Sekolah Pasca UIN Jakarta pernah ngundang beberapa Profesor dari luar negeri buat jadi dosen tamu. Salah satunya, seingat saya Robert W. Hefner. Mudah-mudahan saya tidak salah ingat. Masing-masing mahasiswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan penelitian yang sedang dilakukan. Saya kebetulan hadir di kelasnya Prof. Bob Hefner. Teman yang presentasi saat itu temanya tentang pendidikan di pesantren. Dia mengkritik tradisi pendidikan pesantren dengan menggunakan teori pendidikan kritis. Menurutnya, tradisi pendidikan pesantren sangat “feodal” dan santri tidak dibiasakan berpikir kritis dalam proses pembelajaran.
Respon yang diberikan Pak Bob sangat menarik, sampai sekarang saya masih ingat. Pertama, kalau kamu katakan pesantren tidak melahirkan santri yang kritis karena sistem pendidikannya terkesan hanya sekedar menghafal dan seterusnya, pertanyaannya kenapa rata-rata intelektual muslim yang kritis di Indonesia itu sebagian besar tumbuh dari lingkungan pesantren? Kedua, saya sarankan kamu sebelum menggunakan teori kritis, kamu juga harus kritis terhadap teori kritis yang akan kamu gunakan.
Memang tidak mudah memahami pesantren. Sangat wajar Gus Dur menyebut pesantren sebagai Sub-Kultur. Yang saya ingat dari Gus Dur, sistem kehidupan pesantren sangat beda sekali dengan kehidupan di luar pesantren. Contohnya, aktivitas pesantren biasanya hidup di malam hari. Ini beda dengan orang kota yang justru mereka malam hari sudah tidur, karena harus bangun pagi hari untuk bekerja. Sementara Santri, aktivitasnya baru dimulai malam hari: mereka masak, nyuci baju, dan belajar. Sehingga bangunnya kerapkali kesiangan. Konon tulisan ini ditulis Gus Dur untuk memberi penjelasan soal Pesantren kepada sosiolog dan antropolog kawakan jaman itu.
Pesantren itu juga banyak macamnya. Tradisinya juga berbeda-beda. Saya sendiri tumbuh dalam tradisi pesantren yang berbeda-beda. Tingkat Tsanawiyah (SMP) saya mondok di pesantren yang bisa saya katakan terpengaruh kuat sama tradisi Nadhlatul Ulama (NU). Pimpinannya ketua NU cabang bukittinggi dan aktif di PKB. Sempat teman nempelin stiker Amin Rais di lemari, ustadz saya langsung copot. Kami juga pernah ditegur karena beli seragam untuk tim shalawat warna biru. “Mestinya warna hijau,” kata Pimpinan Pondok.
Dari pesantren ini juga saya diajarkan buat cium tangan ke orang tua, ustadz, termasuk ke santri senior yang umurnya lebih tua. Ini tradisi yang sama sekali tidak saya temukan di luar pondok. Seingat saya zaman itu, cium tangan ke orang yang lebih tua bukanlah suatu hal yang umum. Kalau pas lagi bangun sekolah, kami juga diminta buat bantu ngancurin bangunan sekolah lama, motong bambu di hutan, kemudian gotong royong bawa bambu itu ke sekolah. Angkat pasir dan tanah dari jalan utama ke halaman sekolah, karena trucknya tidak bisa masuk.
Saya belum paham konsep “berkah” waktu itu. Sudah pasti saya kesal kalau giliran angkat bambu. Tubuh saya masih kecil, bambu yang diangkat lumayan panjang. Yang ikut gotong royong tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Kekesalan saya lumayan terhibur, karena kalau pas giliran angkat bambu, saya bisa keluar pondok. Merasakan suasana yang lain.
Ketika Aliyah saya pindah sekolah. Saya sekolah di pesantren Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Kulturnya beda dengan pesantren saya dulu. Di sini jarang sekali saya liat orang cium tangan, termasuk ke guru. Relasi guru dan murid kayaknya lebih egaliter. Saya pernah liat senior lagi jalan bareng sama guru sepuh sambil pegang pundaknya, kayak jalan sama teman sebaya. Kalau di kelas, guru baru baca bismillah, udah banyak yang nanya dan debat. Jadi wajar kalau tidak ada kitab yang tamat dibaca. Guru dihormati, tapi bentuk penghormatannya berbeda. Kalau ada pembangunan sekolah, saya pikir semua santri juga diajak buat gotong royong, tapi ternyata tidak.
Ketika kuliah di UIN, saya mondok lagi di Darussunnah. Kulturnya juga beda. Karena pernah sekolah di pesantren yang tradisinya hampir sama dengan NU, saya tidak kaget dengan adab teman-teman terhadap guru atau Kiai. Kalau diajak berkunjung ke pesantren-pesantren lain, saya berusaha untuk menyesuaikan adabnya. Seperti kata pepatah minang, “Di mana bumi dipijak. Di situ langit dijunjung. Artinya, kita harus membiasakan diri dengam aturan dan tradisi masyarakat yang berbeda beda.
Saya pernah diajak sowan ke Kiai di Jawa Timur bareng teman. Baru masuk pintu, teman saya udah langsung jalan jongkok, saya langsung ngikut di belakangnya. Waktu ngobrol ama kiainya, saya liat teman saya nunduk terus, ngak liat wajah kiai, saya juga ngikut kayak gtuh. Karena tidak terbiasa, sekali-kali saya tegakkan juga kepala, karena nunduk terlalu lama, lumayan pegal juga.
Saya memahami apa yang dilakukan teman saya itu sebagai bentuk menghormati guru. Saya tidak perlu menafsirkannya macam-macam. Apalagi menudingnya sebagai tradisi feudal dan seterusnya. Saya hanya berusaha untuk selalu menyesuaikan diri, supaya tidak dianggap tidak beradab atau kurang sopan.
Bagi orang yang tidak pernah mondok atau terbiasa dengan tradisi pesantren, tentu akan kaget melihat tradisi-tradisi penghormatan terhadap guru yang terkesan tidak lazim bagi orang yang tumbuh di lingkungan non-pesantren. Apalagi kalau cuma melihatnya dalam bentuk potongan video, yang sudah diframing buruk oleh Trans7.





Comments are closed.