Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Shalawat dan Wajah Kehidupan Bersama

Shalawat dan Wajah Kehidupan Bersama

shalawat-dan-wajah-kehidupan-bersama
Shalawat dan Wajah Kehidupan Bersama
service

Kita biasanya mengukur keberagamaan melalui hal-hal yang mudah dilihat, seperti seberapa sering pengajian diselenggarakan, berapa banyak masjid berdiri, seberapa ramai jamaah hadir, atau seberapa sering shalawat dilantunkan. 

Semua itu tentu penting. Ia menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan tumbuh dan perlu terus dirawat. Tetapi, barangkali, keberagamaan tidak berhenti pada banyaknya ritual. Setelah semua ritual itu dijalankan, apa yang terjadi pada kehidupan kita?

Karena itu, kita perlu menambahkan ukuran lain. Bagaimana kualitas hubungan antar manusia di tengah masyarakat yang rajin beribadah dan bershalawat? Apakah masyarakat menjadi lebih aman? Apakah orang-orang yang lemah semakin terlindungi? Apakah kepedulian kepada tetangga semakin kuat? Apakah orang yang berbeda pendapat masih bisa duduk bersama? 

Dan juga tidak kalah penting adalah apakah anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang penuh kasih sayang?

Pertanyaan-pertanyaan itu tentu bukan untuk menggantikan ukuran keberagamaan yang selama ini kita kenal. Justru sebaliknya, ia hendak melengkapinya. Sebab ritual beragama seyogianya tidak hanya menghasilkan kesalehan personal, tetapi juga membawa akibat yang baik bagi kehidupan bersama.

Dari sini kita bisa melihat hubungan antara ritual dan peradaban.

Shalawat, misalnya, bukan sekadar aktivitas verbal untuk memuji dan mengungkapkan kecintaan kepada Nabi Muhammad. Shalawat semestinya juga menumbuhkan akhlak yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan Nabi. Kasih sayang, penghormatan kepada sesama, kepedulian kepada yang lemah, keadilan, dan kemampuan merawat persaudaraan.

Maka, jika semakin banyak ritual keagamaan berjalan beriringan dengan semakin baiknya hubungan sosial, semakin kuatnya kepedulian, dan semakin damainya kehidupan masyarakat, berarti ada sesuatu yang penting sedang berlangsung. Ritual tidak berhenti sebagai ritual. Ia mulai bertransformasi menjadi peradaban.

Sebaliknya, jika ritual semakin ramai, tetapi hubungan sosial justru semakin keras, orang semakin mudah curiga, mudah bertengkar, dan semakin sulit menghormati perbedaan, kita tidak perlu tergesa-gesa mengatakan bahwa ritual itu sia-sia.

Justru di situlah kita perlu menjawab pertanyaan yang lebih reflektif: di mana mata rantai transformasinya terputus?

Bisa jadi persoalannya bukan pada ritualnya, melainkan pada bagaimana ritual itu dipahami, dihayati, dan kemudian diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ukuran keberagamaan bukan hanya pada apa yang terjadi ketika kita berada di dalam masjid, majelis shalawat, atau ketika suara shalawat bergema. Ukuran itu juga tampak dari apa yang terjadi setelah kita keluar dari sana. 

Bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menghadapi perbedaan, bagaimana kita bersikap kepada yang lemah, dan bagaimana kita ikut merawat kehidupan bersama.

Pertanyaan inilah yang menarik untuk kita bawa ke Pengajian Padhangmbulan pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Mentoro Sumobito Jombang. 

Jangan-jangan, ukuran keberhasilan keberagamaan bukan hanya seberapa ramai kita bershalawat, tetapi seberapa jauh shalawat itu membuat kehidupan di sekitar kita menjadi lebih manusiawi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.