Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. Ada yang membawa dus minuman, dus mie instan, hingga bahan bangunan. Sisi kirinya, bersandar belasan perahu nelayan. Perahu itu berjejer, menutupi pasir pantai. Sebagai nelayan tradisional, mayoritas mereka menggunakan perahu kurang dari 5 GT dengan bahan fiberglass dan dayung kayu. Salah satu di antara belasan perahu itu ada milik Nengah Tedun. Sudah empat bulan perahu lelaki 75 tahun ini tidak berlayar. Padahal, Agustus ini seharusnya panen ikan. Perahu nelayan berjejer di pesisir Kusamba. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Kalau dulu, tiap Agustus saya senang sekali, ikan-ikan udah panen. Sekarang nggak bisa, apa sebabnya nggak ngerti,” kata Tedun ketika ditemui di Balai Kelompok Nelayan Desa Kusamba, Rabu (19/8/26). Sejak 1965, Tedun sebagai nelayan, jadi sudah generasi ke generasi. Mereka masih menggunakan metode penangkapan tradisional dengan jaring insang dan pancing ulur. Sebelum mesin tempel muncul di 1980-an, mereka masih menggunakan layar untuk melaut. Dia bilang tongkol menjadi salah satu tangkapan dominannya. “Karena perkembangan (tongkol) sangat cepat,” kata Tedun. Bahkan sekali panen, tiap nelayan bisa mendapat 500-1000 ekor. “Sampai perahunya nggak muat,” katanya, mengenang masa lalu. Hasil tangkapan melimpah melahirkan industri pemindangan rumahan di Kusamba. Selama itu juga, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, terkenal…This article was originally published on Mongabay
Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang
Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang





Comments are closed.