Mon,7 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah

Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah

menelusuri-kemitraan-hutan-di-jambi,-berisiko-bagi-habitat-gajah
Menelusuri Kemitraan Hutan di Jambi, Berisiko bagi Habitat Gajah
service

Kawanan gajah sumatera beriringan membelah keheningan barisan eukaliptus di Desa Muara Kilis, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, awal April lalu. Mereka melintasi bentang alam Bukit Tigapuluh, yang masuk area perkebunan kayu, PT Wirakarya Sakti (WKS). Gajah-gajah itu tak menemukan satu pun tanaman yang mereka kenal, apalagi untuk  mereka makan. Rombongan gajah hanya terus berjalan sembari meninggalkan jejak kotoran di tanah yang dulu adalah rumah mereka. “Dari atas sana. Di situ ada jalan, lalu mereka turun ke bawah ini. Kalau saya hitung, ada sekitar 15 gajah. Ada anak gajah,” kata Adi, warga Muara Kilis, 18 Mei lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, hutan jalur gajah ini berubah. Dari beragam tumbuhan jadi tanaman seragam. Barisan eukaliptus kian meluas hingga menjangkau luar konsesi inti perusahaan. Meski lanskap berubah, kawanan gajah tetap melintasi wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh ini. Tak pelak, konflik gajah dan manusia pun terjadi. “Karena makanan gajah sudah tidak ada, akhirnya masuk permukiman. Ada menyasar ke tanaman sawit. Lahan dua hektar jadi korban,”  kata Ahmad Susanto, warga Lubuk Mandarsah,  Kecamatan Tengah Ilir,  Tebo. Dia  menilai,  ekspansi WKS turut mengganggu habitat gajah di Bentang Alam Tigapuluh ini. Masyarakat sekitar merasakan dampaknya. Potensi konflik antara manusia dan gajah kian membesar. Kawanan gajah pernah menyasar perkebunan sawit Ahmad. “Tahun 2017, baru setahun habis. Tanam lagi, 2018, habis. Terus saya cari modal, sampai akhirnya 2019, di-stacking (proses pembersihan dan persiapan lahan dengan alat berat) sama WKS, ditanam eukaliptus. Sempat ribut saat itu,” katanya. Peta Temuan Ekaliptus dan Wilayah Jelajah Gajah di…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.