
Kita biasanya mengukur keberagamaan melalui hal-hal yang mudah dilihat, seperti seberapa sering pengajian diselenggarakan, berapa banyak masjid berdiri, seberapa ramai jamaah hadir, atau seberapa sering shalawat dilantunkan.
Semua itu tentu penting. Ia menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan tumbuh dan perlu terus dirawat. Tetapi, barangkali, keberagamaan tidak berhenti pada banyaknya ritual. Setelah semua ritual itu dijalankan, apa yang terjadi pada kehidupan kita?
Karena itu, kita perlu menambahkan ukuran lain. Bagaimana kualitas hubungan antar manusia di tengah masyarakat yang rajin beribadah dan bershalawat? Apakah masyarakat menjadi lebih aman? Apakah orang-orang yang lemah semakin terlindungi? Apakah kepedulian kepada tetangga semakin kuat? Apakah orang yang berbeda pendapat masih bisa duduk bersama?
Dan juga tidak kalah penting adalah apakah anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang penuh kasih sayang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tentu bukan untuk menggantikan ukuran keberagamaan yang selama ini kita kenal. Justru sebaliknya, ia hendak melengkapinya. Sebab ritual beragama seyogianya tidak hanya menghasilkan kesalehan personal, tetapi juga membawa akibat yang baik bagi kehidupan bersama.
Dari sini kita bisa melihat hubungan antara ritual dan peradaban.
Shalawat, misalnya, bukan sekadar aktivitas verbal untuk memuji dan mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Muhammad. Shalawat semestinya juga menumbuhkan akhlak yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan Nabi. Kasih sayang, penghormatan kepada sesama, kepedulian kepada yang lemah, keadilan, dan kemampuan merawat persaudaraan.
Maka, jika semakin banyak ritual keagamaan berjalan beriringan dengan semakin baiknya hubungan sosial, semakin kuatnya kepedulian, dan semakin damainya kehidupan masyarakat, berarti ada sesuatu yang penting sedang berlangsung. Ritual tidak berhenti sebagai ritual. Ia mulai bertransformasi menjadi peradaban.
Sebaliknya, jika ritual semakin ramai, tetapi hubungan sosial justru semakin keras, orang semakin mudah curiga, mudah bertengkar, dan semakin sulit menghormati perbedaan, kita tidak perlu tergesa-gesa mengatakan bahwa ritual itu sia-sia.
Justru di situlah kita perlu menjawab pertanyaan yang lebih reflektif: di mana mata rantai transformasinya terputus?
Bisa jadi persoalannya bukan pada ritualnya, melainkan pada bagaimana ritual itu dipahami, dihayati, dan kemudian diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ukuran keberagamaan bukan hanya pada apa yang terjadi ketika kita berada di dalam masjid, majelis shalawat, atau ketika suara shalawat bergema. Ukuran itu juga tampak dari apa yang terjadi setelah kita keluar dari sana.
Bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menghadapi perbedaan, bagaimana kita bersikap kepada yang lemah, dan bagaimana kita ikut merawat kehidupan bersama.
Pertanyaan inilah yang menarik untuk kita bawa ke Pengajian Padhangmbulan pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Mentoro Sumobito Jombang.
Jangan-jangan, ukuran keberhasilan keberagamaan bukan hanya seberapa ramai kita bershalawat, tetapi seberapa jauh shalawat itu membuat kehidupan di sekitar kita menjadi lebih manusiawi.





Comments are closed.