DUA hari ini istilah ‘lift‘ seperti menancap, mengaduk-aduk anu saya;….otak maksudnya. Pikiran jadi agak kacau merenungi macam-macam peristiwa yang dulu-dulu dan baru-baru ini. Enggak ada yang luar biasa sebenarnya dari terma ‘lift’ ini, tapi nuansa peristiwanya saja lah yang menurut saya agak istimewa.
Lift, seperti karakter gerak dinamisnya yang naik-turun, kalem-kalem menyeret Saya pada kenangan lama, ketika di suatu masa, saat kuliah di Surabaya, Saya ikut program visit ke Kantor Jawa Pos di Graha Pena. Itu gedung tinggi pertama yang pernah saya naiki. Dasar orang udik, pertama naik lift kepala pusing, perut mual, jadilah pulangnya turun pakai tangga.
Seorang kawan kemudian menyarankan agar latihan naik lift. Saya balik tanya, terus lift-nya siapa yang bisa dibuat latihan? Dia tertawa. Beberapa tahun berlalu, Saya bekerja di Jakarta bertemu beberapa orang udik lain, sama-sama perantauan dari desa.
Kebetulan tempat kerja kami merger sama perusahaan lain sehingga ada kebijakan rotasi pegawai: beberapa ditempatkan di kantor lama, beberapa ditempatkan di kantor baru. Kantor baru ini gedungnya tinggi sebagai pusat manajemen bisnis, desain arsitekturnya punya beberapa lantai; ada liftnya pula.
Rotasi pegawai membuat beberapa orang senang, beberapa kecewa. Nah, untuk memecah suasana, maksudnya biar enggak serius-serius banget, seorang kawan berseloroh, “ikuti saja lah, kan cita-citamu sejak kecil dulu kerja di gedung tinggi, biar bisa naik Lift?” Kami pun tertawa, lalu pecahlah suasana.
Setelah dipikir-pikir, zaman sekarang lift memang telah bergeser jadi simbol status sosial orang kaya. Lift tidak lagi berfokus pada fungsi sebagai alat bantu angkut gedung-gedung tinggi, akan tetapi kini sudah menjadi salah satu simbol kemewahan sejati, dipasang di rumah-rumah pribadi, istilahnya “home lift“.
Pendek kata, orang yang punya lift di rumahnya sekarang ternyata dianggap orang kaya. Mereka memasang lift di dalam rumah bukan lagi tentang fungsi, melainkan sudah tentang prestise serta penegasan kelas kasta sosial tinggi mereka sebagai orang yang bukan hanya kaya, tapi kaya banget.
Ada satu kajian sosiologis menarik buat memahami fenomena ini, yaitu konsep conspicuous consumption (konsumsi mencolok) yang dicetuskan Thorstein Veblen dalam bukunya The Theory of the Leisure Class (1899). Veblen menjelaskan barang-barang tidak lagi dibeli karena fungsi utamanya (use-value), melainkan sebagai mekanisme memamerkan kekayaan dan menuntut pengakuan derajat sosial.
Lift pribadi ialah pengejawantahan konsep tersebut. Orang yang memiliki lift di rumahnya, bisa dipahami bahwa ia tidak hanya memiliki rumah luas dan bertingkat-tingkat, tetapi juga memiliki kemampuan finansial berlebih untuk memasang teknologi berbiaya tinggi.
Tren memasang lift di rumah ini selaras dengan data real estate hunian mewah dunia. Jamak para pelaku industri perumahan mengonfirmasi bahwa lift rumah menjadi salah satu instrumen elevasi harga properti dan gengsi. Laporan perusahaan produsen lift, Next Level Elevators, menyebut lift residential mewah di kawasan properti premium mampu meningkatkan nilai jual rumah 10 sampai 25 persen.
Riset Market Research Future memperkuat datanya, bahwa pasar lift rumah secara global mengalami lonjakan pertumbuhan per tahun atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) secara signifikan, dipicu tren pembangunan hunian vertikal pribadi (mansion 3–5 lantai) di kawasan urban berprivasi tinggi. Artinya benar, kini bicara lift rumah bukan semata soal fungsi, tapi juga gaya hidup dan gengsi.
Viral video soal lift rumah Kiai Mif
Balik lagi soal lift. Sejak kemarin, menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, para Nahdliyin–sebutan bagi warga NU–juga kasak kusuk ramai membahas video viral sindiran moral Kiai Mustain Syafii’i (Kiai Tain) dari Tebuireng yang melempar kritik gaya hidup para rois (pemimpin) NU.
Dalam video diskusi itu, Kiai Tain berapi-api menyesalkan pergeseran karakter para rois NU. Ia bahkan kemudian mengusulkan pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi di Nahdlatul Ulama (KPK NU), sejenis lembaga anti-korupsi independen untuk mengaudit organisasi.
Gagasan itu masuk akal menurut Saya. Kalau NU ke depan ingin menjadi organisasi modern, salah satu pilihannya memang harus mampu membuat terobosan radikal semacam itu. Tentu radikal ini dalam konteks positif, yang artinya segala kebijakan harus memiliki dasar jelas, terukur, bersifat menyeluruh menyentuh akar masalahnya.
Namun video viral itu segera menjadi kontroversial ketika Kiai Tain terang-terangan me-mention nama Kiai Miftachul Akhyar (Kiai Mif), Rois Aam PBNU, sebagai contoh dalam narasi kritik moralnya. “Rais Aam, dia ini loh punya apa? (Dulu) mobilnya Kijang, rumahnya sempit. Saat ini? Mbo–mbo. Mobil-mobil mewah (di) parkiran, rumahnya tingkat, ada lift-nya juga.”
Sependek pengetahuan saya, belum pernah ada sepanjang sejarah NU, sejak periode awal sampai sebelum Kiai Mif, cerita rumah Rais Aam ada lift-nya. Rumah Kiai Maruf Amin yang pernah menjabat Rais Aam dan Wakil Presiden pun tidak ada jejak digital isunya. Sehingga kegaduhan terakhir ini menarik dikulik sebagai gejala sosial apa, dicatat kemudian dibukukan buat pengetahuan generasi mendatang.
Pesan kritik moral Kiai Tain itu ada baiknya dipahami secara proporsional, dianggap sebagai niat baik mendorong perbaikan NU, spesifiknya mendorong audit gaya hidup kepemimpinan NU ke depan. Kiai Tain bahkan menyertakan metode pembuktian terbalik bila sang rois nanti keberatan, memintanya menjelaskan sumber kekayaannya setelah menjabat Rais Aam kepada jam’iyah.
Saya menangkap pesan moral ini sebenarnya bukan hanya untuk Kiai Mif, namun buat siapa saja para pemimpin NU nanti. Kemudian sebagai kritik, hal seperti ini juga sebaiknya dimaknai bukan sesuatu yang keterlaluan. Sehingga jika kemudian ada yang reaksioner melaporkan Kiai Tain ke polisi, bagi saya itu berlebihan.
Sebaliknya, ada baiknya sebagai Nahdliyin tetap tenang, kedepankan tabayun kepada Kiai Tain, kemudian verifikasi kebenaran isunya ke Kiai Mif. Andai apa yang disampaikan Kiai Tain benar, maka kedepankan pikiran positif pada guru-guru kita itu.
Pada akhirnya, kegaduhan soal video viral kritik Kiai Tain yang menyinggung lift rumahnya Kiai Mif ini bukan semata-mata tentang terma lift-nya, namun lebih pada nuansa kegaduhan isunya yang istimewa, tepat menjelang suksesi kepemimpinan NU: Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU.
Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id




Comments are closed.