
Gunung Anak Krakatau/wikipedia
Pada Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda berubah menjadi salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah disaksikan manusia. Letusan sebenarnya sudah mulai terjadi sejak 20 Mei 1883, dengan aktivitas vulkanik yang terus meningkat selama berbulan-bulan.
Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, rangkaian erupsi tersebut kemudian mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus 1883, ketika Krakatau mengalami letusan eksplosif besar dan keruntuhan tubuh gunung. Peristiwa itu menghancurkan sekitar 70 persen pulau Krakatau dan membentuk kaldera besar.
Pada fase paling dahsyat, bukan hanya material vulkanik yang dilemparkan ke udara. Keruntuhan sebagian tubuh gunung ke laut menghasilkan gelombang tsunami yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatra.
Pyroclastic surge juga melintasi Selat Sunda. Smithsonian mencatat material panas tersebut dapat bergerak hingga sekitar 40 kilometer dan mencapai pesisir Sumatra. Namun, korban terbanyak justru berasal dari tsunami.
Ledakannya begitu besar hingga dampaknya tidak berhenti di Indonesia. Atmosfer Bumi ikut berubah.
Ketika Matahari Mendadak Berwarna Hijau
Beberapa minggu setelah letusan, manusia yang tinggal ribuan kilometer dari Krakatau mulai melihat sesuatu yang sangat aneh di langit. Di India dan Ceylon, yang kini menjadi Sri Lanka, muncul laporan mengenai Matahari berwarna hijau dan biru.
Fenomena tersebut bukan cerita yang muncul puluhan tahun kemudian. Para pengamat melaporkannya ketika peristiwa itu masih berlangsung. Bahkan Royal Society kemudian mengumpulkan laporan mengenai Matahari berwarna, Bulan berwarna, kabut atmosfer, dan fenomena cahaya senjasebagai bagian dari kajian khusus tentang dampak Krakatau.
Salah satu laporan sezaman yang diterbitkan Nature menggambarkan Matahari sebagai “bright green colour” atau berwarna hijau terang.
Pengamatan tersebut terjadi di Colombo pada September 1883. Setelah hujan dan awan mulai menghilang, Matahari muncul dengan warna yang tidak biasa. Piringannya bahkan terlihat cukup redup sehingga dapat diamati secara langsung.
Fenomena tersebut kemudian menarik perhatian ilmuwan. Mereka menyadari bahwa Matahari sebenarnya tidak berubah warna. Material vulkanik yang tersebar di atmosfer setelah letusan Krakatau mengubah cara cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi.
Itulah sebabnya efek Krakatau bisa terasa jauh dari sumber letusannya. Debu dan aerosol vulkanik yang tersebar di atmosfer juga menghasilkan fenomena optik lainnya.
Royal Society kemudian menyusun laporan besar mengenai Krakatau yang membahas material vulkanik, gelombang udara, suara ledakan, gelombang laut, hingga fenomena atmosfer dan “coloured suns” atau Matahari berwarna. Laporan tersebut diterbitkan pada 1888 dan mencapai hampir 500 halaman.
Dengan kata lain, ketika Krakatau menghancurkan dirinya sendiri di Selat Sunda, efeknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar gunung. Langit di tempat yang sangat jauh pun ikut berubah.
Lebih dari 36 Ribu Orang Tewas
Di balik kisah Matahari hijau yang terdengar menakjubkan, letusan Krakatau menyisakan tragedi kemanusiaan yang luar biasa besar.
Korban terbanyak berada di pesisir Jawa dan Sumatra yang diterjang tsunami. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal, dengan tsunami sebagai penyebab utama.
Angka yang lebih spesifik, 36.417 korban jiwa, juga digunakan dalam catatan sejarah letusan tersebut dan dicantumkan oleh USGS dalam daftar letusan gunung berapi paling mematikan sejak 1500.
BNPB juga mencatat bahwa kehancuran di sejumlah wilayah pesisir sangat parah. Di kawasan Banten dan pesisir Sumatra, banyak permukiman luluh lantak setelah diterjang gelombang besar.
Maka, kisah Krakatau 1883 bukan hanya tentang sebuah gunung yang meledak. Ia adalah rangkaian bencana yang dimulai dari aktivitas vulkanik, berkembang menjadi ledakan dahsyat dan keruntuhan gunung, kemudian memicu tsunami yang menewaskan puluhan ribu manusia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor




Comments are closed.