Jombang, Arina.id—Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Afifuddin Muhajir, menegaskan bahwa warisan turots merupakan fondasi mutlak bagi eksistensi ulama.
Hal itu ia sampaikan saat memberi taujihad dalam acara Pembukaan Pameran Turots di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al Munjeed Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang (27/9/2026).
Kiai Afifuddin menyatakan bahwa hubungan antara Nahdlatul Ulama dan tradisi keilmuan masa lalu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Tidak bisa dipisahkan antara Nahdlatul Ulama dan Nahdlatut Turots. Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turots,” ujar Kiai Afifuddin dalam keterangan diterima Arina.id di Jakarta, Kamis (27/8).
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa turots secara terminologi merupakan segala peninggalan para pendahulu untuk generasi penerus, baik berupa kebudayaan material maupun non-material. Dalam konteks ke-NU-an, istilah ini merujuk secara khusus kepada kitab-kitab peninggalan para ulama terdahulu maupun karya ulama yang masih hidup.
Lebih lanjut, Kiai Afifuddin merinci cakupan luas dari kitab-kitab turots yang selama ini menjadi perhatian utama umat Islam, meliputi sumber-sumber ajaran agama, ilmu-ilmu keagamaan, hingga perangkat disiplin ilmu alat yang krusial untuk memahami agama.
“Kitab turots yang selama ini kita perhatikan adalah meliputi itu semua”, terangnya.
Penasehat Nahdlatut Turots itu juga menyoroti pentingnya menjaga warisan ini di tengah arus modernisasi pesantren. “Sering kita mengatakan bahwa pesantren-pesantren kita ingin menjadi pesantren yang memadukan kesalafan dan kemodernan. Sudah barang tentu unsur salaf tidak akan terwujud tanpa kitab turots ini,” tegasnya.
Mengakhiri taujihatnya, Kiai Afifuddin memberikan apresiasi mendalam kepada para kiai dan kalangan muda pesantren (Gus) yang konsisten merawat tradisi keilmuan ini. Beliau berpesan agar gerakan pelestarian tersebut terus hidup demi menjaga estafet keilmuan umat.
“Mudah-mudahan ini terus berlanjut, dan saya apresiasi terhadap para kiai dan para Gus yang memiliki perhatian yang serius terhadap turots ini. Mudah-mudahan tidak berhenti sampai di sini, akan tetapi berlangsung sampai kapan pun,” pungkasnya.




Comments are closed.