Jambi berada di titik genting. Provinsi dengan hutan yang dulu menjadi penyangga kehidupan, sumber air dan penjaga iklim, kini mulai tergerus laju ekstraksi sumber daya alam. Jambi pun dalam ancaman krisis ekologi dan otensi bencana eksponensial. Data KKI Warsi, dalam 52 tahun terakhir, Jambi kehilangan sekitar 2,5 juta hektar hutan. Tutupan hutan tersisa hanya 929.899 hektar atau 18,54% dari luas daratan. “Jika ditarik lebih singkat, dalam 10 tahun terakhir Jambi kehilangan hutan 112.372 hektar atau setara dengan lima kali luas Kota Jambi. Angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis, yang berpotensi menjadi bencana,” kata Adi Junedi, Direktur KKI Warsi saat merilis Catatan Akhir Tahun 2025. Menurut Adi, alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala luas, terutama sawit, ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan menjadi faktor dominan hilangnya hutan, dan jadi pemicu utama krisis ekologis. Aktivitas tambang batubara dan emas ilegal, merusak bentang alam, mencemari sungai, dan memunculkan masalah sosial sosial. Pantauan citra satelit menunjukkan lebih dari 16.200 hektar kawasan hutan dan areal pengguanan lain dibuka untuk pertambangan batubara. Ada 3.400 hektar tambang batubara terindikasi ilegal. “Sedangkan penambangan emas tanpa terindikasi telah merusak lebih dari 60.000 hektar, setara hampir tiga kali luas Kota Jambi, terlihat di kawasan areal penggunaan lain, hingga taman nasional,” kata Adi. Walhi Jambi mencatat sejak 2001-2024, Jambi kehilangan tutupan lahan seluas 993.453 hektar, setara 13 kali luas Singapura. Kehilangan tutupan lahan yang krusial terjadi di wilayah huluan daerah aliran sungai (DAS) Batanghari dan Pengabuan Lagan. Pembukaan hutan untuk perkebunan di Bukit Barisan. Foto: Teguh S/Mongabay…This article was originally published on Mongabay
Jambi Dalam Ancaman Bencana Ekologis
Jambi Dalam Ancaman Bencana Ekologis





Comments are closed.