Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Tekanan ekologis di Batam menelan 90% tutupan mangrove dalam 50 tahun

Tekanan ekologis di Batam menelan 90% tutupan mangrove dalam 50 tahun

tekanan-ekologis-di-batam-menelan-90%-tutupan-mangrove-dalam-50-tahun
Tekanan ekologis di Batam menelan 90% tutupan mangrove dalam 50 tahun
service

Tekanan ekologis di pesisir Batam diakibatkan pembangunan masif, reklamasi pesisir, hingga perubahan status kawasan hutan.

Keseimbangan lingkungan perlahan hilang di pesisir Batam. Dari Piayu hingga Manggulung, hutan mangrove sebagai benteng alami yang selama puluhan tahun melindungi daratan dari gelombang, menyaring limbah, serta menjadi rumah bagi biota laut, kini terancam oleh aktivitas manusia yang terus berulang. Kerusakan yang terjadi bukan sekadar narasi statistik, tetapi menjadi kenyataan yang dirasakan oleh masyarakat lokal dan penjaga lingkungan.

Dalam catatan terbaru Akar Bhumi Indonesia (ABI) dan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), disebutkan sekitar 80–90 persen tutupan mangrove Batam telah hilang dalam 50 tahun terakhir. Kehilangan tersebut terjadi di dalam maupun di luar kawasan.

Kerusakan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Tekanan ekologis di pesisir Batam sangat tinggi akibat pembangunan masif, reklamasi pesisir, galangan kapal, perumahan, dapur arang bakau, tambak, dan perubahan status kawasan hutan. Aktivitas yang dibalut oleh berbagai regulasi dan kebutuhan pembangunan ini sering kali legal secara administratif, tetapi sangat bermasalah secara ekologis.

Ancaman tiada henti terhadap mangrove

Pengerukan bukit, penimbunan lahan, serta reklamasi tanpa izin, terus marak terjadi di Batam. Banyak titik pesisir mendapat ancaman lingkungan yang tiada henti. Peran penting mangrove kini telah digantikan oleh tanah reklamasi, tembok beton, atau lahan terangkat datarnya.

“Kerusakan yang kami laporkan hampir seluruhnya terjadi di laut dan pesisir. Ada penimbunan, pembukaan lahan, bahkan reklamasi yang menghilangkan mangrove. Ini ancaman serius bagi kelestarian lingkungan,” kata Ketua ABI, Sony Riyanto.

Kenyataannya kerusakan ini bukan sekadar soal hilangnya batang pohon bakau, tetapi fungsi ekologis mangrove jauh lebih kompleks. Akar bakau mangrove mampu menahan abrasi, menjebak sampah, memberikan habitat bagi ikan, kepiting, dan biota laut lainnya, serta berperan sebagai penyaring alami bagi aliran sungai yang bermuara ke laut. Ketika struktur ini rusak, efek domino terhadap ekosistem pesisir dari laut hingga daratan hampir tak terelakkan.

Salah satu indikator kerusakan yang paling mudah terlihat adalah penumpukan sampah di muara seperti Tanjung Piayu. Tanpa bakau yang kuat menahan limbah, sampah dari pemukiman lebih mudah masuk ke laut, mempercepat degradasi habitat laut, sekaligus membebani kehidupan nelayan lokal. Para nelayan kini merasakan langsung dampak penurunan hasil tangkapan akibat hilangnya ruang hidup biota laut.

Kebijakan dan harapan aksi kolektif

Kolaborasi ABI dan IOJI turut merumuskan arah advokasi dan penegakan hukum bersama. IOJI sebagai organisasi yang fokus pada tata kelola laut berkelanjutan dan berkeadilan, merupakan mitra strategis dalam memperkuat advokasi berbasis data dan kebijakan.

Kedua lembaga ini sepakat untuk memperkuat advokasi hukum lingkungan, penyusunan peta tata ruang mangrove Batam, mengkaji kemungkinan judicial review terhadap regulasi yang mengancam ekologi pesisir, serta kontribusi data lapangan untuk kebijakan nasional pengelolaan pesisir dan pulau kecil. Semua itu ditujukan untuk menghadapi tantangan tata ruang yang lemah dan dominasi kepentingan pembangunan yang sering mengorbankan alam.

Kondisi mangrove Batam hari ini merupakan kisah berulang di banyak wilayah pesisir Indonesia. Eksploitasi alam untuk pembangunan tanpa pertimbangan ekologis menyeluruh, berujung pada hilangnya benteng alami yang seharusnya melindungi kehidupan pesisir dan laut.

Ekosistem yang tergerus oleh reklamasi hingga dampak nyata pada kehidupan masyarakat nelayan, menunjukkan krisis ini membutuhkan upaya pemulihan yang tidak hanya sekadar menanam bibit bakau. Upaya tersebut harus melibatkan perubahan paradigma tata kelola, penegakan hukum yang tegas, dan dukungan masyarakat luas.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.