Mayoritas penduduk Desa Bukit Padi adalah orang Melayu dan orang Jawa keturunan yang datang ke sana lewat program transmigrasi. Tetapi kepala desanya. saat ini adalah seorang pria berdarah Bugis, yang leluhurnya merantau dari Selayar, Sulawesi Selatan.
Peta sosial semacam inilah yang lebih dulu harus dibaca Amirul Mahmud dan Muhammad Iqbal, dua dai yang ditugaskan NU Online Institute melalui program Dai Penggerak 3T untuk mengabdi selama enam bulan di Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. Menjalani lakon sebagai pendatang sejak akhir Agustus 2026 di gugus kepulauan terluar mensyaratkan lebih dari sekadar penguasaan kitab kuning.
Muhammad Iqbal menyadari sepenuhnya bahwa dakwah yang efektif tidak lahir dari sikap menggurui atau khutbah satu arah, melainkan lewat interaksi kultural di pelataran rumah warga. Langkah pertama yang ia ambil adalah menjalin silaturahim dengan sang kepala desa. Wataknya yang sangat humanis dan merakyat membuat komunikasi mengalir cair tanpa sekat.
“Pernah satu malam, kami mengobrol santai di teras masjid setelah Isya. Diskusi mengalir hingga jam setengah dua belas malam. Tiba-tiba ada kabar mendadak, seorang warga sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit di Letung yang jaraknya puluhan kilometer membelah hutan. Pak Kades tanpa pikir panjang langsung turun tangan malam itu juga. Saya melihat langsung bagaimana jiwa sosialnya bekerja. Kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau, dan sejak saat itu, beliau sangat terbuka mendukung apa pun program pemberdayaan dari NU,” cerita Iqbal bersemangat.
Melebur bersama masyarakat berarti ikut menyelami urat nadi ekonomi mereka. Di Desa Bukit Padi, sumber nafkah tidak hanya datang dari laut. Warga memiliki tradisi ekonomi musiman yang unik, yakni mencari buah kepayang ke dalam rimbunnya hutan perbukitan. Buah ini sangat langka karena hanya panen setiap tiga hingga empat tahun sekali. Kepayang dipungut satu per satu dari pohon besar yang tak bisa dipanjat, lalu diolah menjadi obat herbal panas dalam yang bernilai jual ratusan ribu rupiah di pasar antarpulau.
Selain peramu hutan, sektor agrikultur di desa ini digerakkan oleh para transmigran gigih. Salah satunya adalah Mbah Danan. Di usianya yang telah menyentuh 75 tahun, pria asal Jawa yang dulu lama bermukim di Medan sebelum akhirnya berlabuh di Anambas ini tetap tegak berdiri mencangkul lahan.
Bersama istrinya yang berusia 64 tahun, Mbah Danan terus produktif menanam cabai merah dan aneka palawija, tak peduli meski musim pancaroba dengan suhu panas basah ekuator terus menggerus ketersediaan air tanah.
Harmoni budaya Nusantara juga terekam indah di wilayah ini. Kultur Melayu dan budaya Jawa melebur menjadi satu saat perayaan hari besar Islam. Ketika peringatan Maulid Nabi tiba, masyarakat dan pesantren bersukacita merayakannya dengan mengadaptasi tradisi khas Banyumasan: pohon hias. Sebatang pohon pisang yang kokoh ditancapkan di tengah aula, kemudian seluruh sisinya dihiasi dengan telur rebus warna-warni dan aneka bungkusan uang kertas pelbagai pecahan.
Acara ini diawali dengan lantunan kitab Al-Barzanji dari jamaah yang bersahut-sahutan.
“Setelah doa dan shalawatan selesai, bungkusan uang di pohon itu dibagikan satu per satu kepada anak-anak dan jamaah. Semuanya tersenyum bahagia, lalu kami tutup dengan makan ‘besek’ atau nasi berkat bersama Camat, perwakilan KUA, dan Kepala Desa. Semangat jamaahnya hidup sekali,” ujar Iqbal.
Namun, waktu enam bulan masa pengabdian akan terasa begitu singkat bagi Amirul dan Iqbal. Di sisa bulan-bulan penugasannya, mereka memendam sederet mimpi yang ingin ditinggalkan sebagai warisan (legacy) dakwah untuk warga Jemaja Timur.
Mimpi pertama mereka adalah berdirinya sebuah masjid yang layak untuk pesantren. Saat ini, santri dan ustadz harus berjalan kaki sekitar 7 hingga 10 menit menyusuri kontur perbukitan demi menunaikan ibadah Shalat Jumat di masjid desa terdekat. Keberadaan masjid pesantren tidak hanya menjadi tempat ibadah, namun bisa menyelamatkan kegiatan ngaji sore dari paparan debu jalanan.
Mimpi kedua, dan yang dirasa paling mendesak bagi infrastruktur desa, adalah pengadaan lampu penerangan jalan umum. Dari mulai gerbang Bandara Letung hingga tapal batas Desa Bukit Padi, bentangan jalan aspal yang membelah perbukitan itu gelap gulita tanpa satu pun titik lampu jalan. Praktis, setelah waktu Isya tiba, desa seolah mati suri dibekap gulita. Ketiadaan penerangan ini secara langsung membunuh mobilitas dakwah dan mematikan ekonomi malam masyarakat.
Lalu mimpi ketiga, tentu saja, hadirnya fasilitas sumur bor dalam (submersible) yang mampu menembus lapisan akuifer demi mengakhiri nestapa krisis air menahun di pesantren, serta dukungan kendaraan roda dua agar para dai tak lagi kesulitan menerobos batas antardesa.
Mimpi keempat adalah perlengkapan alat belajar mengajar, mulai dari meja, kursi, Yanbu’a, kitab dasar, alat tulis, televisi atau proyektor, papan tulis yang memadai, dan sebagainya.
Perjuangan di hamparan Pulau Jemaja belum akan usai dalam hitungan purnama. Akan tetapi, dedikasi Amirul Mahmud dan Muhammad Iqbal, di tengah bangunan tanpa plesteran dan krisis logistik, telah menjadi bukti nyata. Bahwa lentera Islam Ahlussunnah wal Jamaah tak pernah memilih tempat untuk menyala. Di sudut paling sunyi, di teras terluar negeri ini, cahaya itu akan terus hidup dan dijaga.
Catatan Redaksi: Penugasan Dai NU Online Institute di Pulau Jemaja, Anambas, merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.





Comments are closed.