Sepanjang Agustus 2026, titik api (firespot) dan titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan mencapai 2.849 titik. Tapi berbeda dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sebelumnya, titik api dan titik panas saat ini banyak terjadi di lahan mineral dibandingkan lahan gambut. “Data ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai takut membakar di area gambut. Tapi, tradisi membakar tetap berlangsung di lahan mineral,” kata Bayu Prima, Teknis GIS dan Pemetaan Hutan Kita Institut (HaKI), kepada Mongabay Indonesia, Rabu (2/9/26). Berdasarkan peta titik api dan titik panas yang dicatat HaKI dari sumber Satelit NASA (Modis Terra & Aqua), periode 1-31 Agustus 2026, tercatat 668 titik api dan titik panas di lahan gambut, dan 2.181 titik api dan titik panas di lahan mineral, yang tersebar di 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tetap menjadi wilayah tertinggi karhutla di Sumatera Selatan. Kabupaten OKI sebanyak 750 titik dan Kabupaten Muba dengan 443 titik. Kemudian disusul Kabupaten Muaraenim (345 titik), Kabupaten Banyuasin (259 titik), Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (180 titik), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (179 titik), Kabupaten Musirawas Utara (149 titik), Kabupaten Ogan Ilir (144 titik), Kabupaten Lahat (113 titik), serta Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Sementara karhutla yang di bawah 100 titik, antara lain Kabupaten Musirawas, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Empat Lawang, Kota Palembang, Kota Prabumulih, Kota Lubuklinggau, dan Kota Pagaralam. “Hanya di Kabupaten Banyuasin titik api dan titik panas banyak berada di lahan gambut, mencapai 53 titik. Sedangkan di lahan mineral, hanya 34…This article was originally published on Mongabay
Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral
Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral





Comments are closed.