Tue,25 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Apakah Saya Bodoh karena Salah Membaca Maps?

Apakah Saya Bodoh karena Salah Membaca Maps?

apakah-saya-bodoh-karena-salah-membaca-maps?
Apakah Saya Bodoh karena Salah Membaca Maps?
service

Sore baru berganti malam saat saya sengaja menyesatkan diri di suatu jalan di Singapura, Selasa (28/7). 

Tujuan awal saya gugur karena toko buku yang ingin saya singgahi telah tutup. Setelahnya, saya berjalan kaki tidak tahu mau ke mana. Pemandangan orang lalu lalang, mendengar ucapan mereka sekilas, dan merasakan angin kencang membuat saya merasa cukup nyata.

Saya tidak khawatir soal keamanan. Selain karena negara singa itu memang rapi, saya tahu bahwa saya bisa mengandalkan Google Maps dan tidak mungkin hilang. Semua aksesnya mudah.

Kemudahan itu juga yang membuat saya berpikir tentang kemampuan saya membaca maps. Di sana, bisa dikatakan nihil kesalahan saya dalam membaca peta virtual atau rute kereta. Tetapi, pengalaman saya beberapa tahun ke belakangan ini telah membuat saya merasa bodoh karena salah baca maps. 

“Maps” yang saya maksud disini tidak hanya sekedar soal arah jalan, tapi maps relasi saya dengan pacar dimana perempuan seperti saya dianggap bodoh karena dianggap tak bisa baca maps.

Saat berusia 17 tahun dan pertama kali pacaran, saya terbiasa was-was di belakang jok motor mantan kekasih. Hati saya tidak tenang karena takut salah membaca Google Maps. Sebab, jika ada satu belokan yang terlewat, rasanya saya telah melakukan dosa yang sangat bejat.

Saya takut membuat mantan kekasih bete karena situasi pasti runyam. Pernah ada satu kejadian yang sangat membekas hingga kini, ketika saya salah membaca nama gang (meskipun tembusannya tetap sama) menuju suatu pusat perbelanjaan di BSD, dia marah-marah sepanjang hari.

Hubungan tersebut tidak saya lanjutkan. Hingga kurang lebih satu tahun lalu, saya berhubungan dengan seorang laki-laki yang usianya jauh lebih tua di atas saya. Biasanya di dalam mobil saya yang menjadi pembaca maps lagi.

Baca juga: Apa Itu Psychogeography Feminis? Yang Harus Kamu Pelajari Agar Kotamu Ramah Perempuan

Lucunya, sifat kedua orang tersebut jauh berbeda. Jika mantan kekasih pertama saya akan marah-marah dengan ketus, mantan kekasih terakhir saya ini hanya akan diam saat tahu saya salah. Dia akan membiarkan kami tersesat, meskipun dahinya mengerut tanda menahan amarah.

Beberapa minggu kemudian, dia akan menyindir saya karena rasa kesalnya terhadap saya yang salah membaca maps. Berikutnya yang terjadi adalah saya ketakutan, lagi.

Saya takut kalau saya salah, dia akan sengaja diam sepanjang hari (yang baru saya sadari bahwa silent treatment termasuk jenis manipulasi). Mau tak mau, saya jadi menerka-nerka, sebetulnya apa yang pasangan saya rasakan?

Sampai akhirnya, karena saya malas salah, saya berikan saja handphone saya kepadanya dan biarkan dia yang membaca maps. Saya sengaja menelan sendiri kepahitan emosi dan kesedihan akibat didiamkan. Lebih baik tidak bersuara daripada hubungan ini runtuh, pikir saya dulu.

Pengalaman dengan keduanya itu membuat saya berpikir keras. Apakah saya terlalu bodoh jika salah satu atau dua kali tidak membaca maps? Apakah memang sebagai perempuan lebih baik untuk berdiam saja demi menjaga hubungan?

Hingga akhirnya saya menyadari. Diam saya itu tidak netral dan tidak sehat. Saya risau setiap kali di internet muncul perdebatan tentang perempuan bodoh atau pintar harus membaca maps. Seringkali narasi yang beredar adalah lebih baik perempuan diam saja karena lebih sering salah alih-alih benar membaca maps.

Inti pesannya selalu sama. Seolah-olah perempuan makhluk bodoh yang tidak bisa membaca arah sama sekali. Tidak jarang ujaran kebencian itu dilontarkan oleh akun anonim yang mana sebetulnya terlihat sekali bahwa user akun tersebut merupakan seorang laki-laki.

Baca juga: Outfit di Bandara Renjun NCT dihujat: Stop Mengukur Maskulinitas dari Cara Laki-laki Berpakaian

JJ Bola dalam bukunya, Mask Off: Masculinity Redefined (2019), menjelaskan akun anonim di media sosial seperti X (dulunya Twitter) sering kali digunakan untuk menargetkan perempuan sebagai objek pelecehan atau troll. Patriarki punya guidebook. Apabila laki-laki tidak bisa baca maps, maka laki-laki tersebut dianggap tidak maskulin. Untuk membuktikan kebolehan maskulinitas itu, laki-laki pun menggunakan media sosial sebagai arena tarung dengan cara yang tidak jarang merendahkan perempuan.

Maka rasa-rasanya, stereotip perempuan bodoh yang tidak bisa membaca maps itu sangat usang dan playbook misogini. Menariknya, berdasarkan studi berjudul Still Little evidence sex differences in spatial navigation are evolutionary adaptations (2024) yang dipublikasikan Royal Society Open Science, laki-laki memiliki kemampuan navigasi yang lebih baik dibandingkan perempuan.

Alasannya bukan karena laki-laki terlahir lebih pintar, melainkan perbedaan dari cara laki-laki dibesarkan sehingga mengasah kemampuan mereka dalam menavigasikan arah jalan. Konstruksi berpikir gender membuat manusia berpikir bahwa lebih lumrah dan dianjurkan untuk laki-laki bermain keluar rumah. Berbeda dengan perempuan yang lebih aman untuk bermain di dalam rumah.

Tentu, tidak asing lagi bukan kalau laki-laki ‘normalnya’ bermain permainan yang sifatnya fisik di lapangan, sedangkan perempuan disuruh bermain boneka atau rumah-rumahan saja?

Saya memiliki satu kakak laki-laki. Usia kami terpaut lima tahun. Pernah satu waktu, saya merasa sedikit cemburu melihat kakak saya dibolehkan bepergian sendiri ke luar kota. Sementara saat saya berada di usianya, saya tetap dibatasi tidak boleh pulang terlalu larut atau kalau mau ke luar kota, harus kena semprot omelan dua jam dari orang tua.

Baca juga: Agresif di Media Sosial, Ini Bentuk Maskulinitas Toksik?

Saya kagum dengan kakak saya karena ia betul-betul pandai melihat arah. Jarang sekali ia membuka maps dan menyasar, setidaknya di Jakarta, Tangerang, Denpasar, dan sekitarnya. Kemampuannya itu khatam karena selain dia diperbolehkan main sendiri, dia juga sering bermain gim GTA San Andreas. Maha dahsyat gim tersebut membantu orang latihan baca peta.

Masih dari studi yang sama, hasil penelitian menunjukkan kemampuan baca maps bukan perkara genetik biologis. Sehingga, tidak ada korelasinya antara jenis kelamin seorang individu dengan kemampuan navigasi. Sebetulnya, baik perempuan dan laki-laki memiliki potensi kemampuan navigasi yang sama.

Maka, kini saya mulai belajar bahwa anggapan perempuan bodoh tidak bisa baca maps itu tidak lebih dari mitos. Melansir New Scientist, kemampuan spasial hampir mirip dengan kemampuan kognitif manusia. Semakin sering digunakan, maka akan semakin terbiasa. Tetapi, bagaimana perempuan mau bisa lebih berdaya dan terbiasa kalau kesempatan dan akses aman saja sangat sulit didapat? Belum lagi stereotip yang masih membayang-bayangi perempuan.

Di era media sosial yang sangat berpengaruh ini, saya rasa perdebatan tentang bisa baca maps atau tidak itu lumayan menarik. Dari perdebatan sederhana saja, karakter seorang individu bisa terlihat. Sehingga saya cukup setuju dengan pendapat JJ Bola; upaya menantang konsep toxic masculinity bisa menjadi bagian dari transformasi kultural secara kolektif.

Upaya tersebut bisa dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan receh di internet. Bisa jadi, perdebatan yang terlihat tidak penting itu berpotensi menjadi diskursus di dunia nyata. Rasanya, perbincangan untuk meretas mitos itu juga diperlukan.

(Editor: Luviana Ariyanti)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.