Sat,9 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Anak Tidak Mau Salim saat Ketemu Orang di Hari Lebaran, Perlukah Dipaksa? Ini Kata Ustazah

Anak Tidak Mau Salim saat Ketemu Orang di Hari Lebaran, Perlukah Dipaksa? Ini Kata Ustazah

anak-tidak-mau-salim-saat-ketemu-orang-di-hari-lebaran,-perlukah-dipaksa?-ini-kata-ustazah
Anak Tidak Mau Salim saat Ketemu Orang di Hari Lebaran, Perlukah Dipaksa? Ini Kata Ustazah
service

Jakarta

Momen Lebaran biasanya identik dengan tradisi salim, Bunda. Namun, tidak semua anak merasa nyaman untuk melakukannya, terutama jika mereka masih kecil atau belum terbiasa.

Salim sendiri merupakan kebiasaan mencium tangan yang diperbolehkan dalam agama Islam. Menurut Dosen Pendidikan Agama Islam Bidang Anak, Dewasa, Dakwah, dan Sosial di UPNVJ, Ustazah Iffah Latifa, salim bisa dilakukan sebagai bentuk menghormati orang tua, guru, atau ulama.

Meski begitu, salim yang terlalu berlebihan sebaiknya dihindari dalam Islam. Terlebih lagi kalau sampai terlihat seperti bentuk pemujaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Salim atau kebiasaan mencium tangan dalam Islam diperbolehkan jika tujuannya untuk menghormati orang tua, guru, atau ulama, selama tidak berlebihan dan tidak dianggap sebagai bentuk pemujaan. Namun, jika membawa unsur penghormatan yang berlebihan atau menyerupai tindakan syirik, maka dilarang,” tuturnya kepada HaiBunda, beberapa waktu lalu.

Ustazah Iffah juga menjelaskan bahwa salim sebenarnya bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia. Kebiasaan ini biasanya sebagai sapaan dan bentuk penghormatan saat bertemu, bukan sesuatu yang memaksa anak.

Jadi, kalau anak tidak mau salim saat ketemu orang di hari Lebaran, perlukah kita memaksanya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Tak sedikit anak yang merasa canggung atau enggan untuk salim saat Lebaran. Inilah yang membuat orang tua ingin tahu, apakah mereka harus memaksa anak untuk melakukannya?

Ustazah Iffah menyebut bahwa jika anak tidak mau salim, sebaiknya jangan dipaksakan ya, Bunda. Salim bukan kewajiban agama, melainkan bentuk penghormatan kepada orang lain.

“Anak yang tidak mau salam jangan dipaksakan, karena bukan kewajiban agama, hanya saja dalam pergaulan, salim sebagai tanda penghormatan seseorang kepada orang lain saat pertama bertemu dalam sebuah lingkungan,” ungkapnya.

Walaupun tidak diwajibkan, salim tetap menjadi salah satu adab yang biasa dilakukan saat bertemu orang lain. Ini termasuk sifat tahiyyah dan tawadhu yang mengajarkan anak bersikap hormat dan rendah hati.

“Memang dalam agama tidak dianjurkan, hanya saja adab kepada orang tua untuk menyapa saat bertemu dengan mencium tangan adalah salah bentuk dari sifat tahiyyah (penghormatan) dan tawadhu (rendah hati),” ungkapnya.

Selain itu, Ustazah Iffah menyampaikan bahwa sunnah dalam Islam adalah mengucapkan salam sebagai doa kepada sesama Muslim. Menjawab salam pun merupakan kewajiban.

“Yang dianjurkan dalam agama adalah mengucapkan salam sebagai bentuk do’a kepada sesama Muslim bersifat sunnah dan menjawabnya adalah sebuah kewajiban,” pungkasnya.

Mengajarkan anak salim atau cium tangan

Mengajarkan anak untuk salim memang butuh kesabaran ya, Bunda. Ustazah Iffah membagikan beberapa cara yang bisa dicoba orang tua supaya anak lebih mudah melakukannya. Simak selengkapnya.

  1. Tunjukkan dengan contoh. Anak sering meniru apa yang dilakukan orang tua. Jadi, biasakan diri Bunda salim kepada orang yang lebih tua supaya anak bisa melihat dan menirunya.
  2. Latih sejak kecil. Supaya salim menjadi kebiasaan anak, ajarkan mereka sejak usia dini tanpa paksaan.
  3. Berikan penjelasan. Ajarkan pada anak bahwa salim merupakan bentuk penghormatan dan doa untuk mendapatkan berkah.
  4. Gunakan cara yang positif. Alih-alih memaksa, berikan pujian atau apresiasi saat anak mau salim, ya.
  5. Ciptakan lingkungan yang mendukung.
  6. Biasakan anak ikut dalam aktivitas keagamaan. Bunda bisa mengajaknya menghadiri pengajian atau acara keluarga yang menanamkan nilai-nilai Islam serta mengajarkan sikap sopan santun.
  7. Ceritakan tentang keutamaan dalam Islam. Sampaikan kisah-kisah inspiratif tentang menghormati orang tua, guru, atau yang lebih tua supaya anak mengerti maknanya.

“Dengan pendekatan yang lembut dan konsisten, anak akan terbiasa melakukan salim dengan kesadaran dan rasa hormat,” jelas Ustazah Iffah.

Itulah penjelasan terkait anak tidak mau salim saat ketemu orang di hari Lebaran. Semoga informasinya bisa membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.