Setiap Hari Pendidikan Nasional, sekolah bergerak dalam irama yang sudah kita kenal. Murid berbaris. Guru berdiri di depan lapangan. Pejabat membacakan sambutan. Kata-kata seperti mutu, karakter, teknologi, inovasi, dan masa depan kembali terdengar. Semua tampak rapi. Semua terasa resmi. Akan tetapi ada satu pertanyaan yang jarang tinggal lebih lama di kepala kita: dunia macam apa yang sedang kita siapkan untuk anak-anak?
Pertanyaan itu penting karena pendidikan tidak dimulai dari kurikulum. Pendidikan dimulai dari tanggung jawab orang dewasa. Anak-anak datang ke dunia yang sudah penuh dengan keputusan lama. Mereka masuk ke ruang yang sudah diisi aturan, kesalahan, ketimpangan, harapan, dan warisan yang belum selesai. Mereka tidak memilih dunia itu. Orang dewasalah yang menyerahkannya.
Hannah Arendt (1906-1975) membantu kita melihat pendidikan dari arah yang lebih jernih. Baginya, anak bukan bahan mentah untuk dibentuk sesuai kebutuhan pasar, negara, atau ambisi orangtua. Anak adalah pendatang baru. Mereka membawa kemungkinan untuk memulai sesuatu yang belum kita bayangkan. Karena itu, pendidikan tidak cukup kita ukur dari nilai, ijazah, peringkat, dan pekerjaan.
Arendt meneroka bahwa pendidikan adalah titik ketika manusia dewasa memutuskan apakah mereka cukup mencintai dunia untuk bertanggung jawab atasnya, lalu menyelamatkannya dari kerusakan melalui kedatangan generasi baru (Arendt, 1977, hlm. 196, dikutip dalam Nixon, 2020, hlm. vi). Kalimat itu terdengar lembut, tetapi tuntutannya keras. Orang dewasa tidak boleh mewariskan dunia yang kacau, lalu meminta anak-anak menjadi kreatif, adaptif, dan tangguh seorang diri.
Anak yang Datang Membawa Awal Baru
Arendt memakai istilah natality untuk mendedah kemampuan manusia memulai sesuatu yang baru. Setiap kelahiran membuka kemungkinan. Setiap anak membawa awal yang belum selesai. Ia tidak datang sebagai salinan orang tua, guru, birokrat, atau dunia kerja. Ia datang dengan cara melihat, bertanya, dan bertindak yang bisa saja berbeda dari generasi sebelumnya.
Nixon membaca gagasan pendidikan Arendt melalui tema natalitas, janji, pluralitas, berpikir, menilai, bertindak, kebebasan, dan ruang publik (Nixon, 2020, hlm. viii). Dari sini kita bisa memahami bahwa pendidikan tidak boleh jatuh menjadi pelatihan teknis belaka. Pendidikan harus membantu anak mengenal dunia bersama, lalu memberi mereka bekal untuk ikut memperbaikinya.
Masalah pendidikan kita muncul ketika bahasa masa depan tidak bertemu dengan praktik ruang kelas. Kita sering meminta siswa menguasai keterampilan abad ke-21. Kita ingin mereka kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Namun banyak kelas masih berjalan dengan pola lama. Guru mengejar materi. Murid mengejar nilai. Sekolah mengejar dokumen. Kampus mengejar indikator. Anak diminta siap menghadapi masa depan, sementara sistem masih melatih mereka untuk takut salah.
Data PISA 2022 menunjukkan pekerjaan besar itu. Skor rata-rata siswa Indonesia usia 15 tahun berada pada 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains. Angka itu masih berada di bawah rata-rata OECD, yaitu 472 untuk matematika, 476 untuk membaca, dan 485 untuk sains (OECD, 2023). Data ini tidak pantas dipakai untuk menyalahkan anak. Data ini harus membuat orang dewasa memeriksa cara negara, sekolah, pesantren, kampus, dan keluarga membangun pembelajaran.
Guru di Antara Anak dan Dunia
Dalam pemikiran Arendt, guru memiliki tugas yang berat. Guru berdiri di antara anak dan dunia. Ia mengenalkan dunia kepada anak, tetapi ia tidak boleh mengunci masa depan anak ke dalam selera orang dewasa. Guru memberi arah, tetapi ia tidak boleh mematikan kemungkinan baru.
Veck dan Gunter menjelaskan bahwa krisis pendidikan muncul ketika orang dewasa gagal memikul tanggung jawab bersama atas dunia. Pendidikan bertugas mempersiapkan anak agar mampu memahami, merefleksikan, dan bertindak di dalam dunia, tanpa mendorong mereka terlalu cepat memikul beban politik orang dewasa (Veck & Gunter, 2020, hlm. 2). Di sinilah guru menjadi tokoh utama. Guru tidak sekadar menyampaikan materi. Guru mewakili dunia di hadapan anak.
Walakin sistem pendidikan kita sering membuat guru jauh dari inti pekerjaannya. Guru mengisi laporan. Guru menyesuaikan format. Guru mengejar bukti kinerja. Guru mengikuti perubahan aplikasi dan kebijakan. Banyak guru tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Tetapi sistem kerap mengambil waktu terbaik mereka.
Pertanyaan yang perlu kita ajukan semenjana. Berapa banyak waktu guru untuk membaca tulisan murid? Berapa banyak waktu guru untuk mendampingi siswa yang tertinggal? Berapa banyak waktu guru untuk merancang pertanyaan yang baik? Berapa banyak waktu guru habis untuk pekerjaan administratif yang tidak memperbaiki pembelajaran?
Anggaran pendidikan Indonesia besar. APBN 2024 mengalokasikan belanja pendidikan yang mencakup dukungan bagi guru dan dosen, termasuk gaji, tunjangan profesi, dan tambahan penghasilan guru (Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2025). Namun anggaran tidak otomatis mengubah kelas. Uang harus sampai menjadi waktu guru, buku bermutu, pelatihan yang berguna, fasilitas yang berfungsi, dan kepemimpinan sekolah yang menjaga pembelajaran.
Otoritas yang Memberi Arah
Arendt sering dibaca sebagai pemikir pendidikan yang konservatif. Pembacaan itu ada dasarnya, tetapi tidak cukup. Ia memang menolak anak dijadikan alat perjuangan politik orang dewasa. Ia ingin anak mendapat masa perlindungan. Namun perlindungan tidak berarti pengekangan.
Gordon menunjukkan bahwa Arendt tidak memahami tradisi sebagai garis lurus yang harus diwariskan begitu saja. Tradisi memuat retakan, inovasi, dan peluang pembaruan yang dapat dikerjakan oleh generasi muda (Gordon, 2001, hlm. 3). Dengan cara ini, Arendt tidak meminta sekolah memuja masa silam. Ia meminta sekolah memperkenalkan masa lampau agar anak mampu menilainya.
Banyak sekolah masih memahami otoritas sebagai perintah. Guru berbicara, murid mendengar. Guru menentukan, murid mengikuti. Guru menilai, murid menerima. Pola ini bisa menciptakan ketertiban. Namun ketertiban tidak selalu melahirkan kedewasaan.
Otoritas pendidikan yang sehat lahir dari tanggung jawab. Guru berwibawa karena ia memahami dunia dan mampu memperkenalkannya kepada anak. Ia tidak perlu merendahkan murid. Ia tidak perlu takut pada pertanyaan. Ia tidak perlu menutup ruang berbeda pendapat. Otoritas seperti ini memberi arah, batas, dan contoh.
Di kelas, gagasan ini dapat dimulai dari hal kecil. Guru membuka pelajaran dengan masalah nyata. Guru meminta murid menjelaskan alasan, bukan sekadar memberi jawaban. Guru memberi ruang sanggahan yang tertib. Guru menilai proses berpikir. Guru mengajak siswa membaca satu peristiwa dari beberapa sudut pandang. Perubahan seperti ini tidak memerlukan slogan baru. Ia memerlukan kebiasaan yang dijaga.
Belajar Menilai, Bukan Sekadar Diberi Nilai
Salah satu kelemahan pendidikan kita terletak pada daya menilai. Banyak anak terbiasa diberi nilai, tetapi kurang dilatih menilai. Mereka mengenal skor, tetapi jarang belajar menyusun pertimbangan. Mereka tahu jawaban benar dalam ujian, tetapi belum tentu mampu membedakan fakta, opini, prasangka, dan manipulasi.
Rodowick membaca Arendt sebagai pemikir yang menempatkan judgment, atau daya menilai, di pusat pendidikan humaniora. Ia menegaskan bahwa berpikir dan menilai saling terkait erat. Keduanya membentuk kemampuan manusia untuk memahami makna, nilai, dan tindakan dalam kehidupan bersama (Rodowick, 2021, hlm. xiii). Daya menilai tidak tumbuh dari hafalan. Ia tumbuh dari kebiasaan membaca, mendengar, membandingkan, bertanya, dan memperbaiki pendapat. Pendidikan yang baik tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa jawabanmu?” Ia melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih penting, “Mengapa kamu berpikir begitu?”
Di sekolah dasar, latihan menilai dapat muncul lewat cerita, gambar, permainan, percobaan sederhana, dan masalah di sekitar rumah. Di SMP dan SMA, siswa dapat membandingkan berita, membaca sumber berbeda, menulis pendapat, dan belajar menyanggah tanpa menyerang pribadi. Di kampus, mahasiswa perlu membaca buku utuh, menyusun argumen, menerima kritik, dan memperbaiki tulisan.
Kita sering mencari reformasi besar. Padahal ruang kelas berubah melalui kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Satu guru yang sabar meminta alasan dapat mengubah cara anak berpikir. Satu sekolah yang memberi waktu membaca dapat mengubah budaya belajar. Satu kampus yang menghargai diskusi dapat membentuk warga yang lebih tahan terhadap kebisingan publik.
Sekolah sebagai Ruang Bersama
Arendt melihat manusia hidup dalam dunia bersama. Dunia bersama bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang tempat manusia berbicara, bertindak, mengingat, berdebat, dan membangun makna. Sekolah seharusnya menjadi ruang pertama tempat anak belajar menghadapi perbedaan secara beradab.
Gordon menegaskan bahwa konsep Arendt perihal natalitas, tindakan, kebebasan, kesetaraan, ruang publik, dan pluralitas memiliki kaitan kuat dengan pendidikan demokratis (Gordon, 2001, hlm. 4). Oleh sebab itu, pendidikan kewargaan tidak cukup menjadi hafalan simbol negara, lembaga, dan pasal. Ia harus menjadi latihan hidup bersama.
Anak perlu belajar berwicara tanpa menghina. Anak perlu belajar mendengar tanpa cepat menolak. Anak perlu belajar kalah dalam perdebatan tanpa menyimpan dendam. Anak perlu belajar menang tanpa merendahkan. Semua itu tidak lahir dari ceramah. Semua itu lahir dari pengalaman kelas yang dikelola dengan baik.
Indonesia memiliki keragaman yang nyata di sekolah. Ada perbedaan agama, suku, bahasa, kelas ekonomi, kemampuan akademik, dan pengalaman keluarga. Keragaman ini dapat menjadi modal pendidikan. Namun ia memerlukan guru yang siap mengelola percakapan. Ia memerlukan kurikulum yang jujur pada sejarah. Ia memerlukan sekolah yang membuat anak merasa aman.
Tatkala sekolah patah pucuk menjadi ruang perjumpaan, masyarakat mudah pecah. Ketika sekolah hanya melatih persaingan, anak belajar melihat orang lain sebagai ancaman. Ketika sekolah memberi pengalaman kerja sama yang bermakna, anak belajar bahwa dunia bersama perlu dijaga.
Krisis Pendidikan Publik
Veck dan Gunter menyatakan bahwa zaman ini tidak cukup disebut mengalami krisis di dalam pendidikan. Yang terjadi ialah krisis atas gagasan pendidikan publik itu sendiri (Veck & Gunter, 2020, hlm. 3). Pernyataan ini relevan untuk Indonesia.
Pendidikan makin sering dipahami sebagai investasi pribadi. Orangtua mencari sekolah yang memberi keunggulan kompetitif. Kampus mengejar ukuran pasar. Pemerintah mengejar angka serapan. Anak belajar bahwa pendidikan terutama berguna untuk mengalahkan orang lain.
Arendt mengingatkan bahwa pendidikan harus lebih luas dari logika pasar. Pasar membutuhkan tenaga kerja. Negara membutuhkan warga. Dunia membutuhkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan bertindak bersama. Pendidikan harus melayani kebutuhan itu tanpa melupakan manusia sebagai pusatnya.
Hardiknas dapat menjadi titik koreksi. Pertama, kurangi beban administratif guru yang tidak berdampak langsung pada pembelajaran. Setiap kebijakan perlu diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah kebijakan ini menambah waktu guru bersama murid?
Kedua, pulihkan budaya membaca dan menulis. Literasi tidak akan naik jika sekolah hanya menambah tes. Anak perlu buku, waktu membaca, guru yang memberi contoh, dan tugas menulis yang mendapat umpan balik.
Ketiga, jadikan semua mata pelajaran sebagai latihan menilai. Matematika melatih alasan. IPA melatih bukti. Bahasa melatih tafsir. IPS melatih konteks. Seni melatih kepekaan. Pendidikan agama melatih tanggung jawab moral. Semua mata pelajaran dapat membantu anak masuk ke dunia dengan pikiran yang lebih jernih.
Hardiknas sebagai Ujian bagi Orang Dewasa
Arendt tidak meminta guru menanggung seluruh beban dunia sendirian. Ia meminta orang dewasa tidak lari dari tanggung jawab. Anak-anak datang sebagai kemungkinan baru. Kemungkinan itu dapat mati bila sekolah memadamkan rasa ingin tahu, birokrasi melelahkan guru, keluarga hanya menuntut nilai, dan negara terlalu sering mengganti arah tanpa mendengar ruang kelas.
Pendidikan yang baik tidak memuja masa lampau. Ia juga tidak memutus anak dari masa silam. Pendidikan memperkenalkan warisan manusia, lalu memberi anak kemampuan untuk menguji dan memperbaruinya. Di titik ini, guru menjadi tokoh penting. Ia menjaga jembatan antara dunia lama dan anak baru.
Hardiknas tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat kelas apa adanya. Ada anak yang belum lancar membaca. Ada guru yang kelelahan. Ada sekolah yang kekurangan buku. Ada kampus yang sibuk mengurus indikator. Ada keluarga yang menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada sekolah. Ada negara yang sering berbicara tentang masa depan, tetapi kurang sabar memperbaiki hal dasar.
Anak-anak baru terus datang. Dunia lama menunggu tanggung jawab orang dewasa. Pendidikan menjadi tempat kita menjawab pertanyaan Arendt: apakah kita cukup mencintai dunia untuk merawatnya, dan cukup mencintai anak-anak untuk menyiapkan mereka memperbaruinya?
Jawaban itu tidak berada di podium upacara. Jawaban itu muncul esok pagi di ruang kelas. Di sana guru memilih antara sekadar menyelesaikan materi dan membuka pikiran. Di sana sekolah memilih antara mengejar kepatuhan dan menumbuhkan daya menilai. Di sana negara memilih antara menghitung pendidikan sebagai belanja dan merawatnya sebagai ikrar.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.





Comments are closed.