Jakarta, Arina.id – Kejutan kembali mewarnai Piala Dunia 2026. Belanda harus mengakhiri langkahnya lebih cepat setelah takluk 2-3 dalam adu penalti dari Maroko usai bermain imbang 1-1 selama 120 menit pada babak 32 besar. Kekalahan ini bukan sekadar soal kegagalan di adu penalti, melainkan cerminan bagaimana Maroko kembali membuktikan diri sebagai kekuatan elite baru sepak bola dunia.
Bagi Belanda, hasil ini menjadi salah satu eliminasi paling menyakitkan dalam sejarah modern mereka. Sempat unggul melalui gol Cody Gakpo pada menit ke-72, De Oranje gagal mempertahankan keunggulan setelah Maroko menyamakan kedudukan lewat sundulan Issa Diop pada masa injury time. Momentum pertandingan pun berubah total sebelum akhirnya Maroko memastikan kemenangan melalui adu penalti.
Kunci kemenangan Maroko: tidak panik, terus menekan
Jika ditarik sepanjang pertandingan, kemenangan Maroko bukanlah sebuah keberuntungan. Statistik permainan justru menunjukkan mereka lebih dominan dalam penguasaan bola, jumlah tembakan, hingga peluang berkualitas (expected goals).
Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi bahkan mengaku cukup terkejut melihat Belanda memilih bermain dengan pendekatan yang lebih defensif.
Menurut Ouahbi, pilihan taktik Belanda justru menunjukkan bahwa lawannya sudah sangat menghormati kekuatan Maroko.
“Maroko kini telah mendapatkan rasa hormat dari semua orang,” kata Ouahbi seusai pertandingan. Ia menilai timnya memang pantas lolos karena mampu mengendalikan sebagian besar jalannya laga.
Sejak awal pertandingan, Maroko tampil agresif melalui kombinasi kreativitas Brahim Díaz, mobilitas Ismael Saibari, serta ancaman konstan dari Achraf Hakimi di sisi kanan. Mereka terus memaksa Belanda bertahan lebih dalam daripada biasanya.
Koeman kehilangan identitas Belanda
Ironisnya, pelatih Ronald Koeman justru meninggalkan filosofi menyerang yang selama ini melekat pada sepak bola Belanda. Ia memasang lima bek dan mengorbankan kreativitas lini tengah dengan mencadangkan beberapa pemain penting demi meredam serangan Maroko.
Pendekatan itu sempat berhasil hingga menit-menit akhir, tetapi membuat Belanda kesulitan menguasai pertandingan.
Usai laga, Koeman tetap membela keputusannya. Ia mengatakan akan mengambil keputusan yang sama bila pertandingan diulang karena menganggap sistem tersebut mampu mengurangi peluang Maroko. Namun fakta di lapangan menunjukkan Maroko tetap menciptakan lebih banyak ancaman sepanjang pertandingan.
Bounou kembali menjadi pembeda
Seperti di Piala Dunia 2022, sosok yang kembali menjadi pahlawan adalah penjaga gawang Yassine Bounou. Penyelamatan krusialnya terhadap tendangan penalti Crysencio Summerville membuka jalan bagi Saibari untuk mencetak penalti penentu kemenangan.
Bounou sekali lagi memperlihatkan reputasinya sebagai spesialis adu penalti, sementara para eksekutor Belanda justru tampil di bawah tekanan dengan tiga kegagalan dalam babak tos-tosan.
Maroko bukan lagi kuda hitam
Keberhasilan mencapai semifinal Piala Dunia 2022 ternyata bukan pencapaian sesaat. Di bawah Ouahbi, Maroko kini tampil dengan pendekatan yang lebih menyerang tanpa kehilangan disiplin bertahan. Kombinasi pemain berpengalaman seperti Hakimi dengan generasi baru membuat Atlas Lions berkembang menjadi salah satu tim paling lengkap di turnamen.
Ouahbi bahkan menegaskan bahwa keberhasilan empat tahun lalu telah mengubah mentalitas para pemainnya. Mereka kini datang ke Piala Dunia bukan sekadar ingin membuat kejutan, melainkan merasa mampu mengalahkan siapa pun.
Jalan berat menanti Kanada
Kemenangan atas Belanda membawa Maroko menghadapi Kanada pada babak 16 besar. Jika mampu mempertahankan intensitas permainan seperti saat menyingkirkan Belanda, Maroko memiliki peluang besar melanjutkan perjalanan mereka.
Sebaliknya bagi Belanda, kegagalan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai arah proyek Koeman. Tim yang dipenuhi pemain berkualitas justru kehilangan identitas ketika menghadapi lawan yang berani menekan lebih tinggi. Dalam sepak bola modern, sekadar bertahan untuk menjaga keunggulan tidak lagi cukup. Maroko menunjukkan bahwa keberanian menguasai permainan dan ketenangan di bawah tekanan kini menjadi modal utama untuk melangkah jauh di Piala Dunia.




Comments are closed.