Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Urip Iku Langgeng: Berguru Kehidupan pada Pohon-Pohon di Pekuburan

Urip Iku Langgeng: Berguru Kehidupan pada Pohon-Pohon di Pekuburan

urip-iku-langgeng:-berguru-kehidupan-pada-pohon-pohon-di-pekuburan
Urip Iku Langgeng: Berguru Kehidupan pada Pohon-Pohon di Pekuburan
service

Bale lumut ambreganggeng

Lamun mati aja dadi dewa ratu

Suksma ilang kontrang-kantringan

Paran oncating suksma

Dhedhencengan pindha ganggeng kulawan lumut

Manut ilining tirta

Lelambak-lambak tumekeng samudra laya

Lebur katiyubing mandra

—Sendhon Tlutur Nem Wantah

Di zaman ini terdapat berbagai cara untuk mengetahui, atau mencoba untuk mengetahui, orang-orang yang telah tergolek di pekuburan, apalagi dalam kurun yang sudah cukup lama. Selain corak nisan dan hal-hal di sekitarnya, saya cukup tertarik pada pepohonan yang biasanya tegak menjulang di sekitar atau bahkan tepat di atas sebuah makam.

Konon, di wilayah Ponorogo, ketika di sekitar pemakaman terdapat pohon Tanjung, maka yang terbaring di sana adalah anak keturunan Pangeran Jayaraga, salah seorang putra dari Panembahan Senapati di Mataram dengan R. Ayu Kajoran.

Dalam skema sangkan-paran yang menjadi dasar dari tata ruang keraton Yogyakarta, pohon Tanjung adalah sebuah tinanda dari fase seorang anak yang tumbuh dengan penuh sanjungan. Filosofi ini kemudian berkembang hingga pada pohon Kemuning di cepuri keraton yang konon menandakan kebeningan (beninging rasa) sebagai syarat untuk sapatemon dengan raja atau sang wakil Tuhan—atau bahkan kemudian ke makam baqa untuk “ngedhaton.”

Sebagaimana nisan-nisan makam kuno atau bersejarah, di samping dapat mengacu pada status sosial, dan kultural yang dimakamkan—taruhlah motif nisan “Muhammad Kembar” atau “Muhammad Sarira”—, pohon atau pepohonan di areal pekuburan ternyata dapat mengacu pula pada status-status spiritual.

Pohon Pule konon adalah salah satu tinanda bahwa sang ahlil kubur, secara spiritual dan fisikal, telah “pulih” atau “mulih-mula-mulanira,” atau telah mengalami ideal kematian yang sempurna (wekasan luhur).

Dalam perspektif itu, maka segala hal yang sejauh ini dikaitkan dengan tinanda di makam-makam yang dianggap bersejarah adalah lebih mengacu pada harapan akan dan bahkan kedudukan spiritual yang dimakamkan.

Taruhlah bentuk dan corak nisan Demak-Tralaya atau “ngGresikan” yang memiliki motif sulur tumbuhan yang lebih membentuk pola rahim sang ibu, sebagaimana salah satu motif relief di Candi Sukuh yang jelas tak mengacu pada status sosial-kultural.

Demikian pula motif nisan “purnama sidhi” atau “wulan tumanggal,” apalagi “Muhammad Sarira,” yang selama ini dimaknai bahwa sang ahlil kubur adalah seorang ulama atau setengah ulama (status sosial-kultural).

Sebagaimana tinanda makam Pohon Pule, bisa jadi simbol-simbol itu lebih merujuk pada kedudukan spiritual sang sangkan yang merupakan sang paran: kehidupan di rahim sang ibu sebelum peristiwa “nafakhtu” dan bahkan kehidupan sejati dimana sang ayah dan sang ibu belum bertemu.

Maka, sebagai konsekuensinya, ketika tinanda-tinanda makam yang dianggap bersejarah dibaca dalam kerangka seperti itu, kematian bukanlah lawan dari kehidupan. Inilah kenapa, dalam kebudayaan Jawa, kerap dinyatakan bahwa urip itu langgeng.

Dan bukankah dalam dunia agama kematian itu juga diistilahkan sebagai sebentuk kiamat sugra yang secara harfiah justru bermakna “jumeneng,” dimana sugra di situ adalah representasi dari jagat diri yang pada dasarnya selalu terkait dengan jagat kubra?

Yang cukup menarik dari makam-makam yang dianggap bersejarah itu, lazimnya makam-makam yang ditandai oleh Pohon Pule sama sekali tak menunjukkan kemegahan dalam hal bangunan—dan bahkan ada yang sampai makamnya hilang tak berbekas ditelan dan dipendam oleh sang pohon.

Bukankah ironis ketika kedudukan yang dianggap tertinggi (wekasan luhur) justru tampil dengan kesan yang biasa-biasa saja, dan bahkan tanpa kesan sama sekali karena tak ada tampilan—seolah tanpa “penganggep” dan “pengarep-arep”?

Demikianlah, dalam spiritualitas Jawa, kematian yang dianggap sempurna (wekasan luhur), tanpa penganggep dan pengarep-arep (lamun mati aja dadi dewa ratu), dimana yang lahir dan yang batin adalah sebagaimana ganggeng dan lumut yang terhanyut sampai samudera dan lebur dihembuskan angin. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.