Tue,8 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba

Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba

ketika-ikan-invasif-red-devil-berkembang-cepat-dan-jadi-ancaman-serius-ikan-lokal-di-danau-toba
Ketika Ikan Invasif Red Devil Berkembang Cepat dan jadi Ancaman Serius Ikan Lokal di Danau Toba
service

Jaring nelayan Danau Toba kini semakin sering dipenuhi red devil, ikan asing invasif yang bernilai jual rendah. Padahal, target utama mereka adalah ikan mas, nila, mujair, dan pora-pora. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata Br. Malau, istri nelayan dari Desa Simangulampe, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Red devil berasal dari Amerika Tengah, terutama aliran Sungai San Juan di Kosta Rika serta beberapa danau di Nikaragua. Ikan ini dikenal dengan sejumlah nama, seperti oskar, setan merah, lohan merah, nonong, dan tayo-tayo. Menurut Charles P.H. Simanjuntak, iktiolog dari FPIK IPB University, ikan tersebut belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Tim IPB mengidentifikasi red devil di Danau Toba sebagai Amphilophus citrinellus, meski sebagian peneliti menyebutnya Amphilophus labiatus. Ikan berwarna oranye hingga merah kehitaman ini awalnya dikenal sebagai ikan hias. Warna cerah dan sifat agresifnya terlihat menarik di akuarium, tetapi berubah menjadi ancaman ketika masuk ke perairan umum. “Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” kata Charles. Sekilas bentuknya memang menyerupai nila merah, tetapi kualitasnya berbeda. Daging red devil sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar. Karena kurang diminati, ikan tersebut diduga sempat dilepaskan ke perairan. Red devil berkembang cepat karena mudah beradaptasi dan tidak memilih makanan. Ikan ini memakan larva, plankton, telur ikan, ikan kecil, serta organisme dasar perairan. Ia juga agresif, teritorial, dan melindungi telur serta anaknya. Ikan lain yang mendekati sarangnya akan diusir. Penelitian…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.