Bale lumut ambreganggeng
Lamun mati aja dadi dewa ratu
Suksma ilang kontrang-kantringan
Paran oncating suksma
Dhedhencengan pindha ganggeng kulawan lumut
Manut ilining tirta
Lelambak-lambak tumekeng samudra laya
Lebur katiyubing mandra
—Sendhon Tlutur Nem Wantah
Di zaman ini terdapat berbagai cara untuk mengetahui, atau mencoba untuk mengetahui, orang-orang yang telah tergolek di pekuburan, apalagi dalam kurun yang sudah cukup lama. Selain corak nisan dan hal-hal di sekitarnya, saya cukup tertarik pada pepohonan yang biasanya tegak menjulang di sekitar atau bahkan tepat di atas sebuah makam.
Konon, di wilayah Ponorogo, ketika di sekitar pemakaman terdapat pohon Tanjung, maka yang terbaring di sana adalah anak keturunan Pangeran Jayaraga, salah seorang putra dari Panembahan Senapati di Mataram dengan R. Ayu Kajoran.
Dalam skema sangkan-paran yang menjadi dasar dari tata ruang keraton Yogyakarta, pohon Tanjung adalah sebuah tinanda dari fase seorang anak yang tumbuh dengan penuh sanjungan. Filosofi ini kemudian berkembang hingga pada pohon Kemuning di cepuri keraton yang konon menandakan kebeningan (beninging rasa) sebagai syarat untuk sapatemon dengan raja atau sang wakil Tuhan—atau bahkan kemudian ke makam baqa untuk “ngedhaton.”
Sebagaimana nisan-nisan makam kuno atau bersejarah, di samping dapat mengacu pada status sosial, dan kultural yang dimakamkan—taruhlah motif nisan “Muhammad Kembar” atau “Muhammad Sarira”—, pohon atau pepohonan di areal pekuburan ternyata dapat mengacu pula pada status-status spiritual.
Pohon Pule konon adalah salah satu tinanda bahwa sang ahlil kubur, secara spiritual dan fisikal, telah “pulih” atau “mulih-mula-mulanira,” atau telah mengalami ideal kematian yang sempurna (wekasan luhur).
Dalam perspektif itu, maka segala hal yang sejauh ini dikaitkan dengan tinanda di makam-makam yang dianggap bersejarah adalah lebih mengacu pada harapan akan dan bahkan kedudukan spiritual yang dimakamkan.
Taruhlah bentuk dan corak nisan Demak-Tralaya atau “ngGresikan” yang memiliki motif sulur tumbuhan yang lebih membentuk pola rahim sang ibu, sebagaimana salah satu motif relief di Candi Sukuh yang jelas tak mengacu pada status sosial-kultural.
Demikian pula motif nisan “purnama sidhi” atau “wulan tumanggal,” apalagi “Muhammad Sarira,” yang selama ini dimaknai bahwa sang ahlil kubur adalah seorang ulama atau setengah ulama (status sosial-kultural).
Sebagaimana tinanda makam Pohon Pule, bisa jadi simbol-simbol itu lebih merujuk pada kedudukan spiritual sang sangkan yang merupakan sang paran: kehidupan di rahim sang ibu sebelum peristiwa “nafakhtu” dan bahkan kehidupan sejati dimana sang ayah dan sang ibu belum bertemu.
Maka, sebagai konsekuensinya, ketika tinanda-tinanda makam yang dianggap bersejarah dibaca dalam kerangka seperti itu, kematian bukanlah lawan dari kehidupan. Inilah kenapa, dalam kebudayaan Jawa, kerap dinyatakan bahwa urip itu langgeng.
Dan bukankah dalam dunia agama kematian itu juga diistilahkan sebagai sebentuk kiamat sugra yang secara harfiah justru bermakna “jumeneng,” dimana sugra di situ adalah representasi dari jagat diri yang pada dasarnya selalu terkait dengan jagat kubra?
Yang cukup menarik dari makam-makam yang dianggap bersejarah itu, lazimnya makam-makam yang ditandai oleh Pohon Pule sama sekali tak menunjukkan kemegahan dalam hal bangunan—dan bahkan ada yang sampai makamnya hilang tak berbekas ditelan dan dipendam oleh sang pohon.
Bukankah ironis ketika kedudukan yang dianggap tertinggi (wekasan luhur) justru tampil dengan kesan yang biasa-biasa saja, dan bahkan tanpa kesan sama sekali karena tak ada tampilan—seolah tanpa “penganggep” dan “pengarep-arep”?
Demikianlah, dalam spiritualitas Jawa, kematian yang dianggap sempurna (wekasan luhur), tanpa penganggep dan pengarep-arep (lamun mati aja dadi dewa ratu), dimana yang lahir dan yang batin adalah sebagaimana ganggeng dan lumut yang terhanyut sampai samudera dan lebur dihembuskan angin.




Comments are closed.