangan-jati-diri
Buku Standar Pesantren Indonesia Dorong Transformasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
service

Bandung, NU Online

Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU meluncurkan Buku Standar Pesantren Indonesia dalam rangkaian kegiatan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman ke-25 di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/8/2026).

Peluncuran buku tersebut menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat transformasi pesantren melalui penyediaan rujukan bersama yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi serta pengembangan pesantren sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing.

Buku Standar Pesantren Indonesia memuat pedoman dalam enam aspek transformasi yakni kelembagaan, tata kelola, kurikulum, pengasuhan, sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur. Keenam aspek tersebut disusun sebagai satu kesatuan dalam upaya memperkuat kapasitas pesantren secara bertahap dan berkelanjutan.

Dalam buku tersebut, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa pesantren memiliki tiga fungsi integratif yang tidak dapat dipisahkan, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiganya dijalankan secara simultan dan saling menguatkan.

“Karena itu, penguatan mutu pesantren tidak dapat hanya dilihat dari satu aspek. Kelembagaan, tata kelola, kurikulum, pengasuhan, kualitas SDM, dan infrastruktur perlu dikembangkan secara beriringan agar pesantren mampu menjalankan seluruh fungsi tersebut secara optimal,” katanya.

Standar yang disusun dalam buku ini tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan pesantren. Setiap pesantren memiliki sejarah, tradisi keilmuan, karakter pengasuhan, serta kekhasan masing-masing yang perlu tetap dijaga.

Sebaliknya, standar mutu ditempatkan sebagai sarana transformasi pesantren. Standar menjadi pijakan bagi pesantren untuk melihat posisi kelembagaannya, mengidentifikasi kebutuhan pembenahan, serta menentukan arah pengembangan tanpa harus kehilangan karakter yang telah menjadi identitasnya.

Sekretaris RMI PBNU H Ulun Nuha menyampaikan bahwa buku tersebut menempatkan transformasi sebagai proses mempertemukan kekuatan tradisi pesantren dengan kebutuhan perubahan zaman.

“Tradisi pengajaran kitab kuning, relasi kiai dan santri, serta pendidikan berbasis spiritualitas tetap menjadi bagian penting yang harus dipertahankan, sembari pesantren beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sistem penjaminan mutu, dan tuntutan masyarakat,” katanya.

Pada aspek kelembagaan, buku memberikan perhatian terhadap legalitas dan penjaminan mutu sebagai fondasi keberlanjutan pesantren. Pesantren tetap diposisikan sebagai lembaga berbasis masyarakat yang memiliki kemandirian, tetapi membutuhkan pengakuan dan fasilitasi negara.

Sementara sistem penjaminan mutu juga diperkuat melalui keberadaan Dewan Masyayikh dan Majelis Masyayikh sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Sistem tersebut diarahkan untuk menjaga mutu pendidikan, memperkuat pengelolaan pesantren, meningkatkan kualitas SDM, serta mendukung pemenuhan sarana dan prasarana.

Pada aspek tata kelola, buku mendorong pesantren mengembangkan pengelolaan yang sistematis, efektif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Prinsip tata kelola tersebut dipadukan dengan nilai-nilai tradisi pesantren serta kebutuhan pengembangan kepemimpinan, SDM, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.

Sementara dalam aspek pengasuhan, buku memberikan perhatian terhadap pembentukan sistem pengasuhan yang aman dan efektif. Di dalamnya dibahas fungsi dan tujuan pengasuhan, struktur dan kompetensi pelaksana, sistem wali asuh santri, hingga sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di pesantren.

Penguatan SDM juga menjadi bagian penting dalam standar yang dirumuskan. Aspek tersebut mencakup kompetensi dan kualifikasi SDM, proses rekrutmen dan seleksi, pengembangan kapasitas, kesejahteraan dan kompensasi, serta asesmen mutu internal.

Pada aspek infrastruktur, buku mendorong pembangunan pesantren dilakukan secara terencana dengan memperhatikan keamanan, keselamatan, kenyamanan, tata ruang, utilitas, serta lingkungan pesantren.

Pembangunan gedung juga perlu dilakukan dengan perencanaan teknis dan pengawasan profesional, termasuk memperhatikan kapasitas serta kemungkinan pengembangan pesantren di masa mendatang.

Dengan cakupan tersebut, jelasnya, buku Standar Pesantren Indonesia diharapkan dapat digunakan pesantren untuk melakukan evaluasi mandiri, mengidentifikasi kebutuhan pembenahan, serta menyusun rencana pengembangan sesuai dengan kondisi dan karakter masing-masing.

Pendekatan tersebut penting karena pesantren di Indonesia memiliki bentuk dan karakter yang beragam. Standar tidak ditempatkan sebagai ukuran untuk menyeragamkan seluruh pesantren, melainkan sebagai arah bersama untuk mendorong peningkatan kualitas secara bertahap dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, penguatan standar mutu diharapkan membantu pesantren mempertahankan jati dirinya sekaligus meningkatkan kapasitas kelembagaan, kualitas pengasuhan, kompetensi SDM, tata kelola, serta kelayakan infrastrukturnya.

“Dengan demikian, pesantren tidak hanya mampu mempertahankan eksistensinya sebagai warisan pendidikan Islam Nusantara, tetapi juga terus berkembang sebagai pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan bagian penting dari pembangunan peradaban Indonesia,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.