Tue,1 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Studi Ungkap Anak yang Kehilangan Orang Tua Berisiko 2 Kali Lipat Alami Gangguan Mental

Studi Ungkap Anak yang Kehilangan Orang Tua Berisiko 2 Kali Lipat Alami Gangguan Mental

studi-ungkap-anak-yang-kehilangan-orang-tua-berisiko-2-kali-lipat-alami-gangguan-mental
Studi Ungkap Anak yang Kehilangan Orang Tua Berisiko 2 Kali Lipat Alami Gangguan Mental
service

Kehilangan orang tua tentunya menjadi pengalaman berat bagi seorang anak. Karena di usia tersebut anak masih membutuhkan kasih sayang dan pendampingan dari orang tuanya. Sebuah studi dari Curtin University menemukan bahwa anak-anak yang kehilangan orang tua kemungkinan dua kali lebih besar mengalami gangguan kesehatan mental, lho, Bunda.

Dikutip dari laman resmi Curtin University, para peneliti menggunakan data dari keluarga di Australia, hasilnya menyatakan bahwa  21,4 persen anak-anak yang mengalami kehilangan orang tua memiliki gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, atau ADHD, dibandingkan 10,8 persen anak-anak yang masih memiliki orang tua.

Menurut Profesor Lauren Breen dari Sekolah Kesehatan Populasi Curtin, mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan besarnya masalah dan pentingnya dukungan yang lebih baik. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kehilangan orang tua lebih umum terjadi dan hal itu memiliki dampak yang jelas dan terukur pada kesehatan mental anak-anak,” ujar Profesor Breen.

Penelitian ini menggunakan data survei nasional yang melibatkan lebih dari 6.300 rumah tangga di Australia, yang memiliki anak rentang usia 4 hingga 17 tahun. 

“Anak-anak yang orang tuanya meninggal memiliki tingkat gangguan mental tertinggi dibandingkan kelompok lain mana pun, yaitu 28,8 persen,” ujar Breen.

“Khususnya bagi anak-anak yang lebih kecil, dampaknya bisa sangat parah.” lanjut Breen.

Studi ini menguatkan bukti bahwa kehilangan orang tua menjadi salah satu pengalaman paling menyedihkan di masa anak-anak, dan berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental.

Lembaga Lionheart Camp for Kids, mendukung anak-anak dan keluarga yang berduka. Shelley Skinner, CEO sekaligus pendirinya, mengatakan bahwa kehilangan orang tua bisa memperparah masalah yang dihadapi anak.

“Dunia luar bisa terasa semakin rumit bagi anak atau remaja yang baru belajar memahaminya. Ketika masalah dari luar memengaruhi kondisi mereka, anak menjadi lebih rentan mengalami kecemasan, perilaku beresiko, serta gangguan mental dan fisik,” ucap Skinner.

“Banyak anak yang kehilangan orang tua tetap tumbuh sehat, bahagia, dan menjalani kehidupan yang normal serta produktif.” lanjutnya.

“Pada saat yang bersamaan, setiap anggota keluarga juga membutuhkan bantuan yang tepat saat membantu anak melewati masa berduka.” tutup Skinner.

Berdasarkan jenis kehilangan orang tua, penelitian tersebut menemukan proporsi anak-anak dengan gangguan mental sebagai berikut:

  • Orang tua meninggal dunia: berisiko 28,8 persen alami gangguan mental (dibandingkan dengan 13,7 persen anak yang tidak mengalaminya)
  • Orang tua yang terlibat dalam pengasuhan: 21,9 persen alami gangguan mental (dibandingkan dengan 13,9 persen anak tanpa orang tua yang dalam pengasuhan pihak lain)
  • Orang tua bercerai: 20,2 persen alami gangguan mental (dibandingkan dengan 11,9 persen anak yang orang tuanya tidak bercerai)
  • Tidak tinggal bersama kedua orang tua kandung (secara keseluruhan): 21,3 persen alami gangguan mental (dibandingkan dengan 10,8 persen anak yang tinggal bersama kedua orang tua)

Meskipun demikian, Profesor Breen juga mengatakan banyak keluarga yang kesulitan mengakses dukungan yang tepat. 

“Anak-anak yang berduka beserta keluarganya sering menghadapi hambatan seperti mengantri daftar tunggu yang panjang, biaya yang mahal, dan tidak tahu cara mencari bantuan,” kata Breen.

“Mengetahui seberapa banyak anak yang kehilangan orang tua adalah langkah awal. Selanjutnya, kami perlu memastikan kondisi mereka dan mendapat dukungan yang dibutuhkan, seperti terapi, dukungan keluarga, dan penanganan yang tepat.” lanjut Breen.

Dengan begitu, temuan ini menyoroti perlunya dukungan yang baik bagi anak-anak yang ditinggal orang tua, termasuk memastikan layanan kesehatan mental yang mudah diakses dan didukung oleh penanganan yang tepat.

Pada akhirnya, kehilangan orang tua memang berdampak bagi kesehatan mental anak. Namun, dengan dukungan yang tepat diharapkan anak bisa memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang baik. 

Semoga informasi ini bermanfaat, ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.