Pernah melihat video di internet yang memperlihatkan seseorang asyik “bermain” dengan kucing, tapi dari bahasa tubuhnya terlihat jelas bahwa si kucing sebenarnya tidak menikmatinya? Kalau pernah, mungkin kamu memang lebih jago membaca bahasa tubuh kucing dibandingkan kebanyakan orang.
Bermain secara interaktif dengan kucing secara rutin dapat membantu menjaga kesehatan fisiknya, mengurangi stres, sekaligus mempererat ikatan antara kucing dan manusia.
Namun, menurut riset terbaru kami, apa yang dianggap “bermain” oleh banyak orang, sebenarnya belum tentu menyenangkan bagi kucing. Alih-alih menikmati interaksi tersebut, kucing justru bisa merasa terganggu, tidak nyaman, atau bahkan stres.
Ketika “bermain” bukan benar-benar bermain
Saat bermain, manusia dan kucing sama-sama perlu memahami mana perilaku yang bisa dianggap sebagai ancaman. Gerakan tiba-tiba, menampar, atau mengejar, misalnya, bisa membuat kucing merasa terancam, bukan sedang diajak bermain.
Riset menunjukkan bahwa manusia sering kesulitan memahami bahasa tubuh dan komunikasi kucing, termasuk mengenali ketika kucing sebenarnya tidak ingin diajak bermain. Bahkan ketika sudah menyadarinya, banyak orang tetap memilih untuk melanjutkan interaksi.
Read more: Apakah Anda ahli soal kucing? Ini cara membaca raut muka kucing
Untuk memahami mengapa orang sering salah membaca atau bahkan mengabaikan tanda-tanda stres pada kucing, kami menganalisis 1.100 komentar di YouTube, TikTok, Instagram, dan Facebook. Komentar-komentar tersebut berasal dari video yang memperlihatkan interaksi “bermain” yang justru berpotensi membahayakan kucing.
Agar video yang viral tidak terlalu memengaruhi hasil analisis, kami hanya mengambil 100 komentar pertama dari setiap video. Komentar-komentar tersebut berasal dari pemilik kucing maupun orang yang tidak memelihara kucing.
Kesebelas video yang kami pilih sama-sama memperlihatkan tanda-tanda kucing mengalami stres, mulai dari mendesis, menggigit, dan berusaha kabur, hingga menyerang pemiliknya. Dalam beberapa kasus, kucing bahkan mengalami kekerasan fisik. Meski begitu, sekitar 75–93% komentar pada setiap video justru bernada positif. Mengapa orang-orang bisa melihat situasi ini secara berbeda?
Mengapa orang salah memahami perilaku kucing?
Kesalahpahaman ini tampaknya dipengaruhi oleh cara masyarakat memandang kucing, bagaimana hubungan manusia dengan kucing terbentuk, serta apa yang dianggap lucu atau menghibur oleh penonton.
Banyak komentar menganggap perlakuan kasar terhadap kucing sebagai hal yang wajar. Tanda-tanda stres pun kerap disalahartikan sebagai bentuk kegembiraan atau kasih sayang, sementara perilaku agresif justru dianggap “imut” atau “lucu”.
Dalam banyak kasus, komentar-komentar tersebut mencerminkan disonansi kognitif, yaitu perasaan tidak nyaman yang muncul ketika keyakinan yang sudah kita pegang bertentangan dengan bukti yang kita lihat.
Otak kita punya berbagai cara untuk meredakan rasa tidak nyaman ini, misalnya dengan menyangkal, mengabaikan, atau mencari pembenaran atas apa yang kita lihat.
siapa pun yang punya akal sehat pasti tahu bahwa video ini bukan bentuk kekerasan terhadap hewan.
Beberapa komentar juga menunjukkan pola pikir yang lebih problematis dan sudah mengakar di masyarakat, misalnya:
kalau dia tidak mau, dia pasti kabur
kalau dia benar-benar marah, tanganmu pasti sudah penuh luka.
Pernyataan semacam ini mirip dengan anggapan yang sering ditujukan kepada korban kekerasan dalam hubungan, misalnya, “Kalau memang separah itu, kenapa dia tidak pergi saja?”
Kesalahpahaman yang sering terjadi
1. “Kalau kucing benar-benar stres, pasti tandanya terlihat jelas”
Penonton sering mengira bahwa kalau kucing benar-benar tidak nyaman, reaksinya pasti ekstrem: kabur atau menyerang sampai menyebabkan luka parah. Jika tidak ada darah, kucing tetap diam, atau reaksinya tidak sesuai dengan bayangan mereka tentang seperti apa kucing yang “stres”, mereka pun menyimpulkan bahwa kucing tersebut sebenarnya hanya sedang bermain.
Nyatanya, kucing sering kali diam atau menahan diri untuk tidak menyerang demi melindungi diri, sebagai –freeze response, atau mencegah situasi memburuk.
2. “Itu bukan stres, kucingnya cuma terlalu bersemangat”
Penonton kerap salah mengartikan tanda-tanda stres (telinga ditarik ke belakang, kibasan ekor yang kencang, serangan yang agresif, hingga geraman) sebagai tanda bahwa kucing justru menikmati “permainan” kasar tersebut. Mereka juga sering membandingkannya dengan perilaku kucing peliharaan sendiri untuk membenarkan anggapan itu.
Padahal, permainan kasar bisa membuat kucing mengalami kewalahan sensorik. Meski terlihat seperti ikut bermain, kucing mungkin sebenarnya sedang bersikap defensif.

3. “Kucing tahu kok kalau ini cuma main-main”
Banyak penonton beranggapan bahwa kucing yang sudah dekat dengan manusia atau terbiasa bersosialisasi pasti bisa membedakan antara “bermain” dan kekerasan. Ada juga yang percaya bahwa kucing “tahu” kapan harus menahan diri.
Anggapan ini bahkan muncul pada video yang memperlihatkan seekor kucing melukai bayi. Meski begitu, sebagian penonton tetap bersikeras bahwa kucing tersebut sebenarnya sedang bersikap lembut.
Read more: Begini cara membelai kucing yang tepat agar tidak dicakar, menurut sains
Kenyataannya, kucing memang bisa menahan diri saat benar-benar bermain. Namun, stimulasi yang berlebihan dapat dengan cepat membuatnya tidak nyaman dan memicu serangan defensif yang berisiko menyebabkan luka.
Selain itu, kucing tetap bisa merasa stres meski tahu bahwa manusia sedang mengajaknya bermain. Mereka mungkin lebih toleran terhadap orang yang sudah dipercaya, tetapi interaksi yang tidak mereka inginkan lama-kelamaan bisa mengikis rasa percaya tersebut.

4. “Itu cara mendapatkan kepercayaan kucing”
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa penonton justru mendorong orang lain untuk terus melakukan interaksi yang membuat kucing stres atau agresif. Mereka menganggap perlakuan seperti ini sebagai cara untuk “menaklukkan” kucing atau mendapatkan kepercayaannya.
Padahal, tanda-tanda stres yang ditunjukkan kucing sebenarnya sudah merupakan pesan yang sangat jelas: mereka ingin kamu berhenti.
5. “Begitulah cara kucing menunjukan kasih sayang”
Gigitan kucing sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang atau love bite. Sebaliknya, orang yang rela dicakar atau digigit justru kerap dipuji karena dianggap menunjukkan rasa cinta kepada kucingnya. Bahkan, sebagian penonton menganggap bekas cakaran sebagai semacam “lencana kehormatan” dan menganggap luka seperti itu sebagai hal yang wajar ketika hidup bersama kucing.
Yang disebut love bite sebenarnya sering kali merupakan cara halus kucing untuk memberi tahu bahwa mereka sudah merasa cukup. Kalau tubuhmu terus dipenuhi bekas gigitan atau cakaran, bisa jadi kucingmu terlalu sering mengalami stimulasi berlebihan.

Cara aman bermain dengan kucing.
Biarkan mereka memilih. Pastikan kucingmu memang ingin bermain. Mulailah perlahan dan beri mereka ruang untuk memutuskan apakah ingin melanjutkan atau berhenti. Sediakan beberapa jalan keluar dan perhatikan tanda-tanda kecil yang menunjukkan bahwa mereka sudah merasa cukup.
Hindari permainan kasar. Bermain dengan kasar dapat membuat kucing cepat kewalahan, mengajarkan mereka menganggap tangan sebagai mainan yang ujung-ujungnya memicu cedera. Sebagai gantinya, gunakan mainan tongkat atau benda serupa untuk menjaga jarak antara tanganmu dan kucing. Cara ini tidak hanya melindungi kita dari luka, tetapi juga mengurangi kemungkinan kita tanpa sengaja membuat kucing stres.
Tetaplah ingin tahu. Dalam penelitian kami, banyak penonton salah memahami perilaku kucing atau mengabaikan tanda-tanda stres yang sebenarnya sudah jelas. Bukan karena mereka sengaja ingin menyakiti kucing, tetapi karena mereka sulit menerima bahwa tanda-tanda tersebut bertentangan dengan keyakinan yang selama ini mereka pegang.
Jika kamu mulai merasa tidak nyaman karena cara bermainmu mungkin justru membuat kucing stres, cobalah bersikap seperti kucing: tetap penasaran. Rasa ingin tahu terbukti efektif membantu kita melihat melampaui bias yang kita miliki.
Dengan tetap penasaran, kita akan lebih terbuka untuk mengenali kapan kucing benar-benar menikmati permainan dan kapan mereka sebenarnya sudah ingin berhenti.
Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris





Comments are closed.