Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Sekolah Tak Berarti Belajar

Sekolah Tak Berarti Belajar

sekolah-tak-berarti-belajar
Sekolah Tak Berarti Belajar
service

Siapakah pemanah paling hebat dalam epos Mahabharata? Jika Anda menjawab Arjuna, Anda perlu membaca kisah tentang Ekalaya. Dia tidak setenar Arjuna, tapi kisahnya memberi inspirasi tentang pendidikan sejati. 

Ekalaya adalah anak laki-laki dari kasta Sudra. Keluarganya berasal dari suku pedalaman, pekerjaan utamanya adalah berburu. Namun, itu semua tidak menghentikan mimpi Ekalaya untuk menjadi pemanah hebat. Mimpi itu tak ada hubungannya dengan cita-cita agung khas para pangeran, seperti ingin menjadi ksatria atau raja. Sebagaimana kaumnya, dia hanya ingin berburu dan melindungi domba-domba piaraannya dari mangsa hewan buas. 

Dia kemudian pergi menemui Begawan Dorna, mahaguru seni perang, untuk melamar menjadi muridnya. Begawan Dorna adalah guru para pangeran Kerajaan Hastinapura. Seluruh pangeran, baik dari klan Kurawa maupun Pandawa adalah muridnya. Intinya, Dorna adalah maha guru keluarga kerajaan dalam urusan kebajikan dan seni peperangan.  

Tentu saja, Dorna menolaknya. Di samping dianggap tidak level, ada aturan yang mengikat Dorna. Sebagai mahaguru bagi keluarga kerajaan, dia dilarang untuk mengajar seni bagaimana mengelola pemerintahan, termasuk seni berperang, kepada orang lain. Adalah pelanggaran besar untuk mendidik orang lain sehingga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang setara dengan para pangeran kerajaan. 

Namun, tekad Ekalaya sudah bulat. Dia harus menjadi murid Dorna. Dalam hatinya meyakini bahwa dia adalah murid Dorna. Tanpa sakit hati, tanpa rasa frustrasi, dia pulang dan membuat patung Dorna. Selama bertahun-tahun, dengan keteguhan dan ketekunan, dia berlatih memanah di hadapan patung Dorna, seakan-akan dia sedang dilatih langsung oleh guru idolanya itu.
  
Ibarat kata, hasil tak mengkhianati usaha. Ekalaya akhirnya memiliki keterampilan memanah yang setara, bahkan lebih hebat, dari seluruh pangeran Hastinapura yang menjadi anak didik Begawan Dorna. Cukup dengan mendengar suara gerak sebuah benda, Ekalaya bisa mengarahkan busur panahnya tepat ke sasaran tanpa perlu melihatnya.

Suatu hari, Arjuna tanpa sengaja melihat kehebatan memanah Ekalaya. Arjuna, murid kesayangan Begawan Dorna, yang selama ini dianggap pemanah paling hebat seantero kerajaan, dibuat takjub dengan keterampilan memanah Ekalaya. Diam-diam, dia mengakui bahwa keterampilan memanah Ekalaya lebih hebat darinya. 

Dengan perasaan takjub bercampur heran, Arjuna bertanya kepada Ekalaya, siapa gurunya. Dengan tanpa ragu, Ekalaya menjawab, “Guruku adalah Begawan Dorna, sang mahaguru seni perang para pangeran Hastinapura.” Mungkin Ekalaya tidak tahu bahwa yang berdiri di hadapannya adalah seorang pangeran Hastinapura, murid kesayangan Begawan Dorna. 
Mendengar jawaban ini, Arjuna kecewa juga marah. Bagaimana mungkin Dorna, guru seni perang para pangeran Kerajaan Hastinapura, mengajarkan ilmunya pada orang lain. Ini adalah pengkhianatan yang tidak bisa diterima. 

Dengan bergegas, Arjuna pergi menjumpai Begawan Dorna dan berkata dengan sangat marah, “Apa-apaan ini? Kamu telah mengkhianati kami. Kamu melakukan kejahatan yang tak terampuni. Kamu dilarang mengajar pada orang lain, tapi kamu mengajar memanah orang lain sehingga membuatnya lebih hebat dari aku.”

Melihat kemarahan Arjuna dengan  berondongan tuduhan bertubi-tubi layaknya anak panah, Begawan Dorna hanya bisa melongo dan heran. Dia tidak tahu siapa laki-laki yang mengaku sebagai muridnya dan belajar memanah darinya. Dia berpikir keras, tapi tetap tidak menemukan jawaban siapa orangnya. Memang, sampai guling-guling di tanah pun dia tidak akan tahu karena memang dia tidak memiliki murid lain selain para pangeran Kurawa dan Pandawa. Yang lebih membuatnya heran adalah bahwa orang itu memiliki keterampilan memanah lebih hebat dari Arjuna. Nyaris mustahil!

Akhirnya, keduanya bersepakat untuk menemui Ekalaya. Mendapat kunjungan Begawan Dorna, Ekalaya merasa sangat bahagia. Dadanya seakan mau meledak dalam keriangan dan kebahagiaan yang begitu tiba-tiba. Dia menyambutnya dengan segala penghormatan dan keagungan yang bisa diberikannya. Menjawab pertanyaan Begawan Dorna bagaimana dia bisa memiliki keterampilan memanah yang begitu hebat, Ekalaya mengajak dua orang tamu terhormatnya itu ke patung Dorna buatan tangannya. Di depan patung itu dia menjelaskan,

“Izin, Guru,” Ekalaya memulai penjelasannya. Mungkin dia ketularan para pejabat Indonesia sedang rakor yang setiap memulai pembicaraan selalu diawali dengan kata “izin”. “Saya berlatih memanah selama bertahun-tahun tanpa henti. Setiap saat pikiran saya hanya fokus untuk menjadi pemanah yang hebat. Dengan patung Guru, saya merasa langsung diawasi oleh Guru. Gurulah yang mendidik saya. Saya tidak ingin menjadi murid yang mengecewakan Guru. Saya hanya makan dan istirahat secukupnya, sekedar untuk memulihkan tenaga agar bisa berlatih kembali. Dengan segala kerendahan hati, ampuni saya Guru jika hingga saat ini belum bisa menjadi muridmu yang membanggakan.”

Ekalaya berbicara di depan Begawan Dorna seakan-akan dia adalah murid Dorna sesungguhnya.  Mendengar penjelasan itu, Begawan Dorna hanya manggut-manggut. Dorna memang seorang Begawan, tokoh agama, tapi dia juga ahli strategi perang. Sejurus kemudian, Begawan Dorna berkata, “Ekalaya, karena kamu mengaku sebagai muridku, maka kamu harus memberiku guru dhaksina. Guru dhaksina adalah hadiah atau bayaran yang diberikan oleh seorang murid kepada guru yang telah mendidiknya.

Ekalaya yang sejak lama bermimpi menjadi murid Begawan Dorna menganggap bahwa permintaan itu adalah tanda bahwa dia telah diterima menjadi murid Begawan Dorna. Karenaya, dengan seluruh penghormatan, Ekalaya berkata, “Guru dhaksina apa yang Guru inginkan, pasti akan saya berikan.”

“Aku ingin jari jempol tangan kananmu,” jawab Begawan Dorna.

Ekalaya tahu persis bahwa tanpa jari jempol tangan kanan, dia tidak lagi bisa memanah. Sekalipun demikian, tanpa keraguan sedikitpun, Ekalaya memotong jempol tangan kanannya dan dihaturkan kepada sang Begawan. 

***

Kisah Ekalaya di atas rasanya patut untuk kita renungkan, terutama saat kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Kisah ini memberi inspirasi bukan pada akhir ceritanya, tapi tentang bagaimana sesungguhnya hakikat pendidikan.
 
Di tahun 2013, Lant Pritchett dan Rukmini Banerji menerbitkan sebuah laporan assessment hasil pendidikan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan judul Schooling is not Education. Di awal laporannya, Pritchett dan Banerji membuat pernyataan yang sangat menohok, bahwa selama ini, upaya kita dalam dunia pendidikan lebih terfokus menggiring anak-anak pergi ke sekolah. Dalam banyak hal, upaya itu berhasil. Persentase anak bersekolah semakin meningkat setiap tahun. Sayangnya, data-data menunjukkan bahwa bersekolah tidak otomatis belajar.

Banyak anak yang setiap pagi memasuki pintu kelas, tapi tidak belajar apa pun. Mereka mungkin belajar, tapi hanya mempelajari sebagian kecil silabus. Mereka menyelesaikan sekolah dasar tanpa mampu memahami satu paragraf pun, atau melakukan penjumlahan sederhana, atau membaca jam. 

Kini saatnya kita mulai menggeser fokus perhatian dari schooling (bersekolah) ke learning (belajar). Ini bukan berarti kita mengabaikan institusi sekolah. Sama sekali tidak! Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ukuran pendidikan tidak lagi bisa disandarkan berapa banyak sekolahan dan berapa tinggi angka partisipasi. Karena, di balik angka-angka itu, bisa jadi yang ada hanyalah antrian anak memasuki ruang kelas tanpa mengalani proses belajar yang hakiki.

Kisah Ekalaya mengingatkan kita semua bahwa belajar tidak melulu tentang bersekolah di lembaga pendidikan formal. Pembelajaran yang hakiki membutuhkan rasa ingin tahu (curiosity), usaha keras (effort), dan ketekunan berlatih (practice), bukan semata-mata pendaftaran (enrollment). Banyak sekolah unggulan  yang memiliki kualitas pembelajaran bagus, tapi sekolah-sekolah ini tidak terjangkau bagi ribuan Ekalaya. Tidak jarang, sekolah unggulan ini malah mengeksklusi para Ekalaya yang sebenarnya justru sangat memerlukan pendidikan.

Sekolah-sekolah unggulan yang mahal itu hanya bisa dimasuki para putra sultan. Pintu gerbangnya dijaga oleh para Dorna yang menolak anak-anak kasta rendah untuk memasukinya. Kisah Dorna yang menolak mendidik Ekalaya merefleksikan bahwa sekolahan bisa menjadi institusi pendidikan yang mengeksklusi anak-anak berdasarkan status sosial dan ekonomi. Tapi, Ekalaya sudah membuktikan bahwa belajar tidak selalu ada di sekolahan, sebuah kisah kuno yang dibuktikan secara ilmiah oleh Pritchett dan Banerji. 

Ekalaya memberi pelajaran berharga pada kita bahwa kita tetap bisa belajar, dari manapun kita berasal. Mungkin sekolah unggulan menolak kita, tapi kapasitas manusia untuk belajar jauh lebih kokoh dan kenyal daripada seribu hambatan institusi pendidikan. Jadi, wahai anak-anak kasta sudra, mari kita belajar dengan keteguhan dan ketekunan!

Selamat Hari Pendidikan Nasional!    


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Ahmad Inung
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kemenag RI

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.